Liputan6.com, Jakarta - Bursa Asia bergerak melemah pada awal perdagangan Selasa (15/9/2026). Investor mencermati keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada pekan ini, sekaligus mempertimbangkan kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengutip CNBC, Selasa (15/9/2026), di Jepang, Nikkei 225 turun 0,25%, sedangkan indeks Topix melemah 0,24%. Bursa Korea Selatan juga berada di zona merah. Kospi turun 0,43% dan Kosdaq melemah 0,33%.
Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,46%.
Tekanan terhadap pasar saham global sebelumnya muncul setelah aksi jual saham terkait kecerdasan buatan (AI). Sentimen tersebut meningkat setelah CEO Anthropic Dario Amodei menyerukan agar pengembangan AI dilakukan dengan tempo lebih lambat.
CEO OpenAI Sam Altman juga menyatakan perusahaan tidak akan melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun ini. Kondisi tersebut menambah kekhawatiran investor mengenai aspek keamanan AI.

Sejumlah saham yang berkaitan dengan AI mengalami tekanan. Saham Nvidia turun sekitar 3%, sedangkan perusahaan kaca khusus dan serat optik Corning anjlok 13%.
Dana yang diperdagangkan di bursa atau ETF iShares AI Innovation and Tech Active (BAI) juga turun hampir 4%.
Investor turut mencermati kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun sempat menembus 5% pada Senin, menjadi level tertinggi sejak Oktober 2023.
Harga minyak juga meningkat setelah Arab Saudi menutup pipa strategis yang menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Harga kontrak minyak Brent ditutup di atas US$ 105 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$ 101 per barel.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan pada Rabu.
Perdagangan kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluang sekitar 92% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dari kisaran target saat ini 3,5%-3,75%.
“Kami memperkirakan The Fed, untuk pertama kalinya pada era Ketua Kevin Warsh, akan menaikkan suku bunga kebijakannya hingga batas atas 4,0% pada pertemuan pekan ini,” kata Kepala Ekonom AS Natixis CIB Americas, Christopher Hodge.
“Kami juga memperkirakan dia akan menekankan bahwa keputusan ini bersifat khusus dan tidak mengikat The Fed untuk mengambil tindakan apa pun pada pertemuan berikutnya, sehingga memberikan dirinya dan Komite fleksibilitas maksimum untuk merespons berbagai guncangan,” tambahnya.