TRIBUNNEWS.COM - Perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada 24 Februari 2022 telah memasuki hari ke-1137.
Pada Jumat, 5 April 2025, Kryvyi Rih, sebuah kota di Ukraina tengah dan kampung halaman Presiden Volodymyr Zelensky, kembali menjadi sasaran serangan rudal Rusia.
Serangan ini mengakibatkan kematian 18 orang, termasuk sembilan anak-anak, serta menyebabkan puluhan orang lainnya terluka.
Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim bahwa serangan rudal ini menargetkan sebuah pertemuan militer Ukraina.
Namun, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menuduh pihak Rusia menyebarkan informasi yang tidak benar.
Menurut laporan, rudal yang digunakan, yaitu Iskander-M, menghantam area permukiman yang dekat dengan taman bermain, bukan target militer seperti yang diklaim oleh Rusia.
Gubernur wilayah Dnipropetrovsk, Serhiy Lysak, melaporkan bahwa serangan tersebut memicu kebakaran hebat di daerah permukiman. "Sedikitnya 50 orang dilaporkan terluka, dengan lebih dari 30 lainnya, termasuk bayi berusia tiga bulan, dilarikan ke rumah sakit," ujarnya melalui Telegram.
Presiden Zelensky menyampaikan rasa belasungkawa dan kemarahan melalui pidato video malam harinya.
Ia menyerukan kepada dunia barat untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow terkait serangan yang menargetkan warga sipil. "Semua janji Rusia berakhir dengan rudal, drone, bom, atau artileri. Diplomasi tidak berarti apa-apa bagi mereka," tambah Zelensky.
Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim bahwa serangan ini menargetkan sebuah restoran yang diduga sebagai lokasi pertemuan perwira militer Ukraina dan instruktur asing.
Namun, pihak Ukraina menegaskan bahwa klaim tersebut adalah kebohongan dan justru menargetkan warga sipil.
Mereka mengutuk serangan yang dinilai sangat brutal terhadap warga sipil yang tidak bersalah.
"Departemen militer negara agresor berusaha menutupi kejahatan sinisnya dengan kebohongan," tegas Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina.
Serangan di Kryvyi Rih ini pun menjadi salah satu yang paling mematikan tahun ini.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa pemerintahan AS tidak akan terjebak dalam negosiasi tanpa akhir dengan Rusia. "Kami sedang menguji untuk melihat apakah Rusia benar-benar tertarik pada perdamaian," kata Rubio.
Ia menekankan bahwa tindakan nyata, bukan kata-kata, akan menjadi penilaian terhadap keseriusan Moskow.
Sementara itu, Ukraina dan Rusia saling menuduh melanggar moratorium yang sebelumnya ditengahi oleh Amerika Serikat terkait serangan terhadap infrastruktur energi.
Zelensky menuduh Rusia melancarkan serangan pesawat nirawak ke pembangkit listrik di Kherson, sementara Rusia mengeklaim Ukraina melakukan serangan terhadap fasilitas energi di wilayahnya.
Serangan terbaru ini menambah ketegangan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun, dengan potensi memperburuk krisis energi dan kemanusiaan di wilayah tersebut.
Belum ada tanda-tanda deeskalasi, dan masing-masing pihak terus saling menyalahkan.
Serangan yang mematikan ini menjadi sorotan internasional dan menuntut respons tegas dari komunitas global untuk menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).