Pemerintah Tunda Konferensi Pers Respons Kebijakan Tarif Impor Trump 32 Persen
kumparanBISNIS April 03, 2025 08:20 PM
Rencana kebijakan tarif baru yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap negara mitra dagangannya telah memicu reaksi cepat dari berbagai negara.
Namun, di tengah derasnya respons global, pemerintah Indonesia menunda konferensi pers yang semula dijadwalkan untuk merespons kebijakan tersebut.
Mulanya, konferensi pers (konpers) dijadwalkan pada hari ini, Kamis (3/4) pukul 10.45. Namun, konpers tersebut ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.
Konpers tersebut rencananya dihadiri oleh Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Luar Negeri Sugiono, dan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza.
Dalam undangan tersebut menyebutkan pembahasan secara lebih teknis terkait Kebijakan Tarif AS tersebut. Selain itu juga dampak beragam komoditas sehingga masih memerlukan pembahasan secara komprehensif di tataran masing-masing K/L.
"Menimbang hal tersebut, kami sampaikan bahwa press conference tersebut ditunda hingga pemberitahuan selanjutnya,” bunyi pengumuman yang disampaikan oleh Kementerian Perekonomian, Kamis (3/4).
Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal atau timbal balik hingga 32 persen terhadap produk-produk asal Indonesia, sebagai bagian dari perang dagang global yang digagasnya.
Perbesar
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bersiap mengikuti rapat yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (19/3/2025). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Keputusan Trump untuk menaikkan tarif impor terhadap Indonesia didasarkan pada kekhawatiran meningkatnya defisit perdagangan AS terhadap negara tersebut.
Dalam konferensi pers, Trump menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bagian dari strategi "Liberation Day" atau "Hari Pembebasan" yang bertujuan untuk melindungi industri domestik AS.
"Mengapa kita melakukan ini? Maksud saya, kapan kita bisa mengatakan kalian harus bekerja untuk diri sendiri. Kita akhirnya mengutamakan Amerika," kata Trump dalam pernyataannya yang dikutip oleh Reuters pada Kamis (3/4).
Selain Indonesia, negara-negara ASEAN lainnya juga terkena dampak dari kebijakan tarif Trump. Thailand dikenakan tarif impor 36 persen, sementara Vietnam terkena tarif lebih tinggi, yaitu 46 persen. Negara-negara sekutu AS seperti Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga tidak luput dari kebijakan ini dengan tarif masing-masing 20 persen, 24 persen, dan 25 persen.
“Dalam banyak kasus, teman lebih buruk daripada musuh dalam hal perdagangan,” ujar Trump, menggarisbawahi bahwa bahkan sekutu AS pun tidak akan mendapatkan perlakuan istimewa dalam kebijakan perdagangannya.
Kenaikan tarif ini berpotensi menghambat daya saing produk-produk Indonesia di pasar AS. Pelaku usaha dan eksportir dalam negeri kini harus mencari strategi alternatif untuk mengatasi dampak kebijakan ini, baik dengan mencari pasar baru maupun berupaya menegosiasikan ulang kebijakan perdagangan dengan AS.