Dulu Takut Bola, Vallerie Kini Bersinar Bersama SMA Petra 4 Sidoarjo di DBL 2026
Pipit Maulidya September 12, 2026 12:32 AM

SURYA.co.id - Perjalanan seorang student-athlete selalu menyimpan cerita unik di balik megahnya panggung kompetisi.

Hal ini dirasakan betul oleh Grizelda Vallerie Jesslyne, pemain SMA Petra 4 Sidoarjo yang tampil impresif pada Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java-North melawan SMAN 2 Surabaya, Rabu (9/9/2026).

Siapa sangka, pebasket yang kini menjadi andalan di bawah ring ini dahulunya sangat takut pada bola basket.

Pada laga tersebut, Vallerie mencatatkan statistik solid dengan 4 poin dan 7 rebound (6 di antaranya offensive rebound).

Mengamankan bola pantul memang menjadi tugas utamanya di lapangan untuk memberi kesempatan kedua bagi Petra 4.

"Memang bagian itu. Kalau misalnya ada bola yang mental dari ring, aku memang harus siap cari bolanya. Kadang bisa dapat, kadang juga masih suka kelewatan karena terlalu buru-buru," ujar Vallerie.

Berawal dari Rooftop Rumah dan Ring Sederhana

Perkenalan Vallerie dengan basket dimulai saat hendak naik kelas VII SMP karena ajakan seorang teman.

Namun, ketika temannya memilih mundur dan pindah ke cabang olahraga karate, Vallerie justru tertantang untuk terus melangkah.

Di masa-masa awal, rasa takut terhadap bola sempat membayangi. Keinginan untuk belajar akhirnya tumbuh dari diri sendiri tanpa paksaan orang tua.

"Awalnya gara-gara teman ngajak. Aku sebenarnya waktu itu nggak yang langsung suka basket. Malah dulu takut sama bolanya. Jadi pas diajak itu awalnya kayak coba-coba saja, penasaran juga sebenarnya," menceritakan masa lalunya.

Melihat potensi sang anak, Papa Vallerie turun tangan secara bertahap. Berbekal arena latihan sederhana di rooftop rumah dan ring yang dipasang di tembok, sang papa mengajarinya teknik dasar seperti dribble dan passing.

Latihan konsisten tersebut mengantarkan Vallerie berkembang dari pemain pemula, masuk kelompok usia, bergabung di klub, hingga akhirnya bersaing di ajang DBL.

Menembus Starting Five dan Kepercayaan Orang Tua

Perjalanan Vallerie tak langsung mulus. Saat berlatih di klub, ia lebih banyak menghabiskan waktu di bangku cadangan.

Titik balik kariernya baru tercipta saat menginjak kelas X SMA—ia berhasil masuk starting five sekaligus meraih beasiswa sekolah.

Bagi sang papa—yang pernah bermain basket sewaktu muda di Banyuwangi—pencapaian ini di luar dugaan.

"Papa sudah bangga bisa lihat Vallerie main di DBL Arena. Apalagi bisa jadi starting five di DBL. Itu sungguh di luar dugaan Papa. Buat Papa, ini bukti dari hasil kerja keras Vallerie," ungkap sang papa.

Ia juga menambahkan kalau kerja keras dan konsistensi sang anak pasti membuahkan hasil.

"Walaupun hari ini belum maksimal, Papa percaya dengan konsisten, tekun berlatih, mau belajar dan dikoreksi, pasti ada hasil."

"Papa berharap Vallerie dalam dunia basket semakin berkembang dan meraih prestasi sebagai student-athlete. Bisa berprestasi dalam akademik maupun nonakademik," lanjut sang papa.

Satu kalimat dari sang papa yang selalu ia pegang teguh saat merasa lelah atau gagal adalah:

"Berdiri lagi, anak Papa nggak boleh menyerah."

Menikmati Atmosfer DBL 2026 dan Catatan Evaluasi

Sebagai pemain debutan di kelas X, Vallerie mengaku sangat antusias merasakan vibes DBL Arena yang selama ini hanya bisa ia dengar dari orang lain.

"Serius sih, sebenarnya nggak sabar. Aku penasaran banget sama vibes-nya. Soalnya selama ini kan cuma lihat atau dengar dari orang. Pas tahu bakal main di DBL, aku jadi mikir bakal kayak apa suasananya, penontonnya, terus pertandingan di sini rasanya bagaimana," tuturnya.

Setelah melewati tiga pertandingan musim ini, ia menyadari ketatnya persaingan di level SMA. Setiap keputusan di lapangan harus diambil dengan matang dan tenang.

"Kalau sekarang kan sudah nggak boleh main-main. Salah sedikit saja bisa langsung kelihatan. Jadi sekarang lebih mikir juga sebelum ambil keputusan, nggak bisa asal maju atau asal buru-buru," jelas Vallerie.

"Kadang kalau sudah dapat rebound itu aku masih gopoh. Kayak pengin langsung masukin bolanya, padahal harusnya mungkin lebih tenang dulu. Jadi finishing-nya juga masih harus banyak belajar," tambahnya.

Meski masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan—mulai dari finishing, ketahanan fisik, hingga efektivitas defense—Vallerie berkomitmen untuk terus berbenah.

"Masih banyak banget yang harus diperbaiki. Fisik juga harus ditambah, finishing harus lebih tenang, terus tempo permainan juga. Defense kadang sudah bagus, tapi kadang masih suka telat. Jadi masih banyak yang harus dibenahi," kata Vallerie memungkas.

Momen Spesial Keluarga di DBL Arena

Ajang Honda DBL with Kopi Good Day tahun ini makin spesial bagi keluarga Vallerie. Selain Vallerie yang berlaga di lapangan basket, sang kakak juga turut tampil membela sekolah melalui tim dance.

Rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 sendiri dipastikan hadir mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Selain kompetisi utama 5x5, musim ini juga kembali menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 bertema "100 persen Indonesia". Seluruh pertandingan disiarkan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, dan babak Final disiarkan di YouTube Good Day ID.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.