Guru Besar UPI Unggulkan Persib Dibanding Persija, Mental Pemain dan 60 Ribu Suporter Jadi Ujian
Rr Dewi Kartika H September 12, 2026 01:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM - Persib Bandung dinilai memiliki keunggulan secara teknis dan kedalaman skuad ketimbang Persija Jakarta jelang duel El Clasico Super League 2026/2027 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Sabtu (12/9/2026).

Kendati demikian, ujian sesungguhnya bagi anak asuh Igor Tolic bukan sekadar pertarungan taktik di lapangan, melainkan ketahanan mental menghadapi gemuruh teror 60 ribu penonton tuan rumah serta manajemen fisik menghadapi jadwal padat di level Asia.

Hal ini merupakan analisis dari Guru Besar EPOK UPI, Prof. Dr. Dikdik Zafar Sidik M.Pd.

Berikut analisis lengkap Dikdik mengenai laga Persija vs Persib dalam gaya bertutur: 

Di laga el clasico Indonesia yang mempertemukan Persib Bandung dan Persija Jakarta, pada Indoensia Super League 2026/2027, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (12/9/2026) yang jadi tantangan bukan hanya taktik tapi mental.

Kalau secara teknis dirasa Persib masih di atas, berkaca dari pertandingan ke pertandingan, terutama di laga terakhir.

Kemudian dilihat dari komposisi pemain yang sekarang, Persib nampaknya lebih siap.

Tapi dalam laga ini yang harus disiapkan lagi kondisi mental, secara teknis bisa, tapi kalau dari saywar penonton dengan gemuruhnya luar biasa, kadang kekhawatiran itu sering muncul. Apalagi di SU GBK yang bisa menampung sampai sekitar 60 ribu penonton.

 Terutama bagi pemain, yang baru merasakan atmosfer seperti ini, sebab meski pemain itu ada di Liga Indonesia, tapi beda klub beda cara menghadapinya. Ini menjadi tantangan secara individu pemain, setidaknya akan menggangu konstrasi kerja sama tim. Itu yang dikhawatirkan.

Mungkin saat sebelum pertandingan sudah ada psywar tapi kita lihat nanti ketegasan dari penyelenggara apakah bisa menjamin keamanan, dan kenyamanan dalam perjalanan menuju ke Stadion.

Kalau secara fisik kalau saya lihat ketika lawan PSM cukup untuk kelas Liga Indoensia, tapi kalau nanti untuk kelas AFC Champions League Two berbeda.

Artinya Pelatih Persib, harus betul-betul menyiapkan pemain dengan merotasinya. Mungkin bisa saja target dengan Persija asal jangan kehilangan poin. Karena draw di kandang lawan juga itu nilai positif.

Syukur-syukur menang, kalau bisa menang di menit akhir jangan di menit awal kalau bisa mencetak gol.

Tapi kalau misalkan di menit awal Persib bisa mencetak gol, tinggal mempersiapkan mental lebih siap lagi. Kalau bisa mengatasi secara mental, mungkin bisa lebih dari satu gol.

Kalau sudah dapat lebih dari satu gol, misa 2-0 di babak pertama, babak kedua pecah konsentrasinya, biasanya psywarnya dari pemain. Pancingan- pancingan emosinya dari pemain, bukan dari penonton. Sebetulnya, yang lebih bahaya pancingan dari pemain karena langsung bersentuhan.

Kalau dari penonton saya rasa masih bisa diabaikan, orang juga tak bisa masuk ke lapangan. Jika ada yang masuk ke lapangan juga tak bisa dibiarkan oleh pihak keamanan. Artinya, pertanggung jawaban itu harus jadi prioritas ketika derby, khusunya Persib lawan Persija. 

Kalau saya lihat Shin Tae-Yong  biasanya gaya bermainnya bertahan dulu, mungkin juga pertahanannya di bawah sambil membaca situasi.

Mempelajari cara bermain STY seperti itu, tapi tidak boleh ceroboh ketika masa transisi. Kalau transisi menyerang ke bertahannya lalai, ya secara sikologis akan terganggu.

Diharapkan  jangan sampai ada kejadian cedera saat lawan Persija, walaupun bisa rotasi tapi ya rotasinya juga terbatas. Yang harus diantisipasi keselamatan pemain untuk menjaga ritme kondisi,  pada saat nanti menghadapi lawan FC Seoul.

Sebab FC Seoul itu bukan lawan biasa, itu lawan tangguh. Kalau secara teknis secara skil berimbang, jika dilihat komposisi sekarang karena banyak pemain nasional di Persib.

Di Korea ini ujiannya yang sifatnya logistik karena hanya 4 hari, dan bagaimana nanti aklimatisasinya, ini yang harus diantisipasi terutama oleh pelatih fisik Persib.

Perjalanan lawan Korea ketika waktu STY melatih timnas Indoensia, rasanya Korea juga kewalahan mereka lawan timnas kita. Itu harus jadi pembelajaran untuk Igor, ketika menghadapi tim Korea Selatan dengan karakter seperti apa, dan di Persib juga ada beberapa pemain Timnas yang pernah berhadapan dengan Korea.

Jadi berharap lawan Persija nanti, pemain jangan sampai ceroboh yang mengakibatkan cedera, dan pelatih merotasi dengan secara manejemen yang bagus.

Sebab setelah lawan Persija akan langsung ke Korea, dan dari Korea, Persib juga akan langsung tandang ke Markas Persijap Jepara.

Saya berharap mudah-mudahan minimal lawan Persija draw, syukur-syukur menang, dan nanti lawan FC Seoul draw, kemudian menang lawan Persijap.  Sehingga dapat poinnya di laga ketiga, saat tandang ke Jepara.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.