BANGKAPOS.COM -- Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi pernyataan Pandji Pragiwaksono melalui sebuah video di akun Instagram Reel @dedimulyadi71 pada Minggu, 4 Januari 2025.
Ia menanggapi soal ujaran yang disampaikan Pandji di Mens Rea.
Dalam video tersebut, ia lebih dulu menyampaikan apresiasi terhadap karya Pandji.
“Bang Pandji, terima kasih ya. Saya penggemar Anda. Pernyataan-pernyataannya menggelitik, korektif, dan edukatif,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia kemudian menanggapi soal anggapan masyarakat Jawa Barat yang disebut gemar memilih pemimpin dari kalangan artis.
Baca juga: Sosok Ririn Putri, Guru Honorer Menangis di Depan Pejabat Gowa Usai Tak Lolos PPPK, Pemain Film
“Sayang sekali Bang Pandji, Pak Deddy Mizwar dan Pak Dede Yusuf waktu nyalon gubernur malah nggak kepilih,” katanya.
Dedi Mulyadi juga meluruskan anggapan bahwa latar belakang sebagai artis identik dengan minimnya kapasitas kepemimpinan. Menurutnya, kompetensi tetap bisa dimiliki oleh figur publik dari berbagai latar belakang.
“Walaupun dia artis, saya jujur mengakui Pak Dede Yusuf punya pemahaman pembangunan yang sangat baik. Dua kali memimpin komisi di DPR RI, kerangka berpikir pembangunannya juga keren. Jadi banyak juga yang ‘ngartis’ tapi punya kemampuan,” ungkapnya.
Menanggapi sebutan “artis YouTube” yang diarahkan kepadanya, Dedi Mulyadi justru mengajak Pandji untuk melihat langsung kinerjanya di lapangan.
“Kalau saya dianggap Gubernur YouTuber, saya nggak boleh muji diri sendiri. Baik atau tidaknya kepemimpinan saya, Bang Pandji datang ke Jawa Barat, keliling, lihat jalan-jalan provinsi, lihat daerah-daerahnya,” tuturnya.
Ia menambahkan, penilaian seharusnya didasarkan pada kerja nyata.
“Apakah saya ini hanya gubernur konten atau gubernur kenyataan, mari sama-sama kita lihat di lapangan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Dedi Mulyadi menegaskan dukungannya terhadap kebebasan berekspresi dalam iklim demokrasi dan mendorong Pandji untuk terus berkarya.
“Teruslah berkarya dan melakukan otokritik secara terbuka. Ini negara demokrasi, setiap orang berhak menyampaikan gagasan, apalagi dikemas dengan cara yang jenaka dan keren,” pungkasnya.
Sejak resmi tayang di Netflix Indonesia pada 27 Desember 2025, Mens Rea ini langsung memicu diskusi luas di berbagai platform.
Menggabungkan humor dengan kritik sosial-politik yang tajam, Mens Rea dengan cepat menjadi bahan perbincangan. Melalui panggung komedi, Pandji tak sekadar melontarkan lelucon, tetapi mengajak penonton berefleksi atas realitas yang berlangsung di tengah masyarakat.
Sejumlah isu sensitif disinggung secara terbuka lewat balutan satire. Tak terkecuali tokoh-tokoh publik berpengaruh, salah satunya Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Baca juga: Maman Suherman Ungkap Detik-detik Kematian Anaknya, Sempat Mengira Jatuh dari Tangga: Cuma Asumsi
Salah satu segmen yang paling ramai diperbincangkan adalah saat Pandji mengulas kecenderungan pilihan politik masyarakat Jawa Barat.
Ia menyoroti fenomena pemilih yang dinilai kerap menjatuhkan pilihan pada figur populer dari dunia hiburan.
“Orang Sunda seneng banget milih artis,” ujar Pandji di hadapan penonton, disusul gelak tawa.
Ia kemudian merinci deretan pemimpin Jawa Barat dengan latar belakang selebritas.
“Gubernur mereka waktu itu Deddy Mizwar artis film, Wakil Gubernur mereka Dede Yusuf artis TV. Sekarang Gubernurnya Dedi Mulyadi artis YouTube,” kata Pandji, yang sontak disambut riuh penonton.
Candaan tersebut pun viral di media sosial. Banyak pihak menilai materi itu menyentil relasi antara popularitas, elektabilitas, dan kualitas kepemimpinan dalam praktik demokrasi.
Selain Dedi Mulyadi, Pandji juga mengkritik Wapres Gibran Rakabuming.
Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka, memberikan respons atas roastingan Pandji Pragiwaksono soal matanya yang terlihat “ngantuk” dalam pertunjukan Mens Rea.
Reaksi ini memancing perhatian publik, tak hanya menyoroti sikap santai Gibran Rakabuming Raka, tetapi juga etika dalam menerima kritik maupun humor.
Tidak itu saja artis Tompi dan Raffi Ahmad ikut menanggapi momen tersebut, menambahkan perbincangan soal batasan lelucon dan hubungan sosial antara artis dengan pejabat publik.
Materi stand-up comedy spesial "Mens Rea" karya Pandji Pragiwaksono memicu perdebatan hangat setelah menyinggung fisik mata Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Dokter bedah plastik, Tompi, memberikan teguran keras bahwa menertawakan kondisi medis bernama Ptosis bukanlah bentuk kritik yang cerdas.
Namun, di tengah kritik tersebut, Gibran justru menunjukkan sikap yang menarik dengan tetap menggunakan lagu milik Pandji dalam unggahan video terbarunya.
Adapun roasting Pandji kepada Gibran berlangsung saat gelaran stand-up comedy bertajuk 'Mens Rea' di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, pada 30 Agustus 2025 lalu.
Baca juga: Sosok Dodi Kusumah, Eks Camat Lepar Pongok Terseret Skandal SP3AT Fiktif Rp45 M, PNS Dibekukan
Kini, show Pandji tersebut tayang di Netflix dan sukses menempati posisi #1 di Top 10 Acara Netflix Indonesia sejak rilis pada Sabtu, (27/12/2025) lalu.
Setelah tayang di Netflix, show Mens Rea viral hingga menjadi bahan perbincangan publik.
Dalam penampilannya, Pandji tidak hanya menyebut nama Gibran, namun juga sejumlah tokoh lain seperti Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi hingga Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Di atas panggung, Pandji awalnya menjelaskan alasan orang memilih calon pemimpinnya, utamanya terkait kondisi fisik.
"Ada yang memilih pemimpin berdasarkan tampang. 'Ganjar ganteng ya'. 'Anies manis ya'. 'Prabowo gemoy ya'," ucapnya.
Pandji kemudian menyinggung perihal kondisi fisik mata Gibran.
Menurut Pandji, mantan Wali Kota Solo itu selalu terlihat mengantuk di berbagai kesempatan.
"Atau wakil presidennya. 'Gibran ngantuk ya'," ucap Pandji disambut gelak tawa para penonton.
"Ya kaya orang ngantuk dia ya. Menurut keyakinan saya," timpalnya.
(Tribunnewsmaker.com/Surya.co.id/Bangkapos.com)