TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mulai mengubah aktivitas belajar siswa.
Sejak pembelajaran dialihkan ke sistem daring, rumah menjadi ruang belajar bagi siswa sekaligus tempat orangtua mendampingi anak menyelesaikan tugas sekolah.
Orangtua tidak hanya memastikan anak mengikuti pembelajaran dari rumah.
Mereka juga harus mendampingi anak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang tetap diberikan guru lewat pesan WhatsApp.
Kondisi tersebut dirasakan Nova, seorang orangtua siswa di Maros.
Menurut Nova, pembelajaran dari rumah membuat orangtua harus mengambil peran lebih besar dalam mendampingi anak belajar.
"Tugas dari sekolah tetap diberikan sehingga anak tetap membutuhkan pendampingan saat menyelesaikannya," kata dia.
Kondisi itu menjadi salah satu perubahan aktivitas keluarga setelah Pemerintah Kabupaten Maros mengalihkan pembelajaran siswa ke sistem daring.
Kebijakan tersebut berlaku bagi siswa jenjang TK/PAUD, SD hingga SMP selama sepekan, mulai 12 hingga 19 September 2026.
Pengalihan pembelajaran dilakukan di tengah antrean kendaraan di sejumlah SPBU yang menyebabkan kemacetan di beberapa ruas jalan.
Bupati Maros Chaidir Syam mengatakan kebijakan tersebut diambil untuk mengurangi mobilitas kendaraan pada jam sekolah.
“Melalui kebijakan ini, aktivitas belajar mengajar tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa melakukan perjalanan dari rumah menuju sekolah, sehingga mobilitas kendaraan pada jam-jam sekolah dapat kita tekan,” katanya, Minggu (13/9/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Maros, Andi Wandi B Putra Patabai, mengatakan sekolah diberikan keleluasaan menggunakan platform maupun media pembelajaran yang mudah diakses siswa.
“Kami juga meminta sekolah untuk tetap memperhatikan keamanan dan kebersihan lingkungan sekolah selama pembelajaran daring berlangsung,” katanya.
Bagi orangtua, perubahan sistem belajar tersebut membuat aktivitas anak dan keluarga ikut menyesuaikan.
Sebelumnya, Nova harus menghadapi kemacetan yang terjadi akibat antrean BBM ketika mengantar anak ke sekolah.
Orangtua siswa lainnya, Musna, mengatakan waktu tempuh mengantar anak ke sekolah meningkat akibat kepadatan kendaraan di sekitar SPBU.
“Biasanya kalau saya antar anak cuma butuh waktu 15 menit, sekarang bisa 40 menit saking macetnya. Makanya harus berangkat lebih pagi, siksa juga kita ini,” kata Musna.
Menurut Musna, pembelajaran daring cukup membantu sementara karena anak tidak perlu keluar rumah dan orangtua tidak harus melewati ruas jalan yang dipadati kendaraan yang mengantre BBM.
Namun, belajar dari rumah juga memiliki kendala.
Musna khawatir pembelajaran daring terganggu ketika terjadi pemadaman listrik dan gangguan jaringan internet.
“Tapi kan ada kekhawatiran saat ini, lampu padam. Akhir-akhir ini kan selalu mati lampu. Kalau mati lampu, jaringan pasti jelek juga,” ujarnya.
Kelangkaan BBM dengan demikian tidak hanya memengaruhi perjalanan warga menuju SPBU dan sekolah, tetapi juga mengubah aktivitas belajar siswa selama kebijakan pembelajaran daring diberlakukan.
Nova dan Musna berharap pasokan BBM segera kembali normal sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar anak, dapat kembali berlangsung seperti sebelumnya. (*)