Inovasi Tim Fasda Perubahan di Dumai, Peserta Didik Bebas Berkreasi dan Belajar Lebih Menyenangkan
M Iqbal September 11, 2026 11:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Para peserta didik di Kelas 6A SDN 10 Jaya Mukti, Kota Dumai asyik berdiskusi dalam kelas.  Mereka berkreasi mengembangkan cerita keseharian menjadi produk literasi.

Ada di antaranya menulis pantun, puisi, syair, komik hingga poster. Mereka bisa bebas menunjukkan kreativitasnya sesuai minat masing-masing.

Guru kelas itu hanya memandu di depan melalui papan interaktif digital. Proses kreatif ini berlangsung di lima kelompok berbeda.

Satu anggota kelompok bebas menciptakan produk literasi sesuai kreasinya. Mereka bebas mengembangkan narasi yang ada menjadi produk literasi lainnya.

Aktivitas ini merupakan bagian inovasi Fasilitator Daerah (Fasda) Perubahan dari Tim Anre Beraksi yang berkolaborasi dengan Tanoto Foundation. Mereka menerapkan Gerakan Literasi Terbimbing (GLITTER) di dalam kelas agar peserta didik bisa berkreasi lewat aneka produk literasi.

"Tadi saya sendiri membuat poster, ada juga teman membuat pantun dan membuat komik," terang satu murid kelas 6A, Mezzi kepada Tribunpekanbaru.com.

Menurutnya, setiap anggota kelompok membuat produk literasi sesuai kreasi masing-masing. Ia mengaku sempat kesulitan dalam proses ketika mewarnai poster.

"Sulitnya cuma waktu mewarnai, merangkai kalimatnya kami bisa," akunya.

Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di kelas tersebut, Trisna Handayani menyampaikan bahwa lewat metode ini para peserta didik bisa berkreasi. Mereka mengembangkan satu nar menjadi berbagai produk literasi yang berbeda.

"Anak-anak bisa lebih beragam hasil kreasi literasinya, awalnya cuma berbentuk narasi. Sekarang bisa membuat produk lain seperti poster hingga drama," paparnya.

Ketua Tim Anre Beraksi, Asma Nelsy menyampaikan bahwa proses pembelajaran di kelas ini diberi nama GLITTER. Anak diajak berkreasi membuat produk literasi dari narasi yang ada.

"Produk literasinya bisa berupa pantun, puisi, syair dan review singkat. Maupun drama mini sesuai minatnya,"  ungkapnya didampingi anggota tim Rodiyah,

Tim mempersiapkan penerapan GLITTER dalam kelas ini bakal berlangsung dalam dua kali pertemuan dalam kelas. Ia menyampaikan ada 28 orang murid ambil bagian dalam penerapan proses pembelajaran itu.

"Kita sudah terapkan sebelum kelas enam, cuma kita masih fokus pada capaian pembelajaran seperti puisi dan pantun. Namun untuk project ini, anak-anak kita bebaskan bekreasi sesuai minatnya," ujarnya.

Project Fasilitator Daerah Perubahan di Kota Dumai yang mendapat dukungan dari Tanoto Foundation bukan hanya mewujudkan inovasi dalam pembelajaran literasi. Mereka juga berinovasi agar suasana belajar matematika lebih menyenangkan.

Seperti di dalam Kelas IX.1 SMPN 14 Dumai, Tim
Educore Numeracy mengajak para peserta didik bukan sekedar mencari luas dari bangun ruang yang ada. Mereka membawa sendiri benda berbentuk balok untuk menghitung luas balok tersebut.

Aktivitas ini memungkinkan para peserta didik bisa secara langsung melihat wujud balok. Mereka bisa mengukur luas permukaan dari balok tersebut.

Proses belajar ini dilakukan secara berkelompok agar para peserta didik bisa berdiskusi. Mereka terbagi enam kelompok dengan masing-masing ada bersama lima orang anggota.

Apalagi ada Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk memandu pada peserta didik menemukan luas permukaan balok. Hal ini bertujuan menemukan luas kertas untuk menyelimuti balok yang ada.

Tahap awal para peserta didik mencari pasangan sisi, luas sisi hingga luas pasangan dari balok. Mereka lantas menemukan rumus untuk mengukur luar permukaan balok.

Aktivitas ini merupakan inovasi dari fasilitator daerah perubahan yang diberi KOLAB NUMERASI (Kolaborasi Guru melalui Lesson Study RME). Mereka bersama Tanoto Foundation melakukan kolaborasi numerasi agar para peserta didik bisa merasakan belajar dengan media langsung.

Para peserta didik bukan sekedar memecahkan soal dari papan tulis. Namun bisa menyelesaikan soal itu dengan media yang ada.

"Mereka langsung implementasikan di kelas melalui Lesson Study. Ini semua bermula dari persoalan sehari-hari, misal membungkus kado. Tentu kita harus bisa menentukan ukuran kertas kado yang dibutuhkan," jelas Ketua Tim EduCore Numeracy, Rudi Candra.

Dirinya menilai peserta didik bukan sekedar mengukur luas balok. Namun mereka mengetahui luas kertas kado untuk membungkus balok tersebut.

Ada juga Project Fasilitator Daerah Perubahan dari Tim Gemilang. Mereka mengajak peserta didik dari SMP Binaan Khusus Dumai belajar di lapangan dalam penerapan pemanfaatan wisata lokal. Sebanyak 30 peserta didik ikut dalam penerapan pembelajaran berbasis kontekstual itu.

Project Management Unit Tanoto Foundation, Yusriwiati Yose menyampaikan bahwa pihaknya melihat langsung implementasi Project Fasilitator Daerah Perubahan yang ada di Dumai. Ia menyebut bahwa project ini merupakan program Tanoto Foundation untuk menguatkan Fasilitator Daerah Perubahan terutama dalam management project.

"Ini merupakan program dari Tanoto Foundation, salah satunya menguatkan fasilitator daerah dalam manajemen project," paparnya.

Dirinya menilai para fasilitator daerah merupakan agen perubahan di daerah. Ia mendorong fasilitator berinovasi untuk melihat persoalan di sekitarnya terkait literasi dan numerasi.

"Mereka harus melihat rapor pendidikan, rekomendasi itu menjadi awal dalam menyusun project. Project ini yang mereka ajukan ke Tanoto Foundation," paparnya.

Yose menambahkan bahwa di Kota Dumai ada tiga tim lolos. Mereka yakni Tim Gemilang yang menyasar 43 guru di 43 SMP.

Kemudian Tim Edu Core Numeracy yang menyasar 43 guru di 42 sekolah. Ada juga Tim Anre Beraksi menyasar 40 guru dari 20 sekolah.

"Diharapkan dari yang project yang fokus pada literasi dan numerasi, nantinya bisa mendukung pemerintah dalam meningkatkan literasi dan numerasi sehingga rapor pendidikan bisa meningkat," ulasnya.

(Tribunpekanbaru.com/ Fernando Sikumbang)  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.