Dulu Cari Pantai dan Kuliner, Kini Banyak Orang Bepergian demi Hyrox
GH News September 12, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Dulu orang bepergian demi pantai, kuliner, atau landmark ikonik. Kini, tak sedikit yang terbang ke kota atau negara lain demi mengejar garis finis Hyrox.

Fenomena itu menunjukkan bagaimana olahraga kini menjadi alasan baru untuk bepergian. Jika beberapa tahun terakhir tren begitu populer melalui marathon, kini muncul gelombang baru dari ajang bernama Hyrox. Bahkan, muncul istilah baru

Hyrox menggabungkan kompetisi olahraga berseri sehingga membuka kesempatan buat sekaligus menjelajahi kota-kota di berbagai negara. Sepanjang 2025, lebih dari 80 perlombaan Hyrox digelar di berbagai negara dengan total lebih dari 550 ribu peserta dan 350 ribu penonton.

"Perjalanan untuk Hyrox adalah bagian dari perubahan cara orang berwisata. Kini banyak orang memilih destinasi berdasarkan minat, komunitas, dan tujuan pribadi mereka, bukan hanya untuk melihat-lihat tempat wisata," kata Tammy Ng, Vice President Brand and Marketing Hyatt Asia Pacific yang menjadi mitra hotel resmi Hyrox di kawasan tersebut, dikutip dari Sabtu (12/9).

Menurut dia, tren tersebut menunjukkan bahwa wisata kebugaran kini tidak lagi identik dengan spa atau retret kesehatan. Wisatawan juga mencari pengalaman yang melibatkan aktivitas fisik, performa olahraga, pemulihan tubuh, dan interaksi sosial.

Belakangan ini, Hyrox kian digemari, termasuk penggila olahraga di Indonesia. Apalagi, setelah perhelatan itu digeber di Jakarta 27-28 Juni lalu.

Popularitas Hyrox juga terlihat dari semakin banyaknya figur publik yang ikut menjajalnya. Nama-nama seperti Luna Maya, Marianne Rumantir, Cinta Laura, Irfan Bachdim, dan Jennifer Bachdim beberapa kali membagikan aktivitas latihan maupun pengalaman mengikuti kompetisi tersebut.

Tak sedikit peserta yang rela terbang ke kota atau negara lain demi mengikuti event Hyrox. Fenomena itu membuat Hyrox tak lagi dipandang sekadar lomba kebugaran, tetapi juga bagian dari tren atau wisata olahraga yang berkembang di berbagai negara.

"Di situ ada gabungan lari dan latihan . ," ujar Jennifer Bachdim di sela Ionation 2026 yang digelar di NICE PIK 2 baru-baru ini, dikutip dari Wolipop.

Jennifer Bachdim dan Andrea Dian di Hyrox CompetitionJennifer Bachdim dan Andrea Dian di Hyrox Competition (Instagram @andreadianbimo)

Berbeda dengan Jennifer, Andres Becerra, koki dan pengusaha restoran yang berbasis di Bali, telah mengikuti Hyrox di Bangkok, Shanghai, Hong Kong, hingga Perth, menjadikan Hyrox sebagai arena berkumpul dengan teman-teman sekaligus mengenal destinasi baru.

"Kami berlatih bersama, bepergian bersama, lalu menjelajahi kota-kota baru di sekitar lokasi perlombaan," ujarnya.

Melansir situs resminya, Hyrox pertama kali diluncurkan di Hamburg, Jerman, pada 2017 oleh Christian Toetzke dan Moritz Fürste. Sejak saat itu, kompetisi ini berkembang pesat dan kini digelar di puluhan kota di Eropa, Amerika Utara, Asia, hingga Australia.

Kota-kota seperti Hamburg, Paris, Manchester, Singapura, Sydney, Brisbane, Bilbao, hingga Poznan pernah menjadi tuan rumah Hyrox. Sementara puncak kompetisinya digelar melalui Hyrox World Championships yang berpindah-pindah lokasi setiap tahun.

Apa Itu Hyrox?

Hyrox adalah kompetisi fitness race yang menggabungkan lari dan latihan fungsional dalam satu format perlombaan yang sama di seluruh dunia. Formatnya sederhana, tetapi menantang.

Peserta harus menyelesaikan delapan kali lari sejauh 1 kilometer. Setelah setiap putaran lari, mereka wajib menyelesaikan satu stasiun latihan fungsional sebelum kembali berlari menuju tantangan berikutnya.

Artis Indonesia Ikut HYROX di JakartaIbnu Jamil ikut meraikan Hyrox di Jakarta (Instagram)

Karena formatnya identik di semua negara, peserta dapat membandingkan catatan waktu mereka dengan peserta lain di berbagai belahan dunia. Inilah yang membuat Hyrox memiliki daya tarik tersendiri bagi komunitas kebugaran global.

Hyrox juga dikenal dengan slogan . Artinya, kompetisi ini dirancang agar bisa diikuti oleh berbagai tingkat kemampuan, mulai dari pemula hingga atlet berpengalaman.

Sepanjang lomba, peserta akan menghadapi delapan stasiun latihan fungsional yang menjadi ciri khas Hyrox. Tantangan dimulai dengan SkiErg, yaitu mendayung menggunakan mesin ski ergometer sejauh 1.000 meter untuk menguji daya tahan tubuh bagian atas dan otot inti.

Berikutnya ada Sled Push, yakni mendorong sled berbobot sejauh 50 meter, lalu Sled Pull yang mengharuskan peserta menarik sled dengan tali menggunakan kekuatan tangan dan punggung.

Setelah itu peserta menghadapi Burpee Broad Jumps, kombinasi burpee dan lompatan ke depan sejauh 80 meter yang terkenal menguras tenaga.

Tantangan berlanjut ke Rowing sejauh 1.000 meter menggunakan mesin dayung, kemudian Farmer's Carry, yaitu berjalan sambil membawa beban di kedua tangan sejauh 200 meter.

Memasuki fase akhir, peserta harus menyelesaikan Sandbag Lunges sejauh 100 meter dengan membawa sandbag di bahu, sebelum menutup lomba dengan Wall Balls, yakni 100 kali squat yang disertai lemparan bola medis ke target tertentu.

Meski terlihat berat, Hyrox tidak hanya diperuntukkan bagi atlet profesional. Kategori Open menjadi pilihan paling populer karena ramah bagi pemula yang ingin merasakan pengalaman Hyrox untuk pertama kalinya.

Bagi peserta yang lebih kompetitif tersedia kategori Pro, dengan beban yang lebih berat dan persaingan yang lebih ketat.

Selain itu ada kategori Doubles, dua peserta bekerja sama menyelesaikan seluruh rangkaian lomba, ada pula kategori Relay yang memungkinkan satu tim, biasanya terdiri dari empat orang, berbagi tugas menyelesaikan lari dan stasiun latihan.

Pilihan kategori tersebut membuat Hyrox bisa diikuti oleh berbagai kalangan, mulai dari pencinta kebugaran yang baru mencoba tantangan baru hingga atlet yang mengejar prestasi.

Ketika Hyrox Menjadi Alasan buat Wisata

Pertumbuhan Hyrox di berbagai negara membuat banyak peserta mulai menjadikan kompetisi ini sebagai alasan untuk bepergian.

Mirip dengan tren yang berkembang lewat marathon dunia, peserta Hyrox biasanya datang beberapa hari sebelum perlombaan. Mereka mengambil , mengenal kota tuan rumah, lalu mengikuti lomba sebelum melanjutkan perjalanan wisata.

Tidak sedikit pula peserta yang sengaja memilih kota tertentu karena ingin merasakan atmosfer Hyrox di sana. Ada yang tertarik menjajal Singapura, ada yang mengincar Bangkok, sementara yang lain memilih kota-kota di Eropa yang sekaligus bisa menjadi destinasi liburan.

Salah satunya dokter bedah ortopedi asal Singapura, Alan Cheung. Bepergian untuk mengikuti Hyrox sudah menjadi bagian dari gaya hidupnya.

Sejauh ini, dia telah menyelesaikan sembilan lomba Hyrox, enam di antaranya berlangsung di negara lain. Kota-kota yang pernah dia datangi antara lain Seoul, Sydney, Melbourne, Hong Kong, Taipei, dan Bangkok.

"Saya suka bepergian dan suka olahraga. Hyrox memberi kesempatan untuk menggabungkan keduanya," kata Alan dikutip dari .

Menurut dia, perjalanan ke berbagai kota untuk mengikuti Hyrox juga menjadi cara baru untuk bertemu kembali dengan teman dan kerabat yang tinggal di luar negeri.

"Saya punya teman dan keluarga di berbagai negara yang juga suka olahraga. Kami bisa ikut lomba bersama, dan itu menjadi cara yang unik untuk bertemu dan menjalin kembali hubungan," kata dia.

Alan biasanya tidak bepergian sendirian. Dia kerap mengikuti kategori doubles bersama rekan-rekannya dari Singapura maupun Australia.

"Lebih seru karena kami berbagi pengalaman yang sama. Kategori doubles juga lebih menyenangkan karena bisa saling membantu, berbagi tugas, dan saling menyemangati selama lomba," kata dia.

Daya tarik Hyrox, menurut Alan, tidak berhenti di arena perlombaan. Karena sebagian besar event digelar di kota-kota besar, peserta juga bisa menikmati wisata, kuliner, hingga bertemu komunitas baru selama perjalanan.

"Saya biasanya sekalian mengunjungi teman atau keluarga. Karena lombanya digelar di kota besar, selalu ada kesempatan untuk jalan-jalan setelahnya," kata dia.

Saat mengikuti Hyrox di Taipei, misalnya, Alan menyempatkan diri mengunjungi Chiang Kai-shek Memorial Hall, salah satu landmark terkenal di kota tersebut.

Fenomena serupa dirasakan oleh Angus Tan, peserta Hyrox asal Singapura yang juga dikenal sebagai influencer kebugaran. Angus dan pasangannya terbang ke Jakarta untuk mengikuti Hyrox internasional pertamanya.

Awalnya, Jakarta dipilih karena alasan praktis. Jaraknya dekat dari Singapura sehingga tidak membutuhkan banyak cuti. Namun, setelah tiba, perlombaan justru menjadi pusat dari seluruh agenda perjalanannya.

Bagi Angus, yang paling menarik dari konsep adalah adanya tujuan yang jelas dalam setiap perjalanan.

"Ada kepuasan tersendiri ketika liburan itu terasa seperti hasil yang kita dapatkan setelah berjuang. Datang ke lomba, memberikan kemampuan terbaik di arena, lalu menikmati sisa perjalanan sebagai hadiah untuk diri sendiri," kata dia.

Hyrox sekaligus wisataNanda, salah satu peserta di Hyrox Jakarta 20206. (dok. pribadi)

Kombinasi antara tantangan fisik, suasana kompetisi, dan kesempatan menjelajahi destinasi baru membuat HYROX semakin menarik bagi komunitas kebugaran global.

Bagi sebagian orang, liburan tak lagi hanya soal rebahan di hotel atau berburu kuliner. Kini, ada juga yang memilih menghabiskan akhir pekan dengan berlari, mendorong sled, mengangkat beban, lalu pulang membawa medali dan cerita perjalanan dari kota lain. Wisatanya dapat, capeknya juga dapat.

Femi Diah
Jurnalis detikcom. Jurnalis detikcom
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.