SURYA.CO.ID, JOMBANG – Tongkat dan tasbih legendaris yang menjadi simbol restu berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) akan kembali menelusuri rute sejarah.
Para dzurriyah (keturunan) pendiri NU menjadwalkan agenda monumental bertajuk "Napak Tilas 16 Rajab" yang akan melintasi Pulau Madura hingga jantung Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim) pada Minggu (4/1/2026).
Inisiatif kegiatan ini digagas oleh para dzurriyah Muassis NU, di antaranya cicit Syaikhona Kholil, KH Ali Kholil, yang juga menjabat sebagai Rais Syuriyah PWNU Kalimantan Timur, bersama dzurriyah lainnya dari Bangkalan, Tebuireng dan Situbondo.
Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah ikhtiar spiritual untuk merawat ingatan sejarah, dan meneguhkan kembali khidmah warga NU kepada umat dan bangsa di tengah momentum Harlah NU secara Hijriyah.
Perjalanan suci ini akan dimulai dari Pondok Pesantren Syaikhona Kholil, Demangan, Bangkalan.
Rombongan yang dipimpin oleh para cicit Muassis NU ini, akan membawa tongkat dan tasbih simbolis untuk diserahkan secara estafet.
Cicit Syaikhona Kholil, KH Fachruyddin Aschol, dijadwalkan menyerahkan simbol tersebut kepada KH Azaim Ibrohimi (Pengasuh Ponpes Situbondo), yang kemudian akan membawanya ke Tebuireng untuk diterima oleh KH Fahmi Amrullah Hadziq (cucu Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari).
Rute yang ditempuh pun sangat ikonik, melibatkan moda transportasi laut melalui Selat Madura dan jalur darat menggunakan kereta api dari Stasiun Gubeng Surabaya menuju Stasiun Jombang.
Meski inisiatif ini lahir dari lingkaran dzurriyah dan bukan agenda resmi PBNU, PCNU Jombang memberikan dukungan penuh dalam persiapan teknis penyambutan.
Wakil Ketua PCNU Jombang sekaligus Ketua Koordinator Wilayah Jombang, KH Haris Munawir (Gus Haris), menyatakan bahwa persiapan di titik akhir telah mencapai 99 persen.
"PCNU Jombang bertugas menyambut sekitar seribu peserta resmi. Mereka akan tiba di Jombang sekitar pukul 19.15 WIB, transit di Pendopo Kabupaten, sebelum melanjutkan jalan kaki sejauh 6 kilometer menuju Tebuireng," ujar Gus Haris usai rapat koordinasi di Diwek, Jombang, Jumat (2/1/2026) sore.
Guna memastikan kelancaran acara, panitia telah berkoordinasi dengan Polres Jombang, Dishub, dan Satpol PP. Pengamanan internal juga diperkuat oleh personel Banser, Pagar Nusa, dan Lembaga Kesehatan NU (LKNU).
Gus Haris menegaskan bahwa kegiatan ini tidak akan menutup total akses jalan raya. "Penggunaan badan jalan hanya sebagian. Kami pastikan tidak mengganggu pengguna jalan lain. Sejumlah pos kesehatan dan ambulans juga disiagakan di sepanjang rute Alun-alun Jombang hingga Tebuireng," tambahnya.
Kegiatan ini diperkirakan akan menyedot antusiasme luar biasa. Selain seribu peserta terdaftar, ribuan warga Nahdliyin dari berbagai daerah diprediksi akan ikut merapat secara spontan di sepanjang rute perjalanan.
"Kami berharap melalui Napak Tilas ini, warga NU semakin memahami jerih payah para muassis dalam mendirikan jam'iyyah ini, serta menumbuhkan semangat persatuan," pungkas Gus Haris.
Lahir pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926 M), NU tetap kokoh menjadi pilar peradaban yang mempertemukan nilai-nilai agama dengan semangat kebangsaan. Menjelang puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU pada 31 Januari mendatang, penting bagi masyarakat untuk merefleksikan kembali sejarah besar di balik berdirinya jam'iyyah ini.
kelahiran NU tidak terjadi secara tiba-tiba. Jauh sebelum 1926, KH Abdul Wahab Chasbullah telah merintis berbagai gerakan di Kertopaten, Surabaya. Mulai dari Nahdlatul Wathon (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916, hingga Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Saudagar) pada 1918.
Selain itu, terdapat kelompok diskusi Tashwirul Afkar yang menjadi wadah kebangkitan pemikiran ulama.
Dalam momentum pendiriannya, sempat muncul usulan nama Nuhudlul Ulama. Namun, KH Mas Alwi Abdul Aziz mengusulkan nama Nahdlatul Ulama yang bermakna kebangkitan yang terangkai sejak berabad-abad lalu.
"Nahdlatul Ulama adalah kelanjutan dari komunitas dan sanad keilmuan ulama Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebelumnya. Ia bukan organisasi yang lahir tanpa akar," tulis narasi sejarah.
Tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama (NU) adalah Hadratussyekh KH Hasyim Asyari, yang merupakan tokoh sentral dan satu-satunya penyandang gelar Rais Akbar NU, bersama dengan beberapa tokoh kunci lainnya seperti KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH As'ad Syamsul Arifin, KH Mas Alwi dan KH Ridwan Abdullah yang bersama-sama membentuk NU pada 31 Januari 1926.
Tokoh Utama: Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari: Pendiri utama, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, dan inisiator Resolusi Jihad.
Tokoh Pendiri Penting Lainnya (Muassis):
Pendirian NU melibatkan jaringan ulama yang luas, namun tokoh-tokoh di atas adalah sebagian dari para muassis yang mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
NU berdiri di atas fondasi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja) yang bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma.
Menurut KH Mustofa Bisri, substansi NU mencakup tiga pilar utama:
Tujuan utama NU, sebagaimana tercantum dalam AD/ART organisasi, adalah untuk menjaga keberlangsungan ajaran Islam Aswaja serta mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan.
Kini, NU tidak hanya menjadi ormas keagamaan, tetapi juga kekuatan sosial-politik yang memberikan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin) melalui jejaring pengurus yang tersebar di seluruh pelosok Tanah Air hingga mancanegara.