Laporan Wartawan TribunJatim.com, David Yohanes
TRIBUNJATIM.COM, TULUNGAGUNG - Kekeringan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, semakin meluas. Sebelumnya, kekurangan air bersih terjadi di 5 desa. Kini jumlahnya bertambah menjadi 8 desa.
Yang menjadi perhatian, kekeringan mulai merambah wilayah kaki Gunung Wilis di bagian barat laut Tulungagung yang selama ini dikenal memiliki banyak sumber mata air.
Tiga desa yang kini mengalami kekurangan air bersih tersebut yakni Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Desa Picisan, Kecamatan Sendang, dan Desa Sidem, Kecamatan Gondang.
“Tiga desa itu sudah minta kiriman air bersih, sudah dibantu sama Baznas dan BBWS,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung, Sudarmaji, Jumat (11/9/2026).
Sumber Air Mulai Menyusut
Kekeringan di Desa Sidem terjadi di 1 dusun yang sulit dijangkau kendaraan.
Pengiriman air bersih harus dilansir, karena mobil tidak bisa masuk.
Warga berharap ada bantuan sumur bor sebagai solusi.
“Sumber airnya sudah debitnya sangat kecil, tidak mencukupi untuk kebutuhan,” tambahnya.
Baca juga: 24 Daerah Jatim Darurat Kekeringan, DPRD Minta Mitigasi Bencana Dilakukan Sejak Dini
Sementara di wilayah selatan, Dusun Tumpuk, Desa Besuki, Kecamatan Besuki juga mengalami kekurangan air.
BPBD telah mengirimkan bantuan, bergilir dengan desa lain yang sudah lebih dulu terdampak kemarau ekstrem.
Sebelumnya ada 5 desa yang lebih dulu mengalami kekurangan air bersih, semuanya ada di pegunungan selatan.
Karena ada di ketinggian, sumber air sangat tergantung pada kiriman air hujan.
Dua desa ada di Kecamatan Tanggunggunung, yaitu Kresikan dan Pakisrejo.
Tiga desa lainnya adalah Desa Keboireng Kecamatan Besuki, Desa Kalidawe Kecamatan Pucanglaban, dan Desa Sebalor Kecamatan Bandung.
“Kalau hujan tidak turun, maka desa-desa itu akan terus membutuhkan bantuan air bersih,” tegas Sudarmaji.
Kepala Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Agil Wuisan, mengatakan titik yang mengalami kekurangan air bersih ada di 9 RT di Dusun Sumberingin,
Lokasinya ada di ketinggian sehingga sumber air sangat dalam, dan debitnya terus berkurang.
Namun kekurangan air ini lebih pada kebutuhan untuk peternakan sapi perah.
“Ada sekitar 300 warga yang terdampak. Di sana memang sentra peternakan sapi perah,” ungkapnya.
Peternakan sapi perah memang membutuhkan air, sementara sumber air dari sumur sudah tidak bisa mencukupi.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, warga masih bisa tercukupi.
Agil khawatir jika hujan tak kunjung turun, maka kondisi kesulitan air bersih semakin memburuk.
"Tahun lalu sudah mengalami kekeringan juga. Harapan segera turun hujan agar kondisinya membaik," ucapnya.
Kemarau tahun 2024 menyebabkan 20 desa di 10 kecamatan di Kabupaten Tulungagung kekurangan air bersih.
Sementara 2025 terjadi kemarau basah, sehingga desa yang kekurangan air bersih turun hanya 9 desa di 6 kecamatan.
Bantuan sumur bor di desa-desa rawan kekeringan juga membuat semakin sedikit desa yang kesulitan air bersih.
Misalnya, Polres Tulungagung membuat 22 sumur bor di desa-desa rawan kekeringan di tahun 2025.
Bantuan juga datang dari berbagai pihak, seperti Alumni Unair, maupun tokoh kepolisian asli Tulungagung, Irjen Gupuh Setiyono.
Dampaknya langsung terasa, desa-desa yang langganan minta bantuan air bersih seketika berhenti minta bantuan.