Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen akhir November 2025 menyebabkan kerusakan parah pada sektor pertanian.
Data sementara menunjukkan lebih dari 4.000 hektar sawah rusak dan tertimbun lumpur tebal di sejumlah kecamatan.
Selain itu, 2.736 hektar sawah gagal panen akibat terendam banjir.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Bireuen, Mulyadi SE MM, menyampaikan hal tersebut kepada Serambinews.com, Kamis (1/1/2026).
Menurutnya, ribuan hektar sawah yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat kini tidak dapat diolah.
Baca juga: Pemulihan Pendidikan Aceh-Sumatra: Peran Guru Relawan Sangat Dibutuhkan
Sawah yang sedang menunggu masa panen, bahkan yang baru ditaburi benih, rusak akibat terjangan banjir.
Kerusakan terjadi di Kecamatan Gandapura, Makmur, Peusangan Siblah Krueng, Peusangan Selatan, Peusangan, Kutablang, Jangka, serta sebagian Juli dan Jeumpa.
Sementara sawah di Jeunieb, Peulimbang, Pandrah, dan Simpang Mamplam tidak terdampak. Kondisi terparah tercatat di Cot Ara dan Kutablang.
Mulyadi menambahkan, kerusakan irigasi memperparah dampak banjir.
Irigasi Pante Lhong yang mengairi sawah seluas 6.426 hektar di tujuh kecamatan kini tidak berfungsi.
Akibatnya, musim tanam rendeng terancam gagal. Irigasi Lhok Peudeng di Samalanga, yang mengairi 3.000 hektar sawah, juga rusak.
Rincian kerusakan lahan sawah meliputi:
Rusak berat: 1.323,07 hektar, dengan ketebalan lumpur di atas 50 cm.
Rusak sedang: 672,12 hektar, ketebalan lumpur di bawah 50 cm, pematang masih terlihat.
Rusak ringan/gagal panen: 2.736 hektar, sawah terendam saat masa persemaian hingga panen.
Perlu perbaikan: 1.995,19 hektar tidak dapat ditanami sebelum dilakukan rehabilitasi.
Di Cot Ara, pengeboran menggunakan alat berat hingga kedalaman 1,5 meter belum menemukan tanah asli.
Diperkirakan ketebalan lumpur dan pasir mencapai dua meter.