TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (APJATI) memperkuat kemitraan ketenagakerjaan antara Republik Indonesia (RI) dan Malaysia melalui penyelenggaraan Employment Business Matching (EBM) 2026 di Hotel Concorde, Kuala Lumpur, pada 6-7 September 2026.
APJATI adalah Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia, yaitu organisasi independen dan nirlaba yang mewadahi perusahaan penyedia jasa tenaga kerja.
Baca juga: Produktivitas dan Kompetensi Tenaga Kerja Jadi Sorotan Industri di RUU Ketenagakerjaan
Malaysia menjadi negara kedelapan sekaligus lokasi penyelenggaraan EBM terbesar.
Kegiatan ini bertujuan mendorong praktik rekrutmen pekerja migran yang aman, etis, profesional, dan berkelanjutan melalui pertemuan bisnis lintas negara.
Ketua Umum APJATI Said Saleh Alwaini menegaskan, memperbanyak jalur resmi adalah kunci utama untuk melindungi pekerja migran dari risiko penempatan non-prosedural.
"Malaysia pasar terdekat dan terbesar bagi pekerja Indonesia, dan di situlah jalur tidak resmi paling mudah tumbuh. Cara melawannya bukan menambah aturan, tetapi memperbanyak jalur yang benar dan mempermudahnya. Itulah fungsi EBM," kata Said dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), khususnya inisiatif "SMK Go Global".
SMK Go Global adalah program kolaborasi kementerian yang menjembatani pendidikan vokasi dengan pasar kerja global melalui penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Program tersebut dirancang untuk membuka akses lebih luas bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ke pasar kerja internasional.
Melalui jaringan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), kompetensi lulusan SMK dijembatani langsung dengan kebutuhan dunia usaha global.
Dipimpin oleh Said Saleh Alwaini dan Sekretaris Jenderal Maria Ginting, kegiatan ini membawa 74 delegasi dari 44 P3MI berizin.
Kehadiran mereka turut diperkuat oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) dari Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Palembang, Sulawesi, hingga Kepulauan Riau.
Pada hari pertama, asosiasi memprakarsai kolaborasi dengan Pertubuhan Kebangsaan Sumber Manusia Malaysia (PUSMA) yang dipimpin Presiden Siti Zarina Ismail.
Sesi ini mempertemukan delegasi Indonesia dengan 58 peserta dari 40 agensi anggota PUSMA.
Selanjutnya, pada hari kedua, forum diperluas dengan menghadirkan perwakilan dari 40 perusahaan Malaysia untuk melakukan penjajakan kerja sama secara langsung dengan P3MI asal Indonesia.
Penyelenggaraan EBM 2026 mendapat dukungan penuh dari Pemerintah RI.
Turut hadir:
Rangkaian acara diisi dengan dialog antar-pemangku kepentingan, pengenalan Sistem SIPERMIT oleh KBRI Kuala Lumpur, serta pemaparan program jaminan sosial oleh BPJS Ketenagakerjaan.
Forum juga dimanfaatkan untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja Malaysia agar selaras dengan kompetensi lulusan SMK.
Keberhasilan kolaborasi lintas negara ini menegaskan sinergi kuat antara pemerintah, asosiasi, dan dunia usaha.