TRIBUN-MEDAN.com - Pencarian lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau memasuki hari kelima.
Tim SAR gabungan terus memperluas pencarian untuk menemukan rombongan yang sebelumnya berada di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.
Pada hari kelima, tim SAR mendapatkan sejumlah temuan di tengah proses penyisiran.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin Muchlisin mengatakan, sedikitnya ada empat benda yang ditemukan di sektor pencarian.
Temuan tersebut berada di sektor X, yakni wilayah antara Pulau Krakatau dan daratan Carita.
Benda pertama yang ditemukan berupa jeriken pada pukul 10.05 WIB.
Setelah itu, tim menemukan sebuah helm berwarna merah.
Kemudian pada pukul 17.10 WIB, tim SAR menemukan life jacket berwarna oranye.
Tak berhenti di situ, life jacket lainnya kembali ditemukan pada pukul 18.08 WIB.
Keempat benda tersebut kini menjalani proses identifikasi untuk memastikan asal-usulnya.
"Semua objek temuan akan diverifikasi kebenarannya dan sudah diserahkan kepada pihak Polda untuk mengidentifikasi apakah ini memang kepemilikan dari kapal sebagai sarana keselamatan atau bukan," kata Noer Isrodin dikutip dari YouTube KOMPASTV, Minggu (13/09/2026).
Tim SAR masih menunggu hasil identifikasi untuk memastikan apakah benda-benda tersebut berkaitan dengan rombongan jurnalis yang hilang.
Jika nantinya terbukti berasal dari kapal yang digunakan rombongan, area pencarian akan langsung dikerucutkan.
Saat ini, pencarian telah diperluas menjadi tujuh sektor dengan mengerahkan 14 aset utama berupa kapal serta dukungan patroli udara.
Wilayah pencarian bahkan telah mencakup area sekitar Pulau Sertung yang berada kurang lebih tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
Namun, lokasi tersebut termasuk kawasan berbahaya karena masih terdampak aktivitas erupsi.
Basarnas juga menggunakan aplikasi SARM Prediction untuk memperkirakan pergerakan dan lokasi yang berpotensi menjadi titik keberadaan korban.
Informasi dari keluarga salah satu survivor turut menjadi bahan analisis untuk menentukan arah pencarian.
Data tersebut kemudian dikonfirmasi dengan BMKG dan PVMBG, terutama terkait arah hembusan asap dan debu vulkanik.
Dari hasil pemetaan, sektor pencarian kini telah mencakup 360 derajat dari puncak Gunung Anak Krakatau dengan luas hampir 8.500 kilometer persegi.
Pencarian bawah air belum menjadi pilihan utama karena luasnya area yang harus disisir.
Namun, apabila salah satu benda yang ditemukan dipastikan berkaitan dengan kapal korban, tim SAR akan segera melakukan pencarian bawah air di lokasi yang dicurigai.
Kini, empat benda yang ditemukan menjadi petunjuk penting bagi tim gabungan untuk menentukan arah operasi berikutnya.
Pesan terakhir Heriyanto, pemandu 5 jurnalis sebelum hilang kontak di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten sejak Senin (7/9/2026).
Sang istri pilu berharap sang suami bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
Evi, istri Heriyanto (49) mengatakan suaminya mengirimkan foto kondisi terkini Gunung Anak Krakatau.
Foto tersebut dikirim beberapa jam setelah bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita.
Rombongan menggunakan speedboat Arupadhatu 1 sekitar pukul 14.00 WIB.
Adapun sebuah foto erupsi Gunung Anak Krakatau yang dikirim melalui aplikasi WhatsApp pada pukul 18.13 WIB menjadi pesan sekaligus komunikasi terakhir dari Heriyanto.
"Dia kirim foto, jam 18.13, saya balas lagi jam 19.35 WIB pesan cuma ceklis satu, gak ada komunikasi lagi sampai sekarang," kata Evi saat mendatangi Posko SAR Terpadu Marina Carita, Rabu (9/9/2026) menanti kabar suaminya.
Evi menjelaskan, suaminya sempat berpesan sebelum berangkat bahwa perjalanan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut hanya berlangsung sehari tanpa ada rencana menginap.
Rombongan awalnya diperkirakan sudah kembali ke daratan pada sore hari.
Namun hingga malam tiba, rombongan tidak kunjung pulang dan hilang kontak.
Evi mengenang kebiasaan suaminya yang selalu rutin memberi kabar selama bertahun-tahun bekerja di laut.
Selain foto erupsi tersebut, tidak ada informasi lain mengenai posisi maupun kondisi rombongan.
Evi menambahkan, rombongan hanya membawa bekal sederhana untuk perjalanan singkat tersebut.
"Menunya bawa air mineral satu dus, lunch box lima, dan semangka satu biji. Sudah, bawa itu doang," ujar Evi.
Sikap tak Biasa Heriyanto
Evi menceritakan bahwa suaminya memang sudah terbiasa mengantar wisatawan maupun tamu khusus ke area laut tersebut.
Pada perjalanan-perjalanan sebelumnya, Heriyanto bahkan pernah menginap di kawasan Krakatau, namun komunikasi selalu terjalin lancar karena tersedianya sinyal seluler.
Kondisi berbeda terjadi dalam pelayaran kali ini. Kontak terakhir yang diterima Evi dari sang suami terjadi pada Senin sore sekitar pukul 18.13 WIB.
Saat itu, Heriyanto tidak memberikan pesan suara maupun tulisan, melainkan hanya mengunggah sebuah gambar.
"Dia cuma kirim gambar aja. Gambar Gunung Anak Krakatau," kata Evi.
Sikap diam Heriyanto setelah mengirimkan foto tersebut membuat Evi merasa heran sekaligus khawatir.
Pasalnya, selama puluhan tahun bekerja di laut, sang suami selalu memiliki kebiasaan untuk memberi kabar secara berkala kepada keluarga di rumah, baik saat baru menginjakan kaki di lokasi tujuan maupun saat hendak bertolak pulang.
"Selalu ngabarin sudah sampai, mau pulang selalu ngabarin," tuturnya.
Kehilangan kontak yang berlangsung hingga berhari-hari ini berdampak besar pada kondisi fisik dan mental Evi.
Ia mengaku tidak bisa tidur tenang lantaran terus memikirkan nasib suaminya di tengah laut.
Meski demikian, Evi berusaha tegar dan menggantungkan harapan pada proses pencarian yang sedang berlangsung.
"Khawatir, cuma bismillah aja lah. Semoga selamat, ketemu. Pasrah, ikhlas," ucapnya.
Di tengah situasi sulit tersebut, Evi menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada tim SAR gabungan yang terus berjuang menyisir perairan Selat Sunda.
"Enggak bisa tidur. Semoga ketemu. Selamat. Dari pihak Tim SAR Basarnas juga sudah bekerja keras, upaya untuk mencari. Mudah-mudahan ketemu lagi sih, selamat," katanya.
(*/Tribun-medan.com)