Anak Krakatau Lahir Hampir 99 Tahun Silam, Begini Perjalanannya hingga Terus Membesar
Eri Ariyanto September 13, 2026 06:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan setelah aktivitas erupsi meningkat pada September 2026.

Namun, jauh sebelum dikenal sebagai Anak Krakatau, kawasan tersebut menyimpan sejarah letusan dahsyat yang pernah mengguncang dunia.

Kisah itu bermula dari Gunung Krakatau yang sempat tertidur selama sekitar 200 tahun sebelum kembali aktif pada Mei 1883.

Puncak aktivitas terjadi pada 27 Agustus 1883 ketika Krakatau mengalami letusan besar.

Sebagian besar kawasan utara pulau kemudian runtuh ke laut dan membentuk kaldera raksasa.

Letusan tersebut juga memicu tsunami dahsyat yang menerjang kawasan pesisir di sekitar Selat Sunda.

Bencana Krakatau 1883 diperkirakan menewaskan sekitar 36.000 orang serta menghancurkan ratusan kota dan desa.

Dampak letusan bahkan terasa hingga skala global karena suhu rata-rata dunia disebut turun sekitar 0,5 derajat Celsius.

Puluhan tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul di kawasan tersebut.

Pada 29 Desember 1927, nelayan melihat adanya letusan dari bawah laut yang menandai kemunculan aktivitas baru.

Pada Januari 1929, ahli vulkanologi Belanda Charles L. Stepen mengamati tumpukan material vulkanik yang kemudian membentuk sebuah pulau kecil.

KRAKATAU ERUPSI - Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali erupsi dua kali pada Rabu (8/7/2026). Meski aktivitas vulkanik meningkat, status gunung api tersebut masih bertahan pada Level III (Siaga).
KRAKATAU ERUPSI - Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali erupsi dua kali pada Rabu (8/7/2026). Meski aktivitas vulkanik meningkat, status gunung api tersebut masih bertahan pada Level III (Siaga). ((Ist)/Magma Indonesia)

Pulau tersebut terus tumbuh dan akhirnya dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Anak Krakatau kemudian mengalami berbagai aktivitas erupsi selama puluhan tahun.

Salah satu peristiwa paling mematikan terjadi pada 2018 ketika sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh.

Material longsoran masuk ke laut dan memicu tsunami di Selat Sunda yang menewaskan 437 orang.

Peristiwa tersebut kembali mengingatkan masyarakat bahwa bahaya Anak Krakatau tidak hanya berasal dari letusan, tetapi juga potensi longsoran tubuh gunung.

Ahli kegempaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, menjelaskan karakter Anak Krakatau berbeda dengan Krakatau pada 1883.

"Anak Krakatau memiliki volume magma dan tingkat erupsi yang jauh lebih kecil dibandingkan 1883," kata Daryono dikutip dari YouTube KOMPAS.COM.

Menurutnya, magma Anak Krakatau juga cenderung lebih cair sehingga gas dapat dilepaskan secara lebih bertahap.

Daryono menegaskan erupsi Anak Krakatau tidak serta-merta berarti akan terjadi tsunami.

"Selama tidak terjadi longsoran lereng berskala besar, erupsi Anak Krakatau tidak berpotensi membangkitkan tsunami," ujarnya.

Pada September 2026, Anak Krakatau kembali mengalami episode erupsi yang berlangsung sekitar 25 jam dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.40 WIB.

Badan Geologi hingga kini masih menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Sejarah panjang Krakatau menunjukkan bahwa aktivitas gunung api tersebut perlu terus dipantau, terutama karena perubahan tubuh gunung dapat menjadi faktor penting dalam potensi bahaya tsunami.

(TribunNewsmaker.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.