TRIBUNMANADO.CO.ID - Dua wanita ini berpelukan dengan penuh kesedihan di samping peti jenazah keluarga Antoineta Evia Maria Mangolo, Jumat (2/1/2026) di Perum CBA Gold Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Jumat (2/1/2026).
Evia adalah mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima) yang meninggal tak wajar di tempat kos di Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut).
Seorang wanita adalah Sofia Lontolawa, ibunda dari Evia Maria Mangolo.
Seorang lagi adalah guru SMP Evia.
Dari pelukan yang penuh duka itu, ia melangkah ke tragedi; sang murid yang terbaring kaku di peti jenazah.
Menangis lantas mengenang masa-masa indah bersama sang murid teladan, menangis lagi, mengingat lagi.
Sofia mengatakan, Evia memang disayangi para gurunya.
"Dia dengar-dengaran (penurut), baik, penurut dan pintar, setiap saya ketemu gurunya, semua menanyakan kabarnya," kata dia.
Di mata sang ibu, Evia bukan hanya bintang kelas, tapi bintang di rumah.
Ia ingat, Evia selalu bangun pagi.
"Ia ingin cepat-cepat ke sekolah, dia juga sangat rajin belajar," kata dia.
Dia mengakui Evia sosok pendiam.
Tapi di balik itu punya kemauan besar untuk maju.
"Evia sangat ingin maju dan berhasil untuk nantinya menjadi tumpuan hidup kami," katanya.
Sebut dia, sikap hidup Evia menular ke adiknya.
Sang adik belajar keras untuk sukses dan berharap dapat membahagiakan orang tuanya.
"Adiknya belajar giat, ingin dapat nilai tinggi," katanya.
Tak hanya rajin belajar belajar.
Evia juga sosok religius.
Sang anak kerap mengingatkan mamanya untuk beribadah atau Rosario.
"Ia kerap telepon saya, ingatkan jadwal ibadah," kata dia.
Ia menuturkan, Evia dan pacarnya sudah memutuskan untuk tunangan setelah wisuda.
Kuasa hukum keluarga, Cyprus Tatali mengungkapkan, Evia anak berprestasi.
"Nilainya 4 koma, seluruhnya A, hanya satu yang B," katanya.
Pihak Keluarga Duga Evia Dibunuh
Pihak keluarga Antoineta Evia Maria Mangolo, mahasiswa UNIMA yang tewas tak wajar di tempat kos di Tomohon berharap tabir di balik kematian putri mereka dapat dibuka.
Mereka menduga kematian Evia bukan bunuh diri, tapi dibunuh.
Keluarga melalui kuasa hukum Cyprus Tatali menyatakan, pihak keluarga memutuskan untuk mengotopsi jenazah Evia untuk mengungkap penyebab kematiannya.
"Agar supaya tidak ada multi tafsir, maka diputuskan untuk diadakan otopsi," katanya kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman jenazah di Perum CBA Gold Mapanget, Minut, Jumat (2/1/2026).
Dikatakannya, sang ayah telah membawa putrinya untuk otopsi beberapa hari yang lalu.
Sebutnya, ada sejumlah kejanggalan dalam kematian Evia.
Terdapat luka lebam di beberapa bagian tubuh Evia.
"Untuk posisi kain juga agak janggal," katanya.
Dengan otopsi, ia mengatakan, segalanya akan terang benderang.
Ia menerangkan pihak keluarga ingin menegakkan kebenaran.
"Jika memang itu bukan mengakhiri hidup, siapa pelakunya," kata dia.
Pada kesempatan itu, ia menyampaikan kekesalan pihak keluarga terhadap penanganan kepolisian di Tomohon.
"Atas izin siapa oknum polisi langsung pindahkan jenazah korban ke rumah sakit, dalam teori penyelidikan, kalau orang mati tak wajar, tak serta merta langsung dibawa ke rumah sakit," katanya.
Mustinya, kata dia, untuk kasus Evia yang mati tak wajar, pihak kepolisian menghubungi pihak Inafis.
Inafislah yang berwenang untuk menangani jenazah korban dan menyimpulkan penyebab kematiannya.
"Kami minta tolong pada pak Kapolda, pak Kapolda ini adalah seorang yang berprestasi, profesional dan tegak lurus dalam menegakkan aturan, tak ada alasan oknum polisi di Tomohon mengambil langkah sebelum menghubungi Inafis, karena matinya tak wajar, mereka juga tidak bisa menyimpulkan telah terjadi mengakhiri hidup, ini wewenangnya Inafis," katanya.
Antonius ayah dari korban sangat berharap pihak kepolisian dapat mengungkap tabir misteri di balik kematian putrinya.
"Saya berharap institusi kepolisian sebagai penegak hukum dapat mengungkap kasus kematian tak wajar ini, kami semua mempercayakan penanganan kasus ini pada pihak kepolisian, kami bermohon pak Kapolda," katanya.
Evia Maria Mangolo dikenal pintar
Maria Antoineta Evia Mangolo, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal di tempat kos Tomohon, Sulawesi Utara dikenal sebagai sosok yang baik, rajin, pintar dan agak pendiam.
Hal ini diutarakan Ketsia, tante korban kepada Tribunmanado.com di rumah persemayaman di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara, Sulut, Rabu (31/12/2025).
"Ia memang pendiam, tapi rajin," katanya.
Ia bercerita, Evia sangat rajin membuat tugas kelompok.
Kadang, kata dia, saat menginap di rumahnya, Evia sering lupa makan karena kerjakan tugas.
"Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya," katanya.
Sebut dia, Evia juga pintar.
Selain itu baik hati.
Meski pendiam, Evia punya semangat tinggi untuk belajar.
Dikatakannya, ia sempat menelepon Evia, apakah hendak pulang saat Natal.
"Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket," katanya.
Dirinya terakhir ketemu Evia pada beberapa bulan lalu.
Kala itu Evia tengah KKN dan mencari tempat kos.
"Ia dan dua temannya sempat menginap di rumah saya dan sewaktu hendak pulang saat itu hujan, ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo (panggilan Ketsia)," katanya.
Ia mengatakan, sang ponakan sempat mengunggah story tengah mandi di pantai bersama adiknya sebelum Natal.
Lalu menyusul story lainnya.
"Ia unggah sesuatu seperti kertas, mungkin tanda berhasil menyelesaikan KKN dan menulis kado Natal untuk mama," katanya.
(TribunManado.co.id/Art)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK