MUI Tak Percaya Yusril-Abdul Mu'ti 'Menjilat' Prabowo Lewat Buku Islam ala Prabowo: Mereka Akademisi
Endra Kurniawan September 11, 2026 10:19 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, tidak yakin sejumlah tokoh berusaha 'menjilat' Presiden Prabowo Subianto lewat buku 'Islam ala Prabowo'.

Adapun, buku 'Islam ala Prabowo' karya Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas itu diterbitkan Atmosphere Publishing House pada 26 Agustus 2025. Namun, baru ramai diperbincangkan publik sejak awal September 2026.

Tebal buku tersebut mencapai 368 halaman yang mengulas sejarah, riwayat, serta kiprah seorang pemimpin politik dari perspektif yang dinilai belum banyak dibahas di kalangan publik intelektual.

Penulisan buku ini disebut sebagai upaya untuk menggali nilai-nilai, paradigma, napak tilas, sekaligus membaca arah masa depan bangsa yang diemban Prabowo dalam mendorong perjuangan bangsa serta berbagai unsur progresif di dalamnya.

Melalui buku tersebut, pembaca diajak melihat pengaruh nilai moral Islam dalam perilaku politik dan kepemimpinan Prabowo Subianto.

Awalnya, Anwar mengatakan bahwa ada indikasi menjilat dengan adanya buku tersebut, tapi dirinya tidak ingin menuduh siapa pun.

"Bau itu ada (menjilat), tapi saya juga gak bisa menuduh ya, tetapi ada bau itu yang tercium gitu ya, karena ada kepentingan-kepentingan politik sempit ya yang mendorong pihak-pihak tertentu," ungkapnya, Jumat (11/9/2026), dikutip dari YouTube Forum Keadilan TV.

Meski mencium aroma 'penjilat', Anwar menegaskan bahwa dirinya tidak percaya jika sejumlah tokoh melakukan hal demikian.

Seperti Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy, hingga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti melakukan hal demikian.

"Tapi saya yakin Pak Yusril Ihza Mahendra nggak akan melakukan itu, Pak Muhadjir Effendy gak akan berbuat seperti itu, dan Pak Mu'ti, yang ada di situ ya, saya nggak percaya mereka praktik-praktik menjilat itu saya rasa, karena mereka itu akademisi semua kan," jelasnya.

Baca juga: Waketum MUI Sebut Buku Islam ala Prabowo Singgung Perasaan Umat, Minta Judulnya Diubah

Adapun, nama mereka bertiga tercantum di dalam buku tersebut bukan sebagai inisiator atau pihak yang meluncurkan, melainkan sebagai narasumber atau kontributor yang dimintai pandangan soal Prabowo,

Menurut Anwar, ketiganya hanya menyampaikan pandangan yang menurut mereka perlu disampaikan saja.

"Dia hanya melihat apa adanya saja dan dia tafsirkan dari perspektif ajaran Islam," ujarnya.

Anwar pun menyinggung pernyataan Yusril sebelumnya yang menegaskan bahwa dirinya hanya menjalani wawancara untuk keperluan penyusunan buku. Ia mengaku tidak pernah terlibat dalam pembahasan judul maupun proses penggagasan buku tersebut.

Yusril juga mengatakan, setelah diwawancarai tim penyusun, dirinya tidak pernah melihat naskah buku hingga akhirnya diterbitkan.

"Seperti Pak Yusril dalam rilis dia kan menyatakan bahwa secara substansial apa yang ada dalam buku itu, 'meskipun itu adalah hasil wawancara dan tidak dilaporkan lagi kepada saya sebelum cetak', kata beliau ya, 'tapi saya bisa mempertanggungjawabkan apa yang saya sampaikan', kata Pak Yusril kan pada bagian beliau ya," paparnya.

Dengan demikian, Anwar menilai pihak lain juga dapat mempertanggungjawabkan pendapatnya secara akademik.

"Saya rasa yang lain juga bisa mempertanggungjawabkan secara akademik ya. Meskipun ada variasi pendapat, saya rasa itu wajar-wajar saja. Kita itu berbeda karena berbeda informasinya," tuturnya.

Sebelumnya, publik menyoroti sejumlah nama tokoh yang tercantum dalam buku tersebut. Di antaranya ulama sekaligus mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang (TGB) KH Muhammad Zainul Majdi.

Selain itu, terdapat nama Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, serta mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj.

Sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih juga disebut dalam buku tersebut, di antaranya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti serta Menteri Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra.

Namun, sejumlah tokoh yang namanya tercantum di dalamnya menyatakan tidak pernah terlibat sebagai penulis.

Klarifikasi MUI

MUI sebelumnya telah menegaskan buku 'Islam Ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam' bukan produk MUI, setelah muncul anggapan keterkaitan MUI, termasuk Ketua Umum MUI K.H. M. Anwar Iskandar, dengan buku tersebut.

Dalam keterangan resmi tertulis yang ditandatangani Wakil Ketua MUI Cholil Nafis, MUI menyatakan isi, pandangan, narasi, hingga proses penerbitan buku merupakan tanggung jawab pihak yang menerbitkan dan menulisnya.

MUI juga menjelaskan kehadiran Anwar Iskandar dalam Rakornas Baznas RI bukan untuk mewakili atau meluncurkan produk MUI.

"Kehadiran K.H. M. Anwar Iskandar sebagai Ketua Umum MUI, dalam kegiatan yang di dalam rangkaiannya terdapat peluncuran buku tersebut, adalah dalam konteks menghadiri Rakornas Baznas RI sebagai Pembaca Doa," tulis keterangan resmi MUI yang dikutip di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

MUI meminta kehadiran Anwar tidak ditafsirkan sebagai pengakuan bahwa buku “Islam Ala Prabowo” merupakan produk atau program MUI.

MUI juga mengajak pihak-pihak yang terlibat mengedepankan tabayyun, yakni mencari kejelasan dan kebenaran informasi, serta menjaga ukhuwah dan etika komunikasi.

Baca juga: Buku Islam ala Prabowo Tuai Polemik, Ray Rangkuti: Ada Upaya Mengislamisasi Tindakan Prabowo

Lantas, siapa inisiatornya?

Menurut keterangan resmi Baznas yang dikutip Tribunnews.com, buku tersebut diinisiasi Ketua MPR RI sekaligus Sekretaris Dewan Pembina Partai Gerindra Ahmad Muzani dan Ketua Umum MUI K.H. Anwar Iskandar.

Buku setebal 368 halaman itu diterbitkan Atmosphere Publishing House dengan tanggal terbit 14 Juli 2025. Isinya menghimpun pandangan sejumlah tokoh mengenai Prabowo dari perspektif keagamaan, sosial, politik, kepemimpinan, hingga hubungan internasional.

Sejumlah nama yang tercantum sebagai penulis antara lain mantan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang K.H. Muhammad Zainul Majdi, mantan Ketua Umum PBNU K.H. Said Aqil Siroj, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra, serta K.H. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar, pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

Namun, beberapa nama yang tercantum sebagai penulis, di antaranya Tuan Guru Bajang dan Said Aqil, membantah ikut menulis buku tersebut.

Ada pula pihak yang mengaku pernah diwawancarai utusan salah satu penulis, tetapi mengatakan tidak diberi tahu bahwa wawancara itu untuk keperluan penulisan buku.

(Tribunnews.com/Rifqah, Rina Ayu) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.