Usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif dagang terhadap banyak negara tindakan itu menuai kecaman pemimpin dunia. Bahkan di antara mereka akan mengambil tindakan balasan sementara yang lain berharap Gedung Putih terbuka untuk negosiasi.
Dikutip dari Reuters, Kamis (3/4), rival sekaligus mitra dagang terbesar AS, China, mendesak Washington untuk segera membatalkan tarif dagang dan bersumpah akan melindungi kepentingan negaranya. China bahkan mengancam akan membawa AS ke perang dagang yang dapat mengganggu rantai pasokan global.
Sementara, PM Australia Anthony Albanese menyebut penetapan tarif dagang AS bukan tindakan seorang teman. Australia dan AS dikenal sebagai negara sekutu.
"Tarif yang ditetapkan pemerintahan Trump tidak memiliki dasar logika dan bertentangan dengan dasar kemitraan kedua negara," kata Albanese.
Pemimpin di Jepang, Selandia Baru, Taiwan, dan Korsel yang merupakan mitra utama AS di kawasan juga mengecam langkah Trump.
"Kami harus memutuskan apa yang terbaik untuk Jepang, dan paling efektif, dengan hati-hati namun berani dan cepat," kata Menteri Perdagangan Jepang Yoji Muto ketika ditanya apakah Jepang akan membalas AS.
Trump sebelumnya mengatakan akan memberlakukan tarif dasar 10% pada semua impor ke AS dan bea yang lebih tinggi pada puluhan negara lainnya.
Perbesar
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru dengan disaksikan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
Di antara sekutu dekat AS, Jepang menjadi sasaran tarif 24%, Korsel 25%, Taiwan 32%, dan Uni Eropa 20%. Sementara Inggris, Australia, Selandia Baru, Arab Saudi, dan sebagian besar negara Amerika Selatan dibebaskan dengan tarif minimal 10%.
"Konsekuensi akan mengerikan bagi jutaan orang di seluruh dunia," kata Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen.
"Kami siap merespons, kami menyiapkan paket tindakan lebih lanjut untuk melindungi kepentingan kami," tuturnya.
Meski demikian, Trump tidak menerapkan tarif baru pada Kanada dan Meksiko. Kedua negara itu tetap ditetapkan tarif hingga 25% pada sejumlah barang dari kedua negara terkait masalah kontrol perbatasan dan perdagangan fentanil.
"Kami akan melawan tarif ini dengan tindakan balasan, kami akan melindungi pekerja kami, dan kami akan membangun ekonomi terkuat di G7," kata Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan Meksiko tidak akan melakukan balas dendam. Sebaliknya, Meksiko akan mengumumkan program komprehensif sebagai respons.
Sementara Brasil yang dikenakan tarif 10% mengatakan akan mengevaluasi semua tindakan yang mungkin untuk memastikan timbal balik dalam perdagangan bilateral, termasuk menggunakan Operasi Perdagangan Dunia.