Oleh Ahmad Humam Hamid*)
Lebih dari tujuh ribu tahun lalu, seseorang hidup di sebuah ceruk batu tidak jauh dari Danau Lut Tawar.
Kita tidak mengetahui namanya, bahasa yang digunakannya, atau bagaimana ia menyebut pegunungan yang mengelilinginya.
Yang kita ketahui adalah manusia telah hidup di Loyang Mendale ribuan tahun sebelum ada kerajaan, prasasti, atau nama Aceh.
Mereka meninggalkan alat batu, sisa makanan, tulang dan penguburan yang kemudian ditemukan kembali oleh para arkeolog.
Tetapi Mendale bukanlah jendela tertua.
Jauh di sebelah timur, di Aceh Tamiang, Bukit Kerang Pangkalan membawa kita lebih jauh ke belakang. Lapisan terbawah situs itu bertarikh sekitar 12.500 tahun sebelum sekarang.
Di sana ditemukan arang bekas pembakaran dan alat batu. Lapisan yang lebih muda kemudian memperlihatkan tradisi Hoabinhian, timbunan kerang, penguburan manusia, dan akhirnya unsur kehidupan Neolitik.
Tamiang dan Mendale berada dalam dua dunia berbeda. Yang satu berada di dataran rendah yang berhubungan dengan sungai dan pesisir timur Sumatra. Yang lain berada di dataran tinggi Gayo yang dikelilingi pegunungan.
Tetapi keduanya mengatakan sesuatu yang sama pentingnya: ribuan tahun sebelum ada nama Aceh, manusia sudah hidup di tanah ini.
Siapakah mereka?
Dan apa hubungan mereka dengan orang Aceh, Gayo dan Alas yang hidup hari ini?
Pertanyaan itu membawa kita memasuki sejarah yang jauh lebih rumit daripada silsilah raja. Tidak ada prasasti yang dapat dibaca, hikayat yang dapat dibuka, atau catatan pelaut asing yang dapat ditanyai.
Untuk masa sejauh itu kita mempunyai saksi yang berbeda: tanah yang digali arkeolog, tulang yang ditinggalkan manusia, bahasa yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan sekarang DNA.
Beberapa waktu lalu saya pernah menggunakan perumpamaan sederhana untuk membicarakan Aceh, Gayo dan Alas: kain palekat satu kodi.
Dua puluh helai kain dapat berada dalam satu kodi, tetapi ketika dibuka satu per satu, motif, warna, bahkan benangnya tidak harus sama.
Setelah arkeologi, linguistik dan genetika memberi kita informasi baru, perumpamaan itu ternyata masih berguna. Hanya perlu sedikit diperbaiki.
Satu kodi tidak berarti semua kain ditenun dari benang yang sama.
Generasi saya tumbuh dengan sebuah cerita asal-usul yang sekarang terasa terlalu rapi. Penduduk Indonesia dibagi menjadi Melayu Tua dan Melayu Muda, atau Proto-Melayu dan Deutero-Melayu.
Nenek moyang penduduk kepulauan ini digambarkan datang dari daratan Asia dalam dua gelombang besar, kemudian berbagai kelompok etnis ditempatkan ke dalam salah satu rombongan itu.
Gayo dan sejumlah masyarakat pedalaman Sumatra sering dimasukkan ke kelompok yang dianggap lebih tua.
Model itu berguna pada zamannya. Tetapi ilmu pengetahuan bergerak. Semakin banyak situs digali, hubungan antarbahasa semakin dipahami, dan DNA manusia purba mulai dapat dibaca. Hasilnya jauh lebih berantakan, sekaligus jauh lebih menarik.
Ada manusia yang telah berada di kawasan ini sangat lama. Ada yang datang kemudian. Mereka bergerak, bertemu dan mempunyai keturunan.
Teknologi dapat berpindah tanpa perpindahan manusia dalam jumlah besar. Bahasa bahkan dapat berjalan lebih jauh daripada manusia yang mula-mula membawanya.
Sejarah manusia bukan dua anak panah di dalam buku pelajaran. Ia lebih menyerupai kain yang terus ditenun.
Bukit Kerang Pangkalan memberi kita salah satu potongan tertua dari kain itu. Sebagian situsnya terbentuk dari cangkang kerang yang dibuang manusia dalam waktu panjang.
Sampah kehidupan sehari-hari ternyata dapat menjadi harta karun arkeologi. Manusia makan, menyalakan api, menggunakan alat, lalu membuang sisanya. Ribuan tahun kemudian lapisan tanah itu menjadi arsip kehidupan.
Pada lapisan yang lebih muda dari hunian awal Tamiang muncul ciri tradisi Hoabinhian. Hoabinhian bukan nama suku atau bangsa.
Nama itu berasal dari Hòa Bình di Vietnam dan digunakan para arkeolog untuk menyebut tradisi teknologi pemburu-peramu yang ditemukan di berbagai bagian Asia Tenggara.
Salah satu cirinya adalah penggunaan batu sungai sebesar genggaman tangan yang sebagian sisinya dipecah atau diserpih hingga tajam untuk memotong dan berbagai keperluan sehari-hari.
Kesamaan teknologi tidak otomatis berarti pembuatnya merupakan kelompok manusia yang sama. Tetapi Tamiang memberi satu kepastian yang lebih penting.
Ribuan tahun sebelum ekspansi Austronesia mengubah Asia Tenggara kepulauan, manusia sudah hidup di wilayah yang sekarang bernama Aceh.
Tanah ini tidak sedang menunggu penduduk pertamanya.
Dari Tamiang, perjalanan kita bergerak ke pegunungan. Di sekitar Danau Lut Tawar terdapat Loyang Mendale.
Lapisan tanahnya merekam kehidupan manusia selama ribuan tahun, dari pemburu-peramu hingga munculnya teknologi dan cara hidup baru.
Mendale jangan dibayangkan sebagai sebuah foto prasejarah. Ia lebih menyerupai film yang diputar selama ribuan tahun, tetapi sebagian besar gulungannya telah hilang.
Di sinilah kita harus berhati-hati. Manusia yang hidup di Mendale tujuh atau delapan ribu tahun lalu tidak dapat begitu saja disebut orang Gayo dalam pengertian etnis sekarang.
Umur sebuah hunian tidak sama dengan umur sebuah identitas. Bahasa dapat berubah, manusia dapat bercampur, kebudayaan menerima unsur baru, dan nama suatu masyarakat dapat muncul jauh kemudian.
Penelitian terhadap sejumlah kerangka dari Mendale dan Ujung Karang pernah memberi petunjuk tentang kemungkinan hubungan biologis dengan masyarakat Gayo sekarang.
Temuan itu menarik sebagai indikasi kesinambungan, tetapi tidak berarti manusia paling awal di Mendale sudah merupakan kelompok etnis bernama Gayo.
Kemudian sebuah penelitian genom purba yang diterbitkan pada 2026 membuka jendela baru. DNA genom dua individu dari Loyang Mendale yang hidup sekitar 3.300 dan 1.700 tahun lalu berhasil dianalisis.
Individu yang lebih tua sudah membawa unsur leluhur yang berkaitan kuat dengan dunia Austronesia, tetapi genomnya sekaligus menunjukkan sejarah percampuran manusia yang lebih kompleks.
Perhatikan jaraknya. Hunian Mendale membawa kita lebih dari tujuh ribu tahun ke belakang. Genom tertua yang sejauh ini dapat dibaca berasal dari manusia sekitar 3.300 tahun lalu.
Di antara kedua tanggal itu terbentang ribuan tahun kehidupan manusia yang tanah Aceh belum bersedia ceritakan seluruhnya kepada kita.
Sekitar empat sampai lima ribu tahun lalu, dunia manusia di Asia Tenggara kepulauan mulai mengalami perubahan besar.
Manusia dengan leluhur yang berhubungan dengan Asia Timur bagian selatan bergerak melalui Taiwan dan Filipina menuju kepulauan, membawa bahasa dan berbagai teknologi.
Jejak perjalanan itu masih hidup. Bahasa-bahasa Austronesia sekarang digunakan dari Taiwan, Filipina dan Indonesia hingga kepulauan Pasifik, bahkan menyeberangi Samudra Hindia sampai Madagaskar.
Tetapi kata datang mudah menipu. Ia membuat kita membayangkan penduduk baru mendarat lalu menghapus manusia yang sudah berada di sana. Yang terjadi tampaknya jauh lebih rumit.
Pendatang dan penduduk lama dapat bertemu, mempunyai keturunan dan membentuk masyarakat baru. Mendale sekitar 3.300 tahun lalu memberi kita salah satu jendelanya.
Yang datang tidak selalu menggantikan yang telah ada.
Kadang-kadang mereka bertemu. Dari pertemuan itulah lahir manusia berikutnya.
Di sinilah sebutan Melayu Tua mulai terasa terlalu sempit ketika digunakan untuk menjelaskan Gayo.
Sebutan itu memberi kesan seolah masyarakat Gayo merupakan sisa satu rombongan manusia purba yang menetap di pegunungan dan sejak itu hampir tidak berubah.
Mendale memperlihatkan sejarah yang lebih bergerak. Ada lapisan manusia lama, ada kedatangan manusia dan kebudayaan baru, dan ada percampuran selama ribuan tahun sebelum terbentuk masyarakat yang kemudian kita kenal sebagai Gayo.
Kesinambungan biologis tidak berarti kemurnian biologis.
Gayo bukan fosil Melayu Tua yang secara ajaib bertahan di pegunungan. Gayo adalah hasil perjalanan panjang manusia yang hidup, datang, bertemu dan bercampur di pegunungan itu.
Dari dataran tinggi Gayo, bergerak ke tenggara, kita menemukan cerita lain. Bahasa Alas mempunyai hubungan sangat dekat dengan lingkungan bahasa Batak, terutama Karo, sementara hubungan panjang dengan Gayo dan masyarakat sekitarnya ikut membentuk perjalanan kebudayaannya.
Ini sekaligus mengingatkan kita agar tidak memaksakan batas administratif Aceh hari ini kepada dunia ribuan tahun lalu.
Pegunungan tidak selalu merupakan tembok. Lembah, sungai dan celah gunung dapat menjadi jalan bagi manusia, barang, perkawinan, teknologi dan bahasa.
Aceh, Gayo dan Alas karena itu dapat berada dalam satu rumah sejarah tanpa harus mempunyai satu silsilah manusia atau bahasa yang sama.
Satu kodi, banyak benang.
Tetapi ketika kita menarik satu benang yang bernama bahasa Aceh, arahnya tiba-tiba berubah. Ia tidak membawa kita semakin jauh ke pedalaman Sumatra.
Ia membawa kita ke seberang laut.
Jika hanya melihat peta, kita mungkin menduga kerabat terdekat bahasa Aceh adalah Gayo, Alas, Batak atau Melayu. Ternyata tidak.
Linguistik historis menunjukkan hubungan sangat dekat antara bahasa Aceh dan kelompok bahasa Chamic yang sekarang terutama ditemukan di Vietnam dan Kamboja.
Hubungan itu bukan karena beberapa kata kebetulan terdengar mirip. Para ahli membandingkan kosakata, perubahan bunyi dan struktur bahasa, lalu merekonstruksi leluhur bahasa yang disebut Proto-Aceh-Chamic.
Di sini bahasa dan DNA harus dipisahkan dengan hati-hati. Hubungan Aceh-Chamic tidak berarti seluruh leluhur biologis orang Aceh berasal dari Champa.
Bahasa dapat berpindah tanpa menggantikan seluruh penduduk. Kelompok manusia yang tidak terlalu besar dapat membawa bahasa yang kemudian menyebar melalui perdagangan, perkawinan, kekuasaan atau prestise.
Jadi kita belum boleh mengatakan: orang Cham datang lalu menjadi orang Aceh.
Tetapi hubungan itu juga bukan kebetulan.
Bahasa Aceh menyimpan ingatan sangat tua tentang hubungan dengan dunia di seberang laut.
Baca juga: Aceh: Sebuah Biografi - Negeri yang Berada di Jalan Dunia - Pengantar
Tiba-tiba masyarakat yang sekarang berada dalam satu provinsi membawa kita ke arah berbeda. Gayo membawa kita jauh ke dalam sejarah dataran tinggi.
Alas menunjukkan hubungan menuju dunia Batak-Karo. Bahasa Aceh justru mengajak kita meninggalkan Sumatra dan menyeberangi laut.
Sekarang mari kembali ke tempat kita memulai.
Sekitar dua belas ribu tahun lalu, manusia sudah hidup di Tamiang. Lebih dari tujuh ribu tahun lalu, manusia meninggalkan jejak kehidupannya di Mendale.
Ribuan tahun kemudian dunia Austronesia datang, bertemu dengan sejarah manusia yang telah lebih dahulu ada, dan ikut membentuk lapisan manusia berikutnya.
Karena itu pertanyaan “siapa penduduk asli Aceh?” ternyata jauh lebih sulit daripada kedengarannya.
Asli sejak kapan?
Manusia Tamiang? Penghuni awal Mendale? Mereka yang datang bersama perluasan dunia Austronesia? Atau manusia hasil percampuran yang lahir beribu-ribu tahun kemudian?
Sejarah tidak menyediakan sebuah pintu tempat manusia pertama masuk lalu menerima sertifikat sebagai penduduk asli. Yang tersedia adalah lapisan demi lapisan kehidupan.
Kain palekat satu kodi itu ternyata masih berguna.
Masyarakat yang kemudian hidup dalam ruang bernama Aceh berada dalam satu ikatan sejarah, tetapi benang yang membentuk mereka tidak semuanya datang dari tempat dan waktu yang sama.
Sebagian sangat tua, sebagian datang kemudian, dan sebagian telah begitu lama ditenun bersama sehingga sulit mengetahui di mana satu benang berakhir dan benang lainnya bermula.
Tetapi satu benang masih menyimpan teka-teki luar biasa.
Bahasa Aceh.
Jejak kekerabatannya membawa kita menyeberangi laut, menuju Vietnam dan Kamboja, kepada sebuah dunia maritim yang pernah memainkan peranan penting dalam sejarah Asia Tenggara.
Namanya Champa.
Bagaimana mungkin bahasa di ujung utara Sumatra mempunyai saudara begitu dekat di sana? Apakah yang menyeberangi laut itu manusia, bahasa, atau keduanya? Dan kapan perjalanan itu berlangsung?
Untuk menjawabnya, pada bagian berikutnya kita harus melakukan sesuatu yang kelak berulang berkali-kali dalam biografi ini:
meninggalkan Aceh untuk memahami Aceh.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan mantan guru besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.