- Nama Holis Muhlisin (31) mendadak viral di media sosial setelah menjadi korban intimidasi oleh keluarga kepala desa lantaran kerap mengunggah video kondisi infrastruktur rusak di desanya.
Kejadian intimidasi ini pun kemudian terekam video dan akhirnya viral di media sosial. Banyak warganet memberikan dukungannya untuk Holis dan menyayangkan adanya intimidasi tersebut.
Video peristiwa intimidasi itu viral hingga ditonton lebih dari satu juta netizen di akun Facebook miliknya.
Dalam video yang diunggahnya Holis terlihat dimaki-maki keluarga kepala desa, di antara mereka bahkan mengucapkan kalimat hinaan.
Saat dihubungi Tribun, Holis menyebut bahwa dirinya tengah bersiap-siap berangkat ke Lembur Pakuan untuk bertemu langsung dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
"Saya ditelpon ajudan untuk menghadap Pak Gubernur Dedi Mulyadi malam ini," ujarnya saat dihubungi Tribunjabar.id, Sabtu (3/1/2/2026).
Ia menuturkan, belum mengetahui secara pasti apa yang nantinya akan dibahas orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Holis menyebut bahwa peristiwa viralnya video itu terjadi tanggal 27 Oktober 2025, namun baru ia unggah tanggal 31 Desember 2025.
Intimidasi itu ucapnya, dilakukan oleh empat orang. Yakni istri kepala desa, anak kepala desa, menantu kepala desa, serta keponakan kepala desa.
Holis mengaku sempat mendapatkan kekerasan berupa cekikan di leher dan pukulan di punggungnya.
"Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video jalan) untuk kemajuan desa," ungkapnya.
Holis merupakan warga Kampung Babakangadoh RT01 RW06, Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Kepada Tribun, Holis mengaku kesehariannya merupakan seorang pedagang telur keliling yang setiap hari berkeliling dari kampung ke kampung.
Dalam aktivitasnya tersebut, ia kerap melintasi berbagai ruas jalan yang kondisinya rusak, berlubang, dan sulit dilalui.
Ia menuturkan, kondisi jalan yang memprihatinkan itu tidak jarang menyulitkan dirinya saat berdagang, bahkan berisiko merusak kendaraan.
Berangkat dari pengalaman tersebut, ia kemudian sering mengunggah keprihatinannya terhadap kondisi jalan melalui media sosial, dengan harapan keluhan itu dapat menjadi perhatian pihak terkait termasuk pemerintah desa agar segera dilakukan perbaikan.
"Tidak hanya untuk saya sendiri, tapi demi kemajuan desa demi masyarakat desa," ungkapnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi juga telah merespon video viral tersebut, KDM mengingatkan pemerintah setingkat desa hingga rukun warga agar tidak pernah melakukan intimidasi terhadap warga yang melakukan kritik pembangunan yang belum berkeadilan.
"Jangan pernah melakukan intimidasi (atau) pengancaman, dalam dunia yang sudah serba terbuka,"
"Kita ini aparat kalo ada warga yang menceritakan tentang jeleknya pembangunan harus kita terima dengan lapang dada," ujarnya dalam unggahan Instagram pribadinya, Sabtu (3/1/2026) malam.
Selanjutnya, kata Dedi, semua harus berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan karena saat ini sudah bukan zamannya mencaci maki orang yang mengkritik kinerja pemerintah.
Ia berharap peristiwa di Kecamatan Cisewu tidak kembali terjadi di kemudian hari. Ia memerintahkan pemerintah di Cisewu dan Bupati Garut agar melakukan rekonsiliasi dan perbaikan pembangunan.
"Jangan membiarkan ada tindakan intimidatif terhadap terhadap kritik," tandasnya.
Tak Hanya Diintimidasi, Holis Juga Dipolisikan
Holis menyebut bahwa dirinya tak hanya mendapatkan intimidasi, namun juga dilaporkan ke polisi atas dugaan pencemaran nama baik.
"Saya sudah coba konfirmasi ke Polsek, betul katanya saya dilaporkan oleh keluarga kepala desa, atas pencemaran nama baik," ujarnya melalui sambungan telpon, Sabtu (3/1/2025).
Ia menuturkan, hingga kini laporan yang disampaikannya belum menunjukkan perkembangan yang jelas.
Bahkan, dirinya mengaku belum pernah dipanggil maupun dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
"Kata polisi bakal diriungkeun (musyawarah) tapi sampai sekarang tidak pernah," ucapnya.
Program: Local Experience
Editor: Akmal Khoirul Habib