TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Langit Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mendadak berubah menjadi kuning keabu-abuan pada Sabtu 12 September 2026 siang WIB.
Kondisi langit itu juga diperparah dengan kabut asap yang pekat dengan jarak pandang hanya sekitar 300–500 meter.
Bahkan diketahui, 30 penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak dibatalkan dan seluruh operasi udara penanganan karhutla dihentikan.
Berdasarkan pantauan situs IQAir pada pukul 11.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) di Pontianak menembus level yang sangat mengerikan, yakni menyentuh angka 1686 dengan status "Berbahaya" (warna ungu).
Konsentrasi polutan utama PM2.5 tercatat mencapai 921 µg/m⊃3; di tengah suhu udara yang menyentuh 38 derajat celcius.
Lantas apa penyebab langit kuning kemarin 12 September 2026?
• Ini Penyebab Seluruh Operasi Udara Penanganan Karhutla di Kalbar Dibatalkan
Plt Kepala BPBD Kalbar, Ridwan mengonfirmasi kondisi udara yang semakin memburuk pada Sabtu 12 September kemarin.
“Kalau kita lihat kondisi riil di lapangan, khususnya di Kota Pontianak hari ini, sejak pagi kabut asap memang terasa sangat pekat,” ujar Ridwan di kantornya, Jl. Adi Sucipto, Pontianak Tenggara, Sabtu siang.
Udara menyesakkan kemarin kata Ridwan, merupakan dampak asap kiriman dari wilayah pesisir selatan.
Berdasarkan data BMKG Kalbar per 11 September 2026, Pontianak tercatat bersih dari titik panas.
Namun, kebakaran hutan dan lahan justru terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang dengan 1.886 hotspot, disusul Kayong Utara 550 titik, dan Kubu Raya 293 titik.
“Dua kabupaten yang masih tinggi tingkat kebakarannya adalah Ketapang dan Kubu Raya. Bisa jadi ini yang memicu asap tebal di Pontianak, karena arah angin membawa material dari sana,” jelas Ridwan.
Analisis BPBD sejalan dengan prakiraan BMKG pada 12 September 2026.
Angin di ketinggian 3.000 kaki bertiup dari arah Tenggara dengan kecepatan 16–26 knot, mendorong asap dari Ketapang dan Kubu Raya langsung menuju Pontianak.
Ridwan juga menyoroti anomali di lapangan: kabut asap tetap pekat meski titik api di permukaan sudah menurun berkat operasi pemadaman. Faktor utamanya adalah karakteristik lahan gambut.
“Pemadaman gambut tidak mudah. Di permukaan terlihat padam, tapi di bawahnya masih terbakar. Bara itu terus menghasilkan asap,” tegasnya.
Sisa bara di kedalaman gambut bertindak layaknya tungku raksasa, menghasilkan asap putih pekat yang terbawa angin.
Inilah yang membuat Pontianak terus diselimuti kabut meski api di permukaan sudah berkurang.
• Jarak Pandang Hanya 300 Meter, Seluruh Operasi Udara Penanganan Karhutla di Kalbar Dibatalkan
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat (Kalbar), Daniel mengungkap alasan seluruh penerbangan operasi udara penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dibatalkan pada Sabtu 12 September 2026.
Sebelumnya, pembatalan operasi tersebut mencakup Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pemadaman jalur udara atau water bombing.
Keputusan ini disampaikan setelah hasil briefing malam tim satgas gabungan penanganan Karhutla Kalbar yang mengonfirmasi bahwa kondisi udara pada Sabtu 12 September 2026 sangat tidak memungkinkan dan membahayakan keselamatan penerbangan.
Daniel membeberkan bahwa sebanyak sembilan armada helikopter water bombing terpaksa disiagakan di darat (grounded).
Sembilan armada itu tidak bisa beroperasi karena jarak pandang belum mencapai angka aman yakni minimal 2.000 meter.
"Khusus water bombing itu kurang lebih ada sembilan unit, dua di Ketapang dan tujuh di basecamp Pontianak. Jarak pandang aman bagi mereka itu minimal 2.000 meter, tapi beberapa hari ini kurang dari itu. Rencananya pemadaman di wilayah Ketapang, Kubu Raya, dan Sintang, tapi operasi tidak dapat dilakukan karena jika dipaksakan akan menyalahi SOP dan sangat berbahaya," tegas Daniel saat ditemui usai melakukan briefing, Sabtu 12 September 2026 malam.
Pilot Skadron 4 TNI AU yang mengawaki pesawat Cassa NC 212, Lettu Pnb Andi Satria mengungkapkan bahwa jarak pandang di lapangan sangat buruk, bahkan memicu pembatalan penerbangan sipil komersial dari dan menuju Bandara Supadio Pontianak.
"Visibility tadi bertahan di angka 300 sampai 400 meter, paling bagus hanya 600 meter. Di jarak segitu kita tidak bisa terbang. Makanya penerbangan komersial juga dibatalkan semua hari ini," jelas Lettu Andi.
Sebagai informasi, Ridwan saat ini menjabat Plt Kepala BPBD Kalbar.
Ia dipercaya mengemban jabatan itu sejak Agustus 2026.
Ridwan diketahui merupakan lulusan Sarjana Teknik dan Magister Manajemen.
(*)