TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Pemerintah Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Wonosobo melihat rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebagai peluang untuk memperkuat berbagai kegiatan ekonomi di desa.
Energi dari pembangkit tersebut nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas milik dan kepentingan masyarakat Desa Mergosari. Mulai dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga pengeringan hasil pertanian.
Tim Kementerian PPN/Bappenas meninjau langsung lokasi rencana pengembangan Serayu Agro Energy Edu-Tourism Corridor (SAEEC) di Desa Mergosari, Jumat (11/9/2026).
Baca juga: Wonosobo Siapkan Desa Mergosari Jadi Pilot Project SAEEC
Kepala Desa Mergosari, Slamet Supriyono mengatakan, pemanfaatan PLTMH menjadi bagian dari rencana pengembangan kawasan SAEEC.
Menurutnya, listrik dari PLTMH juga akan dimanfaatkan untuk fasilitas pengeringan berbagai hasil pertanian, seperti jagung, padi, dan buah-buahan.
Selain itu, terdapat rencana pengembangan penggilingan padi yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Mergosari.
Supri menilai, keberadaan sumber energi menjadi penting karena sejumlah fasilitas pengolahan hasil pertanian membutuhkan daya listrik cukup besar.
“Kami memanfaatkan PLTMH itu untuk memberikan energi ke masing-masing yang akan ada di sini,” ujarnya.
Tak hanya fasilitas ekonomi, kawasan SAEEC juga dirancang memiliki sejumlah fasilitas wisata dan pendukung lainnya.
Di antaranya arung jeram, restoran, kolam renang, hingga fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.
Seluruh fasilitas tersebut direncanakan berada dalam satu kawasan.
“Semuanya terpusat di sini,” kata Supri.
Menurut Supri, energi yang dihasilkan PLTMH nantinya memiliki beberapa kemungkinan skema pemanfaatan.
Supri menyebut, kemampuan pembangkit yang direncanakan diperkirakan dapat mendukung kebutuhan sekira 200 kepala keluarga (KK) apabila energinya diarahkan untuk kebutuhan masyarakat desa.
“Kalau dimasukkan ke desa, kami mau jual ke PLN juga boleh, mau untuk subsidi masyarakat Desa Mergosari juga boleh,” ujarnya.
Bagi pemerintah desa, skema tersebut nantinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.
• Kekeringan Wonosobo, Pemkab Salurkan 20 Ribu Liter Air Bersih ke 3 Dusun di Somogede
Menurutnya yang terpenting, keberadaan PLTMH dapat memberikan manfaat bagi aktivitas masyarakat dan mendukung pengembangan ekonomi di Desa Mergosari.
Supri juga menyampaikan apresiasi atas kedatangan Kementerian PPN/Bappenas yang meninjau langsung lokasi rencana pengembangan SAEEC di Mergosari.
“Mudah-mudahan ke depannya Mergosari akan lebih baik setelah ada PLTMH ataupun kegiatan-kegiatan yang ada di Mergosari,” katanya.
Rencana di Mergosari tersebut merupakan bagian dari konsep SAEEC yang tidak hanya berbicara mengenai pembangunan pembangkit listrik.
Kepala Bappeda Kabupaten Wonosobo, Tono Prihatono mengatakan, program tersebut dirancang dengan energi sebagai pintu masuk untuk menggerakkan sektor lain, terutama pertanian dan pariwisata.
“Dimana justru pintu masuknya yang kami dorong dari energi,” kata Tono.
Menurutnya, ketersediaan energi dengan biaya lebih murah dapat membantu menekan ongkos produksi pertanian.
Energi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung fasilitas seperti cold storage dan pengering hasil pertanian.
“Ketika kami punya energi yang murah, tentunya biaya produksi pertanian menjadi akan menurun,” ujarnya.
Karena itu, SAEEC di Mergosari tidak berdiri sendiri sebagai proyek desa.
Program tersebut dirancang untuk mengintegrasikan energi, ketahanan pangan, pariwisata, dan aspek lingkungan dalam satu kawasan.
Tono mengatakan, apabila pilot project di Mergosari berhasil, konsep tersebut berpotensi dikembangkan lebih luas karena kawasan DAS Serayu mencakup Wonosobo hingga Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap.
“Sehingga jika nanti program ini berhasil, ini bisa jadi piloting,” tandasnya. (*)