TRIBUNNEWS.COM - Angkatan bersenjata Jerman, Bundeswehr, mengumumkan bahwa pasukannya akan ditempatkan di sepanjang sisi timur NATO, tepatnya di Lithuania.
Unit tersebut diperkirakan akan beroperasi penuh pada tahun 2027.
Mengutip Newsweek, ini menandai pertama kalinya tentara Jerman ditempatkan secara permanen di luar negeri sejak Perang Dunia II.
"Kami memiliki misi yang jelas. Kami harus memastikan perlindungan, kebebasan, dan keamanan sekutu kami di Lithuania, yang berada di sisi timur NATO," kata Brigadir Jenderal Christoph Huber, komandan brigade Jerman di negara sekutu tersebut, saat peresmian unit tersebut pada 1 April 2025.
Sebelumnya, Jerman telah mengerahkan pasukan ke Afghanistan, tetapi tidak dalam penempatan permanen.
Lithuania berbatasan dengan Belarus—sekutu Rusia—serta dengan daerah kantong Rusia, Kaliningrad.
Kaliningrad diperkirakan dapat menjadi lokasi konflik di masa mendatang antara Rusia dan NATO jika ketegangan semakin meningkat.
Negara-negara Baltik, yang sebelumnya berada di bawah kekuasaan Uni Soviet, berpendapat bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak akan menghentikan ekspansi militernya hanya di Ukraina.
Langkah yang diambil Jerman dan Lithuania ini merupakan respons paling langsung terhadap kekhawatiran tersebut sejauh ini.
Sebagai informasi, Rencana Aksi Peta Jalan (Roadmap) antara Jerman dan Lithuania disetujui pada Desember 2023.
Saat itu, kedua negara memuji kesepakatan tersebut sebagai momen bersejarah bagi mereka dan NATO, sekaligus sebagai langkah strategis untuk memperkuat sisi timur aliansi dalam menghadapi agresi Rusia.
Brigade Lapis Baja ke-45 yang baru dibentuk—kelompok lobi militer Jerman—telah diresmikan dalam sebuah upacara di luar ibu kota Lithuania, Vilnius, menurut pernyataan Bundeswehr.
Markas sementara untuk unit ini telah didirikan dan berada di bawah komando Brigadir Jenderal Christoph Huber.
Saat ini, Huber memimpin sekitar 150 tentara, dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 500 personel pada akhir tahun 2025.
Dilaporkan sebelumnya, Dinas Intelijen Federal Jerman (BND) dan angkatan bersenjata negara tersebut menilai bahwa Rusia memandang Barat sebagai musuh sistemik.
Rusia disebut sedang membangun kekuatan militernya dan bersiap untuk konfrontasi skala besar dengan NATO.
Dilansir Pravda Eropa, dengan mengacu pada laporan media Jerman, Bild, diyakini Presiden Rusia Vladimir Putin siap menggunakan kekuatan militer untuk mewujudkan tujuan imperialisnya.
Penilaian tersebut, yang juga dilaporkan oleh media Jerman lainnya seperti Süddeutsche Zeitung, WDR, dan NDR, menunjukkan Putin tidak akan puas hanya dengan Ukraina.
Pada akhir dekade ini, Rusia kemungkinan telah menciptakan semua kondisi yang diperlukan untuk dapat melancarkan perang konvensional berskala besar.
Badan Intelijen Lituania (VSD) meyakini saat ini Rusia belum berada dalam posisi untuk melancarkan perang konvensional berskala besar melawan NATO dalam jangka menengah.
Namun, tindakan militer terbatas terhadap satu atau lebih negara NATO masih mungkin dilakukan.
Putin diduga berencana untuk menguji seberapa serius negara-negara NATO benar-benar menjalankan kewajiban Pasal 5, yaitu memberikan bantuan kepada negara anggota jika terjadi keadaan darurat.
Laporan BND menunjukkan, meskipun tiga perempat tentara dan peralatan Rusia dari wilayah perbatasan Baltik saat ini dikerahkan di Ukraina, angkatan udara dan angkatan laut Rusia tetap dalam keadaan siaga penuh.
Jika perang di Ukraina berakhir, unit-unit Rusia akan dikerahkan kembali ke wilayah tersebut.
Meskipun mengalami kerugian besar dan terkena sanksi Barat, Putin terus memperkuat militernya.
Bundeswehr dan BND melaporkan ekonomi militer Rusia menghasilkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan perang di Ukraina.
Pada 2026, jumlah Angkatan Bersenjata Rusia diperkirakan akan meningkat menjadi 1,5 juta tentara.
Menurut rencana pada 2022, jumlah personel, senjata, dan peralatan militer Federasi Rusia di perbatasan dengan NATO harus ditingkatkan sebesar 30-50 persen.
Kremlin diketahui meningkatkan pengeluaran militer dengan sangat pesat.
Pada 2025, jumlahnya akan mencapai sekitar €120 miliar, yang setara dengan lebih dari 6 persen PDB.
Dengan demikian, Rusia hampir melipatgandakan anggaran militernya hingga empat kali lipat dibandingkan dengan tahun 2021.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)