Keysa Dwi Tantri, Bersiap Bawa Budaya Sumut ke Panggung Nasional
Eti Wahyuni September 11, 2026 10:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berhadapan dengan banyak orang dulunya menjadi hal yang menakutkan bagi Keysa Dwi Tantri. Remaja asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, itu mengaku tumbuh sebagai anak yang pemalu dan sulit membuka diri ketika bertemu orang baru.

Namun perlahan, Keysa memilih keluar dari zona nyamannya. Dunia modeling dan pageant yang baru sekitar satu tahun ditekuninya menjadi ruang bagi remaja berusia 15 tahun itu untuk belajar berbicara, bersosialisasi, hingga membangun kepercayaan diri.

Kini, siswi SMA Negeri 1 Sei Suka, Kabupaten Batubara tersebut bersiap melangkah lebih jauh. Menyandang gelar Miss Youth Sumatera Utara 2026, Keysa akan mewakili Sumatera Utara pada ajang Miss South Indonesia yang digelar di Surabaya, November 2026.

“Dari kecil Keysa tumbuh menjadi anak yang pemalu, takut sekali jumpa orang-orang. Cuma dari situ Keysa belajar, enggak mungkin nih bakal stay di sini aja. Pasti harus meningkat dan harus lebih membangun rasa percaya diri,” ujar Keysa saat berbincang, Rabu (9/9/2026).

Keputusannya mengikuti dunia modeling menjadi salah satu titik perubahan dalam dirinya. Keysa masih mengingat bagaimana gugupnya ia ketika pertama kali harus tampil. Bahkan, ia mengaku sempat seperti kehilangan kata-kata saat berada di hadapan banyak orang.

“Memang pertama kali untuk tampil itu gugup sekali, kayak nge-freeze sekali. Tapi awal-awal, semakin dijalani semakin, ‘OMG, ternyata begini caranya’. Jadi buat jumpa orang itu sudah enggak setakut dulu, enggak pemalu lagi,” katanya.

Baca juga: Diva Arini Pemenang Miss Pariwisata Sumut 2026, Pilih Silat untuk Tampil Beda

Sebelum mengenal dunia pageant, Keysa telah memiliki ketertarikan pada seni tari. Ia juga gemar bermain badminton bersama ayahnya, meski olahraga tersebut sebatas hobi.

Perjalanan di dunia modeling kemudian membuka pengalaman baru baginya. Tidak hanya belajar berjalan di atas panggung, ia mulai memahami bahwa tampil di depan publik juga membutuhkan kemampuan berkomunikasi dan pengetahuan yang luas.

Apalagi, menjelang kompetisi tingkat nasional, berbagai persiapan harus dijalaninya.

Keysa harus berlatih public speaking dan catwalk, menjalankan kegiatan advokasi sosial, mempersiapkan photoshoot challenge, serta memperdalam pengetahuan mengenai pariwisata dan kebudayaan Sumatera Utara.

Salah satu tantangan yang dirasakannya adalah menghafal berbagai materi.

“Kalau menghafal memang agak sedikit lemah,” ungkapnya.

Materi yang dipelajarinya cukup beragam, mulai dari mengenal berbagai budaya, speech untuk penampilan hingga pengetahuan mengenai Provinsi Sumatera Utara dan daerah-daerah di dalamnya.

Bagi Keysa, proses tersebut membuatnya menyadari pentingnya banyak membaca dan memahami materi, bukan sekadar menghafalnya.

Keysa dijadwalkan berangkat menuju Surabaya pada 8 November 2026. Rangkaian kegiatan tingkat nasional akan dimulai dengan konferensi pers pada 10 November, dilanjutkan masa karantina mulai 11 November hingga grand final pada 16 November 2026.

Kesempatan itu tidak hanya ingin digunakannya untuk menunjukkan kemampuan pribadi. Keysa juga ingin memperkenalkan daerah asalnya. Danau Toba, Pulau Samosir, kain ulos hingga kekayaan budaya Kabupaten Batubara menjadi beberapa hal yang tengah dipelajarinya menjelang kompetisi.

Pada sesi national costume, tim Keysa menyiapkan konsep bertajuk ‘Putri Nelayan Batubara’. Konsep tersebut akan mengangkat kehidupan masyarakat pesisir Batubara. Dalam kostumnya juga akan dimasukkan visual Istana Niat Lima Laras sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Batubara.

“Karena kita dari Kabupaten Batubara, jadi sedikit banyaknya kita bakal bawa Kabupaten Batubara. Nanti ada namanya national costume, kita bakal bawa dan buat namanya Putri Nelayan Batubara,” katanya.

Selain mempersiapkan penampilan, Keysa juga menjalankan advokasi bertajuk ‘Satu Nyawa, Sejuta Jiwa’. Advokasi tersebut berfokus pada pentingnya pendidikan dan kemampuan bersosialisasi sejak usia dini.

Keysa bersama tim menyasar anak-anak mulai tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Program tersebut juga memiliki keterkaitan dengan perjalanan pribadi Keysa yang sebelumnya dikenal sebagai anak introvert dan pemalu.

Pentingnya Interaksi secara Langsung 

Melalui pengalaman yang telah dilaluinya, Keysa ingin anak-anak yang memiliki karakter serupa tidak merasa takut untuk berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain.

Terlebih, di tengah penggunaan gadget yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak, timnya ingin mengajak mereka kembali mengenal pentingnya interaksi secara langsung. Menurutnya, advokasi tersebut ingin menanamkan pemahaman mengenai pentingnya bersosialisasi sejak dini.

“Zaman sekarang kita tahu anak-anak lebih fokusnya ke gadget. Jadi kita mau supaya anak itu lebih mengerti bahwa lebih bagus kita berteman secara langsung, bukan dari gadget,” katanya.

Perubahan Keysa juga dirasakan langsung oleh sang ibu, Yanti. Sebagai orangtua, Yanti mengaku memberikan ruang bagi putrinya untuk berkembang melalui kegiatan yang diminatinya selama kegiatan tersebut memberikan pengaruh positif.

Ia masih mengingat bagaimana Keysa dahulu merasa takut ketika harus bertemu orang lain.

 “Kalau anak saya ini dulunya malu. Kalau ketemu orang pun takut. Jadi setelah mengikuti ajang model ini, dia bersosialisasi, bertemu sama teman-temannya,” ujar Yanti.

Perlahan, Yanti melihat perubahan pada putrinya.

 “Oh, dia bisa kok berteman. Oh, dia bisa kok berubah. Sampai sekarang ini, alhamdulillah semakin berkembang,” katanya.

Bagi Yanti, melihat perkembangan tersebut menjadi kebahagiaan tersendiri sebagai seorang ibu. Ia memilih mendampingi sekaligus memberikan arahan kepada Keysa selama menjalani proses di dunia modeling dan pageant.

 “Saya sebagai orangtua hanya bisa kasih support untuk ke depannya biar maju. Saya kasih dukungan, saya kasih arahan untuk yang baik,” ujarnya.

Dukungan serupa juga dirasakan Keysa sejak awal perjalanan yang dipilihnya.

 “Orangtua benar-benar nge-support dari awal sampai akhir setiap proses Keysa, dari perjuangan Keysa selalu nge-support dan mendukung yang terbaik, selagi itu memang terbaik buat Keysa,” tutur Keysa.

Menjelang keberangkatannya ke Surabaya, Keysa masih memiliki waktu sekitar dua bulan untuk mematangkan persiapan. Namun bagi Keysa, pencapaian terbesarnya tidak hanya akan ditentukan oleh gelar yang diperoleh di panggung nasional.

Keberaniannya keluar dari pribadi yang dahulu takut bertemu orang lain menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.

Ia berharap langkahnya di tingkat nasional nantinya dapat menjadi ruang untuk membawa cerita tentang Sumatera Utara sekaligus memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitarnya.

 “Harapan Keysa pastinya, langkah ini bukan hanya tentang membawa diri yang terbaik, tetapi juga bagaimana cara Keysa menginspirasi dan mampu memberikan energi-energi yang positif buat orang-orang lain di sekitar,” pungkasnya.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.