PROHABA.CO, BIREUEN - Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November 2025 meninggalkan dampak besar bagi dunia pendidikan.
SDN 14 Juli Bireuen yang terletak di Dusun Leubok Jok, Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, mengalami kerusakan parah.
Sebagian bangunan sekolah ambruk ke sungai, sementara sisanya kini terancam longsor.
Kepala SDN 14 Juli, Bahruna, SPd, menjelaskan bahwa tiga ruang belajar dan enam unit WC telah hilang terseret aliran Krueng Peusangan.
“Akibat longsor diterjang banjir ada tiga ruang kelas dan enam WC sekolah sudah hilang, lokasi bangunan sudah menjadi aliran sungai,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).
Ruang kelas yang lenyap adalah kelas III, IV, dan V, sementara sebagian ruang kelas VI juga hancur dan nyaris jatuh ke sungai.
Melansir amatan Serambinews.com di lokasi menunjukkan bahwa sebelah utara sekolah tersebut kini telah berubah menjadi aliran sungai.
Dua bangunan yang memanjang di sisi utara dan selatan berada tepat di tepi sungai, dengan pondasi yang menggantung dan sewaktu-waktu bisa ambruk.
Baca juga: Plafon Ruang Rawat Inap RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh Ambruk Akibat Hujan Deras
Baca juga: Bentrokan Dua Desa di Kepulauan Aru, 2 Tewas, 25 Luka-Luka dan 26 Rumah Hangus Terbakar
Meski menghadapi keterbatasan, kegiatan belajar mengajar di SDN 14 Juli Bireuen tetap dimulai pada Senin (5/1/2026).
Untuk menampung siswa, pihak sekolah mendirikan tenda darurat yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta ada dua tenda dari BNPB yang telah dipasang di halaman sekolah itu.
Saat ini terdapat tiga tenda besar di halaman sekolah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pengungsian korban banjir,
Sekolah yang memiliki 64 siswa ini mengatur pembelajaran dengan memanfaatkan ruang darurat.
Menyangkut aktivitas belajar, Bahruna mengatakan, saat ini sudah dibangun tenda tempat belajar yang direncanakan bagi murid kelas II dan kelas III.
Murid kelas II dan III belajar di tenda, murid kelas I ditempatkan di ruang UKS, sedangkan murid kelas VI menggunakan ruang perpustakaan karena jumlah siswanya hanya enam orang.
Adapun murid kelas V masih bisa belajar di salah satu ruangan yang tersisa.
Sebelumnya, sekolah ini sempat menjadi lokasi pengungsian warga terdampak banjir.
Kini, setelah pengungsi dipindahkan, ruangan dibersihkan untuk kembali digunakan sebagai sarana belajar.
Pihak sekolah berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat untuk membangun kembali fasilitas pendidikan yang rusak, agar anak-anak dapat belajar dengan nyaman dan aman.
(SerambiNews.com/Yusmandin Idris)
Baca juga: Respons Cepat Pemerintah, Akses Jalan Bireuen–Takengon Kembali Normal
Baca juga: Korban Banjir Aceh Utara Bertambah, Total 229 Jiwa Meninggal Dunia
Baca juga: Dahsyatnya Banjir Bandang di Bireuen, Ribuan Rumah Hancur dan Puluhan Korban Jiwa