IAPVC 2026 di Prigen, Dorong Fotografi Jadi Pemicu Kesadaran Konservasi
Haorrahman September 12, 2026 07:55 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Pasuruan - International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026 hadir di Taman Safari Indonesia Prigen, Kabupaten Pasuruan, 12–13 September 2026.

Ajang fotografi dan video satwa ini tidak hanya mengajak peserta menghasilkan karya visual, tetapi mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi.

Mengusung tema From Lens to Legacy, rangkaian roadshow IAPVC 2026 mempertemukan fotografer, videografer, kreator, dan komunitas untuk melihat satwa serta lingkungan bukan sekadar sebagai objek gambar.

Even ini juga menjadi sebagai bagian dari cerita tentang kelestarian alam.

Board Member Taman Safari Indonesia Aswin Sumampau mengatakan, fotografi memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan konservasi kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah diterima.

Menurutnya, IAPVC yang telah berjalan selama puluhan tahun tidak semata-mata diarahkan untuk menghasilkan foto yang bagus.

Lebih dari itu, karya yang lahir dari kompetisi tersebut diharapkan mampu membuka perhatian publik terhadap kondisi satwa dan alam Indonesia.

“Foto bisa mengubah segalanya. Jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah foto,” kata Aswin, Sabtu (12/9/2026) siang.

Ia menjelaskan, kepedulian terhadap konservasi menjadi alasan IAPVC terus dipertahankan.

Baca juga: Truk Sound Horeg Hampir Terjungkal di Ledug Prigen Pasuruan, Warga Histeris

Bahkan, kompetisi tersebut sempat berhenti saat pandemi Covid-19 sebelum kembali digelar dengan semangat yang sama.

Aswin berharap para peserta tidak berhenti pada aktivitas memotret satwa.

Mereka diharapkan membawa pulang pengalaman sekaligus pemahaman baru tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.

“Teman-teman fotografer yang datang ke Prigen tidak hanya mendapatkan foto yang bagus, tetapi juga mendapatkan pengalaman dan cerita baru,” ujarnya.

Menurut Aswin, tantangan konservasi di Indonesia semakin membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Baca juga: Konservasi Berbuah Hasil, Taman Safari Prigen Lahirkan Empat Harimau Sumatera

Karena itu, fotografer dan kreator dinilai dapat mengambil peran dengan menghadirkan cerita visual yang mampu membuat masyarakat lebih mengenal, menghargai, dan kemudian ikut menjaga alam.

Dalam roadshow di Prigen, peserta tidak hanya mengikuti kegiatan fotografi, tetapi juga berkesempatan mengikuti Safari Journey di Taman Safari Prigen.

Mereka dapat mengabadikan aktivitas satwa secara langsung sekaligus menangkap berbagai momen yang dapat dikembangkan menjadi sebuah cerita.

Peserta juga mengikuti sesi hunting photo bersama model.

Konsep ini memberikan ruang bagi fotografer untuk menggabungkan unsur manusia dan satwa dalam satu karya visual dengan tetap membawa kekuatan cerita.

Fotografer profesional sekaligus juri IAPVC 2026, Marrysa Tunjung Sari, turut memberikan perspektif dan pengalamannya kepada peserta.

Ia mendorong fotografer tidak hanya mengejar sisi teknis, tetapi juga memikirkan bagaimana sebuah foto dapat menyampaikan pesan secara kuat.

IAPVC 2026 menyediakan sejumlah kategori, di antaranya Wildlife Photo Story, Wildlife Young Creator, Wildlife Short Video Story, Wildlife Roadshow Story Challenge, Wildlife Journalist Story, serta People’s Choice Awards.

Baca juga: 3 Harimau Benggala Lahir di TSI Prigen Pasuruan, Ada Harimau Putih Langka

Kompetisi ini juga menyediakan hadiah utama berupa satu unit Wuling Air EV serta hadiah uang tunai.

Pendaftaran masih dibuka hingga 30 September 2026 melalui laman pendaftaran resmi IAPVC 2026.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, IAPVC 2026 ingin membawa pesan bahwa sebuah karya visual tidak berhenti ketika kamera selesai digunakan.

Foto dan video dapat menjadi medium untuk menyampaikan cerita, membangun perhatian, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa satwa dan alam membutuhkan perlindungan bersama.

Dari lensa, karya diharapkan tidak hanya menjadi kenangan, tetapi berkembang menjadi cerita yang memiliki dampak bagi keberlanjutan konservasi.

Arif Indrianto, salah satu peserta asal Solo mengatakan, fotografi satwa bukan sekadar aktivitas mencari objek yang menarik untuk diabadikan.

Ia justru tertarik pada bagaimana satwa dapat ditampilkan dalam suasana yang mendekati habitat alaminya.

“Memang saya suka satwa, khususnya burung. Di Indonesia, selain memotret burung agak susah, jadi enak kalau ikut even ini,” ujar Arif.

Menurutnya, keberadaan kawasan konservasi seperti Taman Safari Prigen memberikan kesempatan bagi fotografer untuk mengabadikan satwa dalam lingkungan yang dibuat menyerupai kondisi alam.

Dengan begitu, hasil foto tidak selalu terlihat seperti satwa yang berada di dalam kandang.

“Beberapa hewan di tempat liar juga bisa difoto. Suasananya mirip-mirip alam, jadi ketika difoto juga tidak kelihatan seperti di kandang,” katanya.

IAPVC bukan kali pertama diikuti Arif. Pada keikutsertaan pertamanya, ia berhasil meraih juara III.

Prestasi itu kembali meningkat pada keikutsertaan keduanya dengan meraih juara II. Tahun ini menjadi keikutsertaan ketiganya dalam IAPVC

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.