Langit Sunyi dan Tanah Kering, Warga Pringsewu Salat Istisqa Memohon Hujan
taryono September 11, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Langit yang tak kunjung menurunkan hujan dan tanah yang semakin kering menjadi gambaran kondisi yang dirasakan masyarakat Pringsewu, Lampung.

Baca juga: Tak Ada Saksi Mata, Detik-detik Bripda Rizki Jatuh dari Kapal Masih Misterius

Di tengah situasi tersebut, ratusan jemaah berkumpul di Lapangan Pemkab Pringsewu, Jumat (11/9/2026), untuk melaksanakan salat Istisqa atau salat sunah memohon turunnya hujan.

Salat Istisqa digelar Pemerintah Kabupaten Pringsewu sebagai salah satu ikhtiar bersama menghadapi kondisi kekeringan. Jamaah yang hadir terdiri dari jajaran pemerintah daerah, anggota DPRD, aparat TNI-Polri, instansi vertikal, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga.

Salat tersebut dipimpin KH Sujadi Saddat sebagai imam. Sementara Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas bertindak sebagai khatib dan menyampaikan pesan tentang makna kekeringan yang tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kehidupan manusia.

Dalam khotbahnya, Riyanto menggambarkan dampak kekeringan yang mulai terlihat di berbagai kondisi lingkungan.

“Tanah yang kering, tanaman yang layu, sungai yang menyusut, dan sumur yang semakin dangkal. Kita menunggu tetesan air dari langit,” kata Riyanto.

Menurutnya, keadaan tersebut semestinya tidak hanya mendorong masyarakat untuk memohon hujan, tetapi juga melakukan introspeksi. Ia mengajak jamaah melihat persoalan kekeringan dari sisi spiritual dengan memperbaiki hubungan kepada Allah SWT.

“Namun marilah kita bertanya kepada diri sendiri jangan-jangan yang kering bukan hanya tanah kita, tetapi juga hati kita,” ujarnya.

Riyanto mengatakan Salat Istisqa menjadi momentum untuk menyadari keterbatasan manusia. Menurut dia, manusia datang memohon hujan bukan karena memiliki kekuatan atas alam, melainkan karena membutuhkan pertolongan dan rahmat Allah SWT.

“Kita datang melaksanakan salat Istisqa ini bukan karena kita memiliki kekuatan, tetapi justru karena menyadari betapa lemahnya diri kita,” katanya.

Ia kemudian mengingatkan masyarakat bahwa kondisi kehidupan yang terasa semakin sulit dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak istighfar dan taubat.

Menurutnya, upaya memperbaiki keadaan tidak cukup hanya dengan menunggu perubahan cuaca.

“Ketika kehidupan terasa sempit, ketika langit seakan menutup pintunya, ketika bumi kehilangan kesuburannya, maka salah satu pintu pertama yang harus kita ketuk adalah pintu istighfar dan taubat,” ujar Riyanto.

Ia juga mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut untuk memperbaiki perilaku sehari-hari. Menurut Riyanto, doa meminta hujan perlu berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama dan peningkatan amal.

“Setelah meminta hujan kepada Allah, mari kita menjadi manusia yang pantas menerima rahmat-Nya. Mari kita hidupkan kembali masjid, kita perbanyak sedekah, kita tinggalkan maksiat, kita jaga lisan,” ajaknya.

Selain itu, Riyanto meminta masyarakat memperkuat kepedulian sosial, terutama kepada kelompok yang membutuhkan.

Ia mengajak warga menghormati orang tua, menyayangi anak yatim, membantu masyarakat miskin, serta menjaga hubungan baik dengan sesama.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Pringsewu Umi Laila bersama jajaran Pemkab Pringsewu. Sejumlah pejabat dan unsur Forkopimda juga hadir, di antaranya anggota DPRD Provinsi Lampung Syukron Muchtar, Ketua DPRD Pringsewu Suherman beserta anggota DPRD, Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra, Wakapolres Pringsewu Kompol Samsuri, Dandim 0424, Kejari Pringsewu, serta Kepala Kantor Kementerian Agama Pringsewu Khuzil Afwa Kahuripan.

Ketua MUI Pringsewu KH Hambali bersama sejumlah tokoh agama dan masyarakat juga mengikuti salat tersebut. Kehadiran berbagai unsur itu menunjukkan ikhtiar menghadapi kekeringan dilakukan melalui doa bersama sekaligus ajakan untuk memperkuat kepedulian sosial.

Riyanto berharap masyarakat tidak berhenti pada pelaksanaan Salat Istisqa, tetapi melanjutkannya dengan memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan meningkatkan amal sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan.

Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.