Andy Rusli: Kami Ingin Batik Keris Lebih Dikenal Kalangan Anak Muda
Moh. Habib Asyhad February 26, 2025 01:34 PM

Selain ingin Batik Keris lebih dekat dengan anak muda, Andy Rusli ingin mengembalikan kejayaan perusahaan batik kelahiran 1947 itu sama seperti sebelum pandemo Covid-19.

---

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -"Keinginan saya adalah Batik Keris lebih dikenal oleh anak muda, generasi milenial dan generasi Z," ujar Andy Rusli, putra Lina Tjokrosaputro owner Batik Keris, Kamis, 20 Februari 2025.

Andy sudah setahun terakhir benar-benar terlibat dalam pengembangan perusahaan batik yang berpusat di Cemani, Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, itu. Terlebih setelah meninggalnya sang mertua, Handianto Tjokrosaputro.

Batik Keris adalah perusahaan batik yang didirikan oleh pasangan Kasom Tjokrosaputro dan Gaitini pada 1946. Ayah Kasom, Kwee Tiong Djing, juga seorang pengusaha batik yang menjalankan bisnisnya sejak 1920.

Pada 1970 Batik Keris berubah bentuk dari perusahaan perseorangan menjadi perseroan terbatas (PT), dengan akta Notaris R. Sugondo Suryo No. 1 pada tanggal 2 April 1970 di kota Solo. Akta tersebut terdaftar pada Menteri Kehakiman Republik Indonesia tanggal 28 september 1971 No. JA 5/143/18 dan dimuat dalam berita Negara Republik Indonesia tanggal 2 Februari 1973 No. 10.

Dunia industri sejatinya bukan hal yang asing bagi Andy Rusli yang seorang lulusan sekolah bisnis di salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat itu. Sebelum mengurusi Batik Keris, Andy sudah dipasrahi untuk mengurusi perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang garmen, yang ada di Bandung dan Boyolali.

Andy Rusli, kelahiran 1987, lahir dan besar di Bandung. Setelah lulus SMA, dia melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat, mengambil konsentrasi bisnis. Setelah lulus, dia kembali ke Bandung dan membantu bisnis keluarga.

Pada 2013 Andy memutuskan pindah ke Boyolali, Jawa Tengah, mengembangkan salah satu lini bisnis milik keluarganya yang ada di sana. Awalnya dia diminta keluarga untuk mengecek kondisi pabrik untuk membuat keputusan, apakah perusahaan akan ditutup atau tetap dibuka.

“Kami punya tanah besar tapi karyawan waktu itu hanya 100 sampai 200 orang. Karena keluarga saya di Bandung tidak ada yang mau mengecek di Boyolali, jadi saya yang berangkat. Hingga saya putuskan, saya akan pindah dan membesarkannya. Jadi dalam lima tahun, kami tumbuh dari 200 karyawan menjadi 2000 orang,” ujarnya.

Untuk lebih lengkapnya, simak wawancara Intisari dengan Andy Rusli di Rumah Heritage Batik Keris pada Kamis, 20 Februari 2025 lalu.

Bagaimana perasaan Anda menjadi bagian dari perusahaan sebesar Batik Keris?

Saya sendiri sebetulnya datang dari generasi ketiga produsen tekstil, yang berorientasi di sport. Kami punya fasilitas di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Lalu saya menikah dengan istri dari keluarga Batik Keris. Setelah 15 tahun membangun bisnis keluarga, setelah mertua saya meninggal dunia (Handianto Tjokrosaputro, owner Batik Keris), saya diperbantukan di sini [Batik Keris] mulai tahun lalu (2024), ditugasi mengurus Batik Keris.

Kebetulan, skala bisnis keluarga saya tidak berbeda jauh dengan Batik Keris. Begitu saya masuk ke sini ya mirip-mirip lah – apa yang harus saya lakukan.

Hal baru apa yang Pak Andy lakukan?

Lebih banyak dalam hal kualitas, seperti desain, dll. Karena sebelumnya saya bekerja untuk market ekspor terutama market Amerika, Eropa, dan Jepang, jadi saya mencoba membawa inovasi dan teknologi – yang dipakai di perusahaan saya – ke Batik Keris. Batik, kan, banyak yang menganggapnya kuno, ketinggalan zaman, jadi saya mencoba membuat batik bisa relevan untuk anak-anak muda, dan dunia pada umumnya.

Berarti bermain sosmednya dikencangkan?

Media sosial mulai main. Tapi lebih dari itu, desain baju juga lebih modern. Sebelumnya desainnya lebih tua. Sekarang lebih masuk ke kota-kota besar, sementara dulu sangat identik dengan Jawa. Sekarang perpaduan seluruh Indonesia.

Butuh berapa lama untuk mengubah itu?

Sampai perubahan sekarang itu butuh mungkin enam bulan, karena development-nya panjang. Termasuk kain, aksesoris, desain, hingga proses selanjutnya. Kalau sampai puasnya, tentu akan memakan waktu bertahun-tahun. Cuma, sekarang pun perubahannya sudah cukup signifikan dibanding sebelumnya.

Tolok ukurnya apa?

Sebelumnya kita punya main customer, rata-rata umurnya 40 tahun ke atas, sebagian besar 50 tahun ke atas, malah. Dulu, banyak anak muda, kalau kita lihat di kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, mereka jarang sekali memakai batik ke mal-mal, terutama yang high-end.

Nah, kita mencoba agar batik ini bisa diterima oleh kalangan muda yang profesional supaya mereka tidak “malu” kalau pakai batik. Mudahnya, batik ini bisa nge-blend in, itu yang coba kita untuk dikerjakan.

Apakah termasuk merekrut desainer di kalangan muda?

Untuk saat ini, saya sendiri yang memegang – urusan desain. Tapi kita juga mencoba mengambil desainer muda, mengumpulkan tim yang lebih Gen Z, juga milenial. Sebelumnya, desainer kita adalah kalangan babyboomers, 50 tahun ke atas.

Bagaimana mereka mengejar?

Selama konsepnya sudah dipikirkan dari awal, maka mereka tinggal mengikuti saja. Jadi tidak terlalu sulit. Berbeda halnya jika mereka yang membuat konsep dan bikin dari nol mungkin sulit bagi mereka.

Semuanya sudah ada pakemnya, mereka tinggal mengikuti saja. Kalau mereka mau ubah-ubah sedikit dari rancangan awal yang saya bikin, masih bisa. Tapi mereka tidak usah memikirkan dari nol.

Saat ini berapa pembatik/pengrajin yang terlibat?

Jadi, Batik Keris itu membuat produk dari koleksi printing, cap, dan batik tulis. Untuk yang namanya handmade itu yang cap dan batik tulis. Saat ini kami punya sekitar seratus orang, termasuk tim finishing, pencelup, QC; kalau yang membatik sekitar 20-30 orang.

Sebetulnya dulu kita punya pembatik sekitar seratusan, lalu karena pandemi, lalu mertua saya meninggal, jadi tidak ada mengurus dan mengecil terus. Saat ini kami sedang berusaha membesarkannya lagi. Dari tujuh orang, sekarang sudah ada tiga puluh (30) pembatik, dan kita ingin naik terus menjadi 40, 50, hingga seratus pembatik.

Untuk usia pembatik, rata-rata berapa?

Sebagian besar 40 tahun ke atas, tidak tua-tua amat. Tapi ada juga yang 50 tahun. Kita, sih, terus mencari yang lebih muda, tapi yang namanya generasi sekarang, kerjanya lebih suka di mal, kantoran, ber-AC, dll.

Sebetulnya kalau dari opini saya sendiri, dari sisi teknis membatik, lebih bagus orang zaman dulu dibanding orang zaman sekarang. Bagi saya, orang zaman dulu, mereka membatik karena suka membatik. Ada kesan seninya.

Tapi sekarang, lebih banyaknya untuk kerja, cari uang, industri. Jadi untuk mencapai kualitas terbaik itu kita perlu lebih lama waktunya.

Apakah tetap ada upaya mencari pembatik yang lebih muda?

Tentu ada, dan kami terus mencarinya. Berharap para pembatik dari kampus, sepertinya agak susah. Mereka, kan, S1, apalagi S2, terlebih banyak dari mereka yang mencari jenjang karier yang lebih panjang. Untuk pembatik, kami akan mencari yang lulusannya SMP, atau SMA, atau yang autodidak.

Kalau dari kampus biasanya lebih untuk tim desain yang printing collection, yang kerjanya lebih banyak di depan komputer. Sementara untuk yang handmade, harus berpanas-panas di depan lilin dan sebagainya. Jadi, untuk mereka lebih “sulit”. Mereka kita rekrut biasanya untuk posisi staf kantor.

Pertimbangannya apa?

Mungkin mereka melihat teman-temannya biasanya di kantor, di mal, sementara mereka harus berpanas-panasan, keringetan, dll. Enggak banyak anak sekarang yang mau seperti itu, bukan?

Target Pak Andy jangka pendek sendiri apa?

Untuk model, tidak terlalu banyak yang akan diubah. Sekarang kami sedang mencari cara bagaimana reach-out kepada young people, milenial, Gen Z; bahwa batik itu bisa dipakai sehari-hari, lho, tidak hanya dalam acara-acara resmi seperti perkawinan dan lainnya. Bagaimanapun juga, itulah resepsi kita selama ini – terutama orang-orang kota.

Target marketing kami adalah bagaimana cara batik bisa dipakai sehari-hari, sebagaimana orang-orang Jawa melakukannya. Kedua adalah bagaimana seluruh orang punya persepsi yang sama terkait penggunaan batik, ya tadi, untuk kehidupan sehari-hari.

Selain bermain di motif dan media sosial, apa lagi?

Mal kita sedang bertumbuh kembali. Tahun ini kira-kira kami akan menambahkan sekitar sepuluh sampai 15 gerai di seluruh Indonesia. Dan setiap tahunnya semoga bisa bertumbuh terus.

(Andy Rusli kemudian menunjukkan kepada kepada akun Instagram Batik Keris, dan memperlihatkan beberapa perbedaan desain dalam postingannya)

Jadi kita dari motif, dari warna, dari desain baju, dari model yang kita gunakan, semua sudah berubah total. Lebih nasional istilahnya. Juga ada penggabungan dengan style baru, seperti blazer, aksesori yang beragam, pakai boot, dll. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan seperti itu.

Sebagai informasi, Batik Keris adalah salah satu pioneer brand nasional yang ada di mal-mal. Jadi peluang kami untuk marketing di mal-mal sebenarnya sangat terbuka lebar.

Tapi sejak mertua tidak ada, eksistensi kami di malnya jauh lebih berkurang. Itulah yang sekarang coba kami kembalikan. Jadi, bisa dibilang, short-term-nya adalah mengembalikan Batik Keris seperti sebelum Corona.

© Copyright @2025 LIDEA. All Rights Reserved.