SERAMBINEWS.COM, WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dirinya tidak menyesali keputusan memulai perang terhadap Iran. Bahkan, Trump mengatakan akan mengambil keputusan yang sama apabila diberi kesempatan untuk mengulanginya.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News, Laura Ingraham, yang ditayangkan Kamis (10/9/2026) waktu setempat. Trump ditanya apakah dirinya mempertimbangkan dampak perang terhadap pemilu sela atau midterm elections Amerika Serikat yang akan digelar 3 November mendatang.
"Saya tidak percaya pada kata 'penyesalan'. Anda mungkin sesekali mempertanyakan diri sendiri," ujar Trump.
Namun, Trump kemudian menegaskan bahwa dirinya tetap yakin dengan keputusan yang telah diambil.
"Jika saya harus melakukannya lagi, saya akan melakukan hal yang persis sama," katanya.
Trump selama ini membingkai operasi militer terhadap Iran sebagai upaya untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Ia juga menolak anggapan bahwa perang yang berlangsung berbulan-bulan mulai melemahkan dukungan terhadap pemerintahannya.
"Saya pikir mereka tidak kehilangan semangat. Saya rasa mereka sangat bangga atas fakta bahwa saya tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir," ujar Trump.
Baca juga: IRGC Klaim Hancurkan Kapal Nirawak Amerika Serikat di Selat Hormuz, Ketegangan Iran-AS Makin Memanas
Perang Amerika Serikat dan Iran, yang dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran, kini telah memasuki bulan ketujuh.
Konflik tersebut berkembang menjadi perang regional dengan serangan balasan Iran terhadap sasaran Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Sedikitnya 18 personel militer AS telah tewas dalam konflik tersebut.
Situasi juga semakin rumit setelah pertempuran meluas ke jalur pelayaran strategis. Selat Hormuz dan kawasan Bab el-Mandeb menghadapi gangguan akibat aksi militer Iran dan kelompok Houthi yang didukung Teheran.
Associated Press melaporkan Amerika Serikat telah membuat kemajuan dalam upaya membuka kembali Selat Hormuz dan menekan ekspor minyak Iran. Namun, konflik masih jauh dari selesai dan belum terdapat jalan keluar politik yang jelas.
Trump dalam beberapa hari terakhir memberikan pernyataan yang berubah-ubah mengenai kapan perang akan berakhir.
Pada Rabu (9/9), Trump mengatakan perang akan berakhir "segera" setelah pemilu sela pada 3 November. Sehari kemudian, dalam wawancara dengan NewsNation, ia melonggarkan prediksi tersebut dengan mengatakan konflik bahkan mungkin berakhir sebelum pemilu.
"Saya tidak tahu apakah mereka akan mampu bertahan. Namun, masalah ini akan selesai setelah pemilu. Atau mungkin lebih cepat," ujar Trump.
Pernyataan itu disampaikan Trump ketika membahas tekanan ekonomi yang semakin berat terhadap Iran akibat kampanye sanksi dan tekanan AS.
Di sisi lain, laporan mengenai persiapan militer AS menunjukkan bahwa pemerintahan Trump juga bersiap menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan. Kehadiran angkatan laut AS di kawasan Teluk terus dipertahankan, sementara tekanan terhadap Iran melalui blokade dan sanksi ekonomi tetap berjalan.
Baca juga: Israel Ancam Bombardir Fasilitas Energi Iran Jika Diserang, Ketegangan Makin Memanas di Timur Tengah
Perkembangan militer terbaru juga menunjukkan bahwa Iran masih mampu melakukan serangan balasan.
Serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania dilaporkan menyebabkan sejumlah pesawat tempur AS mengalami kerusakan. Laporan sebelumnya menyebut sekitar delapan F-15 mengalami kerusakan ringan dan satu pesawat A-10 kehilangan bagian sayap setelah terkena serangan.
Trump membantah bahwa serangan tersebut menimbulkan kerusakan berarti terhadap kekuatan militer AS.
Di kawasan Laut Merah, kelompok Houthi juga meningkatkan aktivitas militernya. Pada Kamis (10/9), kelompok tersebut dilaporkan mengambil alih pelabuhan Mokha di Yaman, sebuah lokasi strategis yang dapat meningkatkan kemampuan mereka mengancam kapal yang melintas di sekitar Selat Bab el-Mandeb.
Perang Iran kini tidak hanya menjadi persoalan militer dan politik, tetapi juga menimbulkan tekanan besar terhadap perekonomian global.
Harga minyak Brent melonjak lebih dari 6 persen pada Kamis dan sempat menembus US$108 per barel sebelum ditutup di sekitar US$107,63. Harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) juga naik 6,7 persen menjadi US$102,48 per barel.
Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akibat konflik yang terus berlangsung.
Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata mencapai sekitar US$4,22 per galon pada 9 September. Angka tersebut naik dari US$4,01 sebulan sebelumnya dan US$3,19 pada periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan harga energi menjadi persoalan sensitif bagi Partai Republik menjelang pemilu sela. Biaya bahan bakar yang meningkat berpotensi memperburuk tekanan inflasi dan menambah beban rumah tangga Amerika.
Baca juga: Video - Pangkalan AS di Yordania Dihantam Rudal Iran, Hanggar Jet Tempur F-35 & F-15 Rontok!
Tekanan politik terhadap Trump juga semakin terlihat.
Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis awal September menunjukkan hanya sekitar 25 persen warga Amerika yang menilai perang dengan Iran layak diperjuangkan. Angka tersebut menjadi indikasi bahwa perang berpotensi menjadi isu politik yang merugikan Partai Republik menjelang pemilu sela.
Trump sendiri berusaha meyakinkan basis pendukungnya bahwa perang tersebut diperlukan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia juga menuding Teheran berusaha memanfaatkan dampak ekonomi perang untuk memengaruhi hasil pemilu AS.
Namun, meningkatnya harga bahan bakar dan kekhawatiran terhadap inflasi membuat perang semakin sulit dipisahkan dari isu ekonomi domestik.
Di tengah tekanan tersebut, Trump berusaha menggalang dukungan Partai Republik menjelang pemilu sela.
Dalam konvensi Partai Republik di Dallas, Trump bahkan menjanjikan pembayaran US$5.000 kepada setiap warga Amerika dewasa jika Partai Republik berhasil mempertahankan kendali atas DPR dan Senat.
Proposal tersebut diperkirakan dapat menelan biaya lebih dari US$1 triliun dan langsung menuai pertanyaan mengenai sumber pendanaan serta dasar hukumnya.
Pemilu sela 3 November menjadi sangat penting bagi Trump. Partai Republik saat ini berupaya mempertahankan mayoritasnya di Kongres, sementara Partai Demokrat berharap isu perang, harga energi, dan kondisi ekonomi dapat meningkatkan peluang mereka merebut kursi-kursi yang diperebutkan.
Dengan perang memasuki bulan ketujuh, Trump menghadapi dilema antara mempertahankan tekanan militer terhadap Iran dan mencari jalan keluar sebelum konflik semakin membebani ekonomi serta posisi politik Partai Republik.
Trump mengatakan perang dapat berakhir sebelum pemilu, tetapi juga menyatakan bahwa konflik kemungkinan baru selesai setelah pemungutan suara 3 November.
Sementara itu, perkembangan di lapangan menunjukkan perang masih berlangsung. Gangguan terhadap jalur energi utama, serangan terhadap kapal dan pangkalan militer, serta meningkatnya harga minyak menunjukkan bahwa konflik belum memasuki tahap penyelesaian yang jelas.
Bagi Trump, persoalannya kini bukan hanya bagaimana mengklaim kemenangan atas Iran, tetapi juga bagaimana mengakhiri perang tanpa menimbulkan dampak politik dan ekonomi yang lebih besar menjelang pemilu sela.
Untuk saat ini, Trump tetap mempertahankan satu sikap: ia tidak menyesali keputusan memulai perang tersebut dan mengaku akan melakukan hal yang sama jika harus memilih sekali lagi.