Pelajar Sekolah Rakyat Sragen Meninggal Dunia, Sempat Minta Pulang Temui Orang Tua Sebelum Dirawat
Putradi Pamungkas September 11, 2026 08:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto

TRIBUNSOLO.COM, SRAGEN - Pelajar Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Anisa Nur Fadilah, meninggal dunia setelah sempat mengalami demam dan menjalani pemeriksaan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Pelajar kelas XI A asal Desa Kedawung, Kecamatan Mondokan, Kabupaten Sragen, itu meninggal dunia di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen pada Minggu (6/9/2026).

Sebelum meninggal dunia, Anisa sempat meminta pulang dan dijemput orangtuanya dari asrama Sekolah Rakyat.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sragen Giyatno mengatakan, Anisa mulai mengalami badan panas pada Sabtu (4/9/2026).

"Sebelum meninggal dunia, dia sakit panas, kemudian almarhumah kami periksakan ke Puskesmas Mondokan dan diberi obat dan kembali sekolah," kata Giyatno, Jum'at (11/9/2026).

Giyatno mengatakan, pada malam harinya Anisa kembali mengalami panas badan.

Pihak sekolah kemudian hendak membawa Anisa ke puskesmas.

Namun, pelajar tersebut tidak mau dan meminta pulang ke rumah.

Orangtua Anisa kemudian datang menjemputnya dari asrama.

Saat dijemput, Anisa masih tampak senang dan ceria. Ibunya kemudian memberikan obat parasetamol sisa dari pemeriksaan sebelumnya di puskesmas.

Setelah mengonsumsi obat tersebut, demam Anisa mereda.

Karena menganggap kondisinya membaik dan tidak ada keluhan lain, orangtuanya tidak membawanya ke fasilitas kesehatan malam itu.

"Malam harinya anak nya masih panas mau dibawa ke puskesmas tidak mau, minta pulang dan dijemput orang tuanya pulang ke rumah," kata dia.

SEKOLAH RAKYAT - Ilustrasi suasana Sekolah Rakyat siswa. Pelajar Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Sragen, Anisa Nur Fadilah, meninggal dunia setelah sempat mengalami demam dan menjalani pemeriksaan di sejumlah fasilitas kesehatan, Minggu (6/9/2026).
SEKOLAH RAKYAT - Ilustrasi suasana Sekolah Rakyat siswa. Pelajar Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi Kabupaten Sragen, Anisa Nur Fadilah, meninggal dunia setelah sempat mengalami demam dan menjalani pemeriksaan di sejumlah fasilitas kesehatan, Minggu (6/9/2026). (TribunSolo.com/ Andreas Chris)

Kondisi Anisa Kembali Menurun

Giyatno mengatakan, pada Minggu (7/9/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, kondisi Anisa kembali mengalami panas.

Orangtuanya kemudian membawa Anisa ke Puskesmas Mondokan untuk mendapatkan pemeriksaan.

Namun, karena Puskesmas Mondokan penuh, Anisa dirujuk ke Puskesmas Sukodono.

Setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Sukodono, Anisa kemudian dirujuk ke RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen.

Anisa masuk ke IGD rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.

Sekitar pukul 13.00 WIB, dia kemudian masuk ke ruang rawat inap.

Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, kondisi kesehatan Anisa kembali menurun hingga akhirnya meninggal dunia.

"Korban meninggal dunia saat dirawat di rumah sakit, dan jenazah sudah dimakamkan pada Minggu malam," kata dia.

Baca juga: Sekolah Rakyat Sukoharjo Diawasi Ketat, Sistem Asrama Disiapkan Cegah Bullying

Anisa Punya Riwayat Hipertiroid

Kepala Desa Kedawung, Riki Antono, mengatakan Anisa Nur Fadilah memiliki riwayat penyakit hipertiroid atau gangguan pada kelenjar tiroid.

Menurut Riki, Anisa sudah beberapa kali mengalami sakit ketika Sekolah Rakyat masih menempati lokasi sebelumnya.

"Sakitnya memang sudah lama. Almarhumah memiliki riwayat penyakit hipertiroid atau kelenjar tiroid sejak sebelum masuk sekolah," ujar Riki.

Riki kemudian mendorong evaluasi total terhadap sistem pengawasan kesehatan di lingkungan Sekolah Rakyat.

Menurut pengamatannya, mobilitas siswa asrama yang sakit cukup tinggi.

Ia menyebut terdapat sekitar 5 hingga 10 siswa yang harus diantar berobat ke puskesmas menggunakan kendaraan operasional sekolah.

"Kami minta ada evaluasi mendalam di bidang kesehatan. Kalau bisa, di dalam sekolah atau asrama didirikan klinik khusus dengan penanganan medis yang memadai. Mengingat anak-anak tinggal di asrama dan jauh dari pengawasan langsung orang tua," tegas Riki.

Selain menyediakan klinik internal, Riki juga menyarankan agar proses seleksi penerimaan siswa baru lebih selektif dalam memetakan riwayat penyakit calon peserta didik.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar siswa yang memiliki kondisi medis kronis dapat memperoleh perhatian dan pengawasan ekstra selama tinggal di asrama.

"Di dalam sekolah ada berbagai siswa yang memiliki kondisi yang sepesial, di sana tidak hanya yang kurang mampu saja, tapi di sekolah itu ada anak yang nakal dan putus sekolah, sehingga diperlukan klinik internal yang didalammya ada dokter dengan psikologi klinis," kata dia.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.