Selama 2025, Catatkan 54 Peristiwa Kebakaran di Jembrana Bali, Total Kerugian Capai Rp2,1 M Lebih
January 07, 2026 08:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Damkar Jembrana mencatat sebanyak 54 peristiwa kebakaran terjadi selama tahun 2025 kemarin. Dari jumlah tersebut, kerugian materiil ditaksir mencapai Rp2,1 miliar lebih. 

Bahkan, satu peristiwa kebakaran rumah milik warga tercatat mengalami kerugian hingga Rp300 juta.

Menurut data yang diperoleh, peristiwa kebakaran tersebut terjadi di berbagai lokasi. 

Mulai dari rumah tinggal, kendaraan, bangunan sekolah, toko atau tempat usaha, dapur, lahan, hingga fasilitas umum dan lainnya. 

Baca juga: SUARA Ledakan Kagetkan Wayan Adi, Kembang Api Diduga Picu Kebakaran di Pura Puseh Kintamani

Jika merinci per kecamatan, Kecamatan Negara paling banyak terjadi kebakaran sebanyak 21 kasus. 

Kemudian disusul Kecamatan Jembrana 15 kasus, Kecamatan Mendoyo 12 kasus kebakaran, Kecamatan Melaya tercatat 4 kasus dan 2 kasus di Kecamatan Pekutatan. 

Sementara itu, juga ada lima titik lokasi yang cukup jauh atau di atas waktu jarak tempuh armada Damkar menuju TKP kebakaran tersebut. Mulai dari 20-60 Menit. 

"Total ada 54 peristiwa kebakaran selama tahun 2025 kemarin. Itu di berbagai lokasi dan obyek kebakaran. Mulai dari rumah tinggal hingga kendaraan juga," ungkap Kabid Damkar dan Penyelamatan, Satpol PP Jembrana, I Kadek Rita Budhi Atmaja saat dikonfirmasi, Selasa 6 Januari 2026.

Dia mengungkapkan, dari puluhan kebakaran yang terjadi tersebut ada juga yang lokasinya di luar wilayah manajemen kebakaran (WMK) Damkar Jembrana. 

Durasi atau jarak tempuh menuju TKP lumayan jauh yakni mulai 20 menit hingga satu jam atau 60 menit dari Mako Damkar. 

"Ini lokasinya didominasi kecamatan terjauh seperti Melaya. Namun ada juga yang di Mendoyo namun lokasinya berada di ujung utara yang jarak tempuhnya mencapai 25 menit. Padahal maksimal jarak tempuh kita untuk menangani suatu kebakaran ada di WMK tersebut hanya 15 menit saja," ungkapnya.

Rita mengakui, pihaknya juga rutin melaksanakan pemberian materi dan sosialisasi penggunaan alat pemadam kebakaran (APAR) di masyarakat. 

Sebab, ketika masyarakat paham dengan penggunaan alat tersebut tentunya akan bisa meminimalisir peristiwa kebakaran. 

Disisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan hati-hati saat menggunakan berbagai bahan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. 

"Misalnya penggunaan dupa saat sembahyang. Jika sembahyang di rumah agar tidak ditinggalkan begitu saja. Sebaiknya, pastikan api dupa di rumah agar tidak menyala saat ditinggalkan dalam keadaan kosong," tegasnya.(mpa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.