Presiden Diculik AS, Bagaimana Nasib Industri Minyak Venezuela?
January 05, 2026 10:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM - Nasib sumber daya minyak Venezuela dipertanyakan usai Presiden mereka diculik oleh pihak Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026). 

Negara kaya akan minyak mentah itu membuat investor global ketar ketir.

Pasalnya dipertanyakan, saat ini siapa yang mengendalikan sumber daya minyak mentah Venezuela.

Untuk saat ini, kendali industri minyak Venezuela dinilai masih berada di tangan perusahaan minyak milik negara. 

Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.

"Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), perusahaan minyak milik negara, mengendalikan sebagian besar produksi dan cadangan minyak,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, dikutip Kompas.com Senin (5/1/2026). 

Lipow menjelaskan, sejumlah perusahaan asing memang masih beroperasi di Venezuela. Perusahaan energi Amerika Serikat (AS) Chevron beroperasi melalui produksi sendiri dan usaha patungan dengan PDVSA. 

Selain itu, perusahaan-perusahaan asal Rusia dan China juga terlibat melalui skema kemitraan. Namun demikian, imbuh Lipow, kontrol mayoritas masih berada di tangan PDVSA. 

Baca juga: Hadapi Kondisi Global, PM Jepang Naikan Standar Gaji Pegawai Swasta

Produksi minyak Venezuela merosot tajam sejak nasionalisasi Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1970-an, yang melahirkan PDVSA sebagai tulang punggung sektor energi nasional. 

Produksi minyak negara Amerika Selatan itu pernah mencapai puncaknya sekitar 3,5 juta barrel per hari (bph) pada 1997. Namun, angka tersebut terus menurun drastis dalam dua dekade terakhir. 

Menurut data yang disampaikan Lipow Oil Associates, produksi minyak Venezuela kini hanya sekitar 950.000 bph, dengan ekspor sekitar 550.000 bph. 

Penurunan tersebut mencerminkan dampak kombinasi dari kurangnya investasi, masalah teknis, serta tekanan sanksi internasional. 

Jika pemerintahan yang lebih pro-AS dan pro-investasi terbentuk, Chevron dinilai berada pada posisi yang paling tepat untuk memperluas perannya di Venezuela. 

Hal ini disampaikan Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Financial. 

Kavonic menambahkan, perusahaan-perusahaan Eropa seperti Repsol dan Eni juga berpotensi memperoleh manfaat, mengingat kehadiran dan pengalaman mereka yang sudah lama di Venezuela. 

Risiko gangguan ekspor di tengah ketidakpastian Setiap perubahan rezim di Venezuela dinilai berpotensi mengganggu rantai komersial yang selama ini menjaga aliran ekspor minyak negara tersebut.

(Wartakotalive.com/DES/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.