Oey Tambahsia, Playboy Betawi yang Tewas di Tiang Gantungan, Dara-Janda Semua Diembatnya
Moh. Habib Asyhad January 08, 2026 05:34 PM

Ini adalah cerita tentang Oey Tambahsia, penjahat kelamin dan playboy Batavia yang tewas di tiang gantungan. Dia adalah momok para gadis dan janda sekaligus di Batavia abad 19.

Artikel ini tayang di Majalah Intisari edisi Juli 1984 dengan judul "Oey Tambahsia, Playbow Betawi yang Tewas di Tiang Gantungan" | penulis: Redaksi Majalah Intisari

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Bagi orang Jakarta asli nama itu legendaris. Bukan hanya uangnya, tetapi ulahnya yang membuat orang tua gadis-gadis cantik menjadi khawatir. Akhirnya Oey Tambahsia kena batunya juga.

Dalam tahun 1837 Jalan Toko Tiga di Jakarta Kota merupakan pusat perdagangan yang ramai. Toko tembakau yang terbesar di jalan itu mink seorang pedagang besar Cina bernama Oey Thoa, asal Pekalongan. Meskipun belum lama menetap di Betawi, Oey sudah cukup terkenal, bukan saja oleh besarnya usahanya, tetapi juga karena. kedermawanannya.

Konon Oey itu biasa memberi sedekah kepada orang miskin setiap tanggal satu dan lima belas menurut penanggalan Cina. Saat dia bersembahyang di Kelenteng Kim Tek Ie.

Beberapa tahun kemudian Balai Harta Peninggalan mengadakan lelang. Hari itu merupakan hari pelelangan istimewa, karena yang akan dilelang bukan saja barang-barang, perabot rumah tangga dan lainnya, tetapi juga tanah. Tanah yang akan ditawarkan itu ialah tanah Pintu Kecil, yang di sebelah barat berbatasan dengan Kali Pekojan, sebelah timur dengan Kali Besar, sebelah selatan dengan Kali Tongkangan dan sebelah utara dengan Kali Kampung Melaka.

Setelah barang-barang bergerak selesai dilelang, kepala juru lelang mengumumkan penawaran tanah itu kepada penawar tertinggi. Ditambahkannya bahwa pemilik dijamin hak-haknya, seperti hak memungut cukai pasar dan lain-lainnya seperti ditetapkan dalam "Reglemen Tanah Swasta" dalam Staatsblad 1811.

"Dua puluh ribu rupiah!" tawar seorang dari Pasar Baru.

"Sekali, dua kali..." "Dua puluh ribu!" seru Oey Thoa yang sejak tadi hanya menonton saja.

"Tiga puluh ribu!" tukas seorang calon pembeli dari Senen.

"Lima puluh ribu," kata Oey dengan tenang. Penawaran yang tiba-tiba melonjak itu mengejutkan hadirin. Setelah diumumkan tiga kali tak ada yang mengajukan tawaran lagi, maka sebidang tanah itu jatuh ke tangan Oey. Dia membayar tunai dengan lembaran yang disimpan di dalam ikat pinggangnya.

Langsung menjadi 'letnan'

Selesai lelang Oey dihampiri oleh 'Mayor' Tan Eng Goan, salah seorang kepala orang Cina yang terkemuka di Betawi masa itu. Pemuka itu mengajaknya pulang bersama naik kereta. Persahabatan antara keduanya dan gengsi Oey makin naik di mata masyarakat Cina, sehingga pada suatu waktu Tan mengusulkan kepada pemerintah Belanda agar Oey diangkat menjadi 'letnan' dan anggota Dewan Cina (Kong Koan).

Oey mempunyai empat orang anak. Yang pertama seorang putri, telah dinikahkan dengan putra bupati Pekalongan, yang kelak akan menggantikan ayahnya. Yang kedua seorang putra, yang diberi nama Holland (Ho Lan), yang ketiga Tambah dan yang keempat Makau atau Ma Ko.

Dipergunjingkan orang bahwa pindahnya Oey ke Betawi ialah karena anaknya yang sulung dinikahkan dengan putra bupati, yang merupakan sahabat karibnya dari dahulu. Agaknya masyarakat Cina Pekalongan tidak bisa menerima perkawinan campuran itu. Mereka melakukan tekanan-tekanan serta fitnah kepada Oey, sehingga dia terpaksa meninggalkan kota itu.

Setelah beberapa tahun menjabat kedudukan sebagai luitenant der Chinezen yang menguasai onderdistrict Kongsi Besar, Oey tiba-tiba meninggal. Selama dia menjabat dia melakukan tugasnya dengan baik, sehingga diberi nama Oey Thay Lo, yang berarti Oey yang besar dan tua, untuk menghormatinya.

Waktu meninggal usia Oey baru lima puluh tahun dan anaknya, Tambah, yang biasa dipanggil Oey Tambahsia ('sia' adalah semacam gelar kehormatan bagi anak laki-laki orang berpangkat) baru berumur lima belas. Biarpun baru remaja, Tambah sudah terkenal sebagai anak muda yang rupawan dan gemar berdandan.

Pagi dan petang dia gemar naik kuda berkeliling kota, kepalanya tertutup karpus sutera dari pakaiannya model Cina nampak sangat rapi. Dia juga terkenal sebagai seorang anak muda yang sangat royal. Sifat lainnya adalah bahwa dia tak suka bergaul dengan anggota masyarakat lainnya. Sekalipun dia anak seorang pemuka Cina, agaknya dia menghindari pemuka-pemuka Cina lainnya. Ke mana-mana dia selalu diikuti oleh beberapa orang kaki-tangannya. .

Seratus hari sepeninggal bapaknya, Tambah sering terlihat berpesiar dengan kereta yang dihela oleh kuda-kuda poni. Pada kusir Oey berpesan, jika melewati kediaman seorang pejabat Cina agar jalannya diperlambat. Menurut kelaziman masa itu, setiap orang Cina yang melewati kediaman pemuka masyarakatnya harus membuka tutup kepala sebagai tanda penghormatan. Tambahsia sengaja memperlambat kendaraannya agar para pemimpin Cina itu melihat bahwa dia akan melakukan penghormatan itu.

Pada suatu hari salah seorang anggota Dewan Tionghoa, The Kim Houw, mengunjungi Oey Tambah untuk memberikan nasihat agar tidak bersikap sombong dan takabur, serta mengandalkan harta peninggalan mendiang ayahnya untuk meremehkan para pemuka, karena mereka itu semuanya sahabat ayahnya. Oey sama sekali tidak menghargai nasihat The yang sebaya ayahnya, bahkan memperlakukannya dengan kurang hormat. Sikapnya didukung oleh pengetahuan bahwa banyak di antara para opsir Cina itu menerima sumbangan keuangan dari mendiang ayahnya. Lagi pula warisan yang diterimanya bersama adiknya sangat besar, antaranya beberapa bidang tanah luas di Pasar Baru, daerah Curug, Tangerang, yang sewanya f 95.000 setahun, daerah Pintu Kecil Jakarta, yang sewanya 40.000 gulden setahun dan lain-lainnya yang berupa tanah, rumah, barang dagangan, uang dan perhiasan yang jumlahnya lebih dari dua juta gulden.

Penawar misterius di lelangan

Oey Tambah alias Tambahsia yang masih remaja itu kejatuhan harta karun sebesar itu tanpa pernah bekerja apa-apa, sehingga rupanya harta tiban itu mengguncangkan jiwanya yang belum dewasa. Sejak ditinggalkan ayahnya dia semakin menunjukkan tabiatnya yang buruk dan tingkah laku yang tidak terpuji. Agaknya Tambah tak berusaha untuk melanjutkan usaha ayahnya di bidang perdagangan, apalagi punya ambisi untuk menjadi pemuka masyarakat, yang menurut pahamnya hanya menjadi budak orang lain.

Salah satu ulahnya menghamburkan harta ayahnya adalah kebiasaannya yang menjadi mitos bagi orang-orang sezamannya adalah membersihkan diri dengan lembaran uang kertas setelah melakukan hajat besar di Kali Toko Tiga di depan rumahnya. Tak mengherankan bahwa tiap pagi terjadi perkelahian-perkelahian berdarah di antara orang-orang yang memperebutkan harta karun itu di sungai.

Pameran atau adu kekuatan di bidang kekayaan itu terjadi lagi pada suatu hari di tempat pelelangan. Seorang Belanda anggota Dewan Hindia (kira kira setara kedudukannya dengan DPA) akan pulang ke negerinya. Menurut kebiasaan zaman itu, perabot rumah tangganya dilelang. Umumnya penawarnya adalah para sahabat, kenalan atau relasinya. Mereka sengaja menawar lebih tinggi daripada harga sebenarnya, dengan maksud memberikan sekedar bekal kepada yang bersangkutan. Pelelangan barang pejabat tinggi itu mendapat perhatian besar dari masyarakat Cina Betawi, terutama para pemukanya.

Dalam lelang itu ditawarkan sebuah meja toalet bercermin. 'Mayor' Tan Eng Goan menawarnya f100, suatu harga yang sudah di atas pasaran. Dia heran bahwa ada yang berani menawar dua kali lipat. Demi gengsi dia menaikkan tawarannya menjadi f300. Ternyata penawar tak terkenal itu berani membayar f500, sehingga Tan penasaran mencari orangnya, tapi tak bisa ditemukan.

Kemudian dilelang sebuah meja tulis kayu yang berukiran indah. Dimulai dengan lima puluh gulden, barang itu naik terus harga penawarannya, sehingga mencapai dua ribu. Rupanya penawar tersembunyi itu beraksi lagi, sehingga Tan Eng Goan merasa panas had, karena, seakan ditantang lagi, ia menaikkan penawarannya sampai f 5.000. Tetapi agaknya penawar misterius yang menyampaikan penawarannya secara rahasia pada juru lelang memang mempunyai dana tak terbatas, sehingga Tan menyerah waktu harga mencapai sepuluh ribu.

Hadirin terheran-heran akan munculnya penawar misterius yang rupanya memang sengaja mau menjatuhkan martabat pemimpin masyarakat Cina itu di muka umum.

Dengan geram Tan mencoba mencari info, siapa gerangan pembeli yang menutupi identitasnya itu. Juru lelang tidak bersedia mengungkapkannya. Kemudian Tan berhasil juga mendapat info bahwa Oey Tambah-lah yang bermain di belakang layar. Pemuka itu makin geram dan dendam, tetapi ia masih berusaha menahan diri, mengingat hubungan baiknya dengan mendiang ayah Tambahsia. Sebab itu dia tidak mengambil tindakan apa-apa ketika para rekannya, anggota Dewan Cina mendesaknya untuk memberi pelajaran kepada anak muda yang congkak itu. Tan Eng Goan malah mengirim utusan pribadi untuk berusaha membujuk dia agar mau mengubah sikap dan tingkah lakunya, bahkan menawarkan kedudukan luitenant der Chinezen yang masih lowong sepeninggal ayah Oey. Uluran tangan itu ditolak mentah-mentah oleh Tambahsia.

Disimpan di Bintang Mas

Sementara itu ulahnya makin menjadi. Yang meresahkan masyarakat Cina adalah ulahnya yang suka mengganggu anak-istri orang. Sekalipun masih terbilang remaja, Tambah sudah terkenal sebagai lelaki hidung belang. Konon orang sampai menyembunyikan anak daranya, karena khawatir terlihat oleh Oey Tambah atau kaki-tangannya. Umumnya dia mempergunakan kekuatan uang untuk mencapai maksudnya. Biasanya dia berhasil berkat dana yang" tak terbatas, tetapi kadang-kadang dia mempergunakan kekerasan. Lebih tepat dikatakan bahwa para kaki-tangannya yang melakukan kekerasan atau cara apa saja sebab mengharapkan hadiah besar dari tuannya.

Oey memiliki sebuah rumah peristirahatan di Ancol yang diberi nama Bintang Mas. Tempat itu bukan hanya tempat bersenang-senang bagi yang empunya, tetapi juga untuk tempat pertemuan dengan wanita-wanita yang berhasil dibujuk oleh kaki-tangannya atau untuk menyimpan mereka.

Pada suatu hari seorang kaki-tangannya melihat seorang wanita cantik di daerah Tongkangan. Ternyata wanita itu sudah bersuamikan seorang tukang kelontong. Dengan bantuan seorang 'mak comblang' wanita muda yang hidupnya kekurangan itu berhasil dipikat Tambahsia. Bila suaminya berkeliling dengan dagangannya, istrinya naik kereta ke Bintang Mas untuk berkencan dengan Tambahsia. Lama-kelamaan penyelewengan itu tercium juga oleh suaminya. Pada puncak pertengkaran si istri diam-diam meninggalkan rumah untuk selanjutnya menetap di Ancol.

Suaminya kelabakan mencari ke mana-mana, tetapi tak ada yang mengetahui ke mana larinya nyonya itu.

Pada suatu hari suami yang malang itu mendapat info bahwa istrinya "disimpan" di Bintang Mas. Tanpa membuang-buang waktu lagi dia mencarinya ke sana. Di depan pesanggrahan itu dia berteriak-teriak memanggil nama istrinya. Dia tak bisa masuk, karena dialangi oleh penjaga. Bahkan mereka berusaha mengusir pembuat gaduh itu, tetapi tak berhasil.

Oey Tambah dan istri tukang kelontong kebetulan sedang di dalam rumah. Akhirnya mereka merasa khawatir juga melihat ulah laki-laki yang seperti orang gila itu. Tambahsia menyuruh menyiapkan kereta agar mereka bisa menyingkir dari tempat terpencil itu.

Kereta berkuda yang membawa pasangan itu berangkat ke arah Pasar Ikan. Laki-laki kalap yang mengetahui istrinya dilarikan segera mengejar kereta yang berlari kencang itu. Setelah berlari sejurus dia sudah tertinggal jauh oleh kereta itu, tetapi di masih nekat mengejar, sehingga akhirnya jatuh terduduk, kehabisan tenaga.

Sejak itu dia tak pernah terlihat lagi. Dia tak pernah pulang, sedangkan rumahnya tetap terkunci rapat-rapat. Desas-desus mengatakan bahwa dia membunuh diri dengan menceburkan diri ke laut, tetapi mayatnya tak pernah ditemukan.

Naik kuda keliling Betawi cari jodoh

Istri tukang kelontong itu menjadi "simpanan" favorit Tambahsia. Ibunya khawatir anaknya akan menjadikan janda itu istri tetapnya. Sebab itu Nyonya Oey membujuk anaknya agar mau menikah baik-baik. Barangkali dia juga mengharapkan, seperti orangtua pada zaman itu, agar anaknya akan berkurang kebinalannya setelah secara resmi berkeluarga.

Tambahsia tidak menolak saran itu, tetapi mengajukan syarat bahwa dia menentukan sendiri pilihannya. Pada masa itu tidak lazim seorang muda menentukan jodohnya sendiri, sebab lazimnya orang tuanyalah yang mencarikannya.

Ibunya terpaksa menyetujui syarat itu, meskipun dia sendiri tak tinggal diam. Dia memesan kepada keluarga maupun teman-teman atau para kenalan baik agar mencarikan calon mantu dari keluarga baik-baik. Harapannya adalah agar calon itu nanti bisa ditunjukkan kepada Tambah secara tak langsung, sehingga pemuda itu tak tahu bahwa calon itu sebenarnya pilihan ibunya. Sementara itu Tambahsia sendiri juga tak berpeluk tangan. Dia berusaha mencari gadis idamannya dengan caranya sendiri.

Tiap sore dia berkeliling kota menunggang kuda kesayangannya sambil memasang mata. Dia memang terkenal sebagai penunggang kuda yang mahir dan bergaya. Selain itu dia mempunyai koleksi kuda tunggang pilihan. Salah satu kesayangannya adalah seekor blasteran Arab-Sandalwood berbulu hitam, konon tiada tandingannya di seluruh kota Betawi. Kuda itu berpelana pesanan khusus dengan hiasan perak.

Di masa pra-kendaraan bermotor, kuda atau kereta merupakan lambang kedudukan seseorang. Di samping itu Tambahsia gemar berpakaian model Barat, sesuatu yang menyimpang dari kebiasaan masyarakat Cina waktu itu. Dia memang seorang dandy dan pakaiannya yang selalu terbuat dari bahan mahal-mahal dan berpotongan bagus menambah penampilannya.

Karena anak perawan zaman itu dipingit, apalagi karena reputasi buruk Tambahsia, maka safarinya di kota Betawi (apa yang disebut 'kota' hanyalah sekitar Glodok-Pancoran sampai Pasar Ikan) tidak menghasilkan apa-apa. Karena itu dia memperluas daerah perburuannya sampai 'kampung' Pasar Baru dan Senen.

Pada suatu hari Oey sedang menunggang kudanya di Gang Kenanga. Tiba-tiba kudanya dikejutkan oleh jatuhnya sebuah peti kayu dari loteng salah sebuah rumah di situ. Anak gadis keluarga Sim, yang biasanya dipingit dengan ketat, mendengar gaduh-gaduh di bawah, menengok dari atas loteng. Dia melihat seorang pemuda gagah berusaha mengendalikan kuda hitamnya yang terkejut. Di pihak lain penampilan nona cantik sekilas lintas di atas loteng tidak luput dari pandangan Tambahsia. Pandangan mereka bertemu sejenak, sama-sama terperanjat, sama-sama kagum.

Oey segera memutar tunggangannya kembali ke kota dengan santai, karena merasa bahwa dia telah menemukan apa yang dicarinya selama ini. Tanpa menunda-nunda lagi dia memberitahukan ibunya.

Tak lama kemudian utusan dikirim ke rumah keluarga Sim di Gang Kenanga untuk membicarakan pinangan. Oey Tambah mengajukan syarat yang pada masa itu hampir tidak bisa diterima oleh pihak orang tua gadis. Dia ingin melihat dengan mata kepala sendiri dara idamannya. Permintaan yang dinilai sangat tidak sopan itu mungkin akan ditolak mentah-mentah oleh keluarga itu, sekiranya yang meminta orang lain daripada Tambahsia yang terkenal kaya raya dan anak Oey Thay Lo. Lagi pula keadaan keluarga itu agak terdesak dalam bidang keuangan, maka syarat itu terpaksa diluluskan juga. Pinangan Oey Tambah diterima dan tanggal pernikahan akan ditentukan kemudian.

Janda tukang kelontong tetap favorit

Hari baik itu ternyata terpilih dua bulan kemudian. Waktu itu usia Oey Tambah baru tujuh belas. Sekarang umur sekian adalah waktu belajar main bola atau kebut-kebutan, tetapi pada zaman itu pria seusia demikian sudah dianggap cukup untuk membentuk keluarga, apalagi kalau didukung keuangan yang cukup.

Menjelang pesta pernikahannya, Tambahsia menutup jalan umum Patekoan dari Jembatan Toko Tiga sempai ujung Jalan Patekoan dan mendirikan tarub (pelawang) di atasnya. Menurut ketentuan, mereka yang membuat penutup jalan dan memasang pelawang harus minta izin dulu lewat para pejabat Dewan Cina. Oey Tambah rupanya sengaja tak mau minta izin, dengan demonstratif untuk menunjukkan bahwa dia tidak membutuhkan para pemuka itu. Tan Eng Goan berusaha melarang penutupan jalan itu, tetapi bawahannya yang menyampaikan itu diusir oleh Oey Tan kemudian mengadukan pelanggaran itu langsung kepada asisten residen. Pejabat itu segera memanggil penduduk yang bandel itu untuk menghadap.

Kepada petugas yang membawa surat panggilan Tambah menjanjikan akan segera menghadap, tetapi nyatanya dia langsung mendapatkan residen. Agaknya dia sudah kenal atau setidaknya mempunyai 'koneksi' dengan pejabat itu, sehingga bukan saja dia tidak dituntut karena pelanggaran itu, melainkan malahan memperoleh izin untuk menutup jalan umum itu selama satu bulan.

Pesta kawin yang diselenggarakan konon belum pernah ada bandingannya di kota Betawi. Pesta pora yang diramaikan oleh wayang Cina, tayuban, arak-arakan, kembang api dan lain-lainnya berlangsung sampai beberapa hari dan malam. Para pejabat Belanda yang diundang ikut menghadiri pesta meriah itu, sedangkan para pemuka Cina tiada yang hadir.

Ternyata harapan ibunya bahwa Tambahsia akan menjadi kepala keluarga yang baik dan bertanggung jawab tak terpenuhi. Hanya sebulan Oey betah tinggal di rumah menikmati bulan madunya. Setelah itu kebinalannya kambuh kembali. Dia hampir tak pernah pulang, kebanyakan waktunya dilewatkan di Bintang Mas, Ancol, tempat dia bisa bersenang-senang dengan istri bekas tukang kelontong itu.

Agaknya dia belum puas dengan istri sah, tambah sejumlah simpanan tetap maupun sementara. Dia masih saja memangsa anak orang. Gadis-gadis banyak yang dijadikan korban nafsunya. Konon para orang tua di Betawi makin ketat mengurung anak daranya, bahkan melongok dari pintu atau jendela rumahnya dilarang, karena khawatir sejarah Gang Kenanga akan berulang: anak gadisnya melihat Tambahsia bergaya di atas kuda dan si Hidung Belang melihat perawan di balik tirai. Karena gadis sukar diperoleh lagi, Tambahsia lebih sering memangsa istri-istri orang dengan bantuan para kaki-tangannya.

Pada suatu hari Tambahsia mendapat undangan dari bupati Pekalongan untuk menghadiri pesta khitanan putranya yang pertama. Seperti diketahui, Raden Ayu Bupati adalah kakak kandung Oey. Dia menerima undangan itu dengan senang hati, lalu berangkat ke Pekalongan diiringi oleh beberapa orang kaki-tangannya. Tak lupa pemuda kaya itu membawa buah tangan cukup untuk tuan rumah berupa bahan makanan dan minuman untuk keperluan peralatan dan kembang api. Hadiah-hadiah itu dikirimkan dengan kereta barang khusus mendahului keberangkatannya.

Menggaet pesinden

Pesta meriah di Kabupaten Pekalongan itu makin semarak, karena diramaikan oleh seorang pesinden tenar bernama Mas Ajeng Gunjing. M.A. Gunjing itu sebenarnya putri seorang bekas camat, tetapi menjadi penyanyi karena konon semasa kecilnya pernah diserang penyakit berat dan mendekati ajalnya. Menurut nasihat para orang tua, ayah dan ibunya melakukan nadar bahwa jika anak itu sembuh kelak akan belajar menjadi pesinden. Setelah dewasa Gunjing ternyata berkembang menjadi seorang putri cantik yang pandai menari dan melagukan tembang dengan suara merdu, yang konon tiada tandingannya di daerah Pekalongan.

Si Mata Keranjang Oey segera tertarik dan jatuh hati kepada biduanita yang jelita itu. Pelbagai cara ditempuhnya untuk mendekati dan membujuknya. Ternyata dia tak bertepuk sebelah tangan. M.A. Gunjing tidak menolak uluran tangan Tambah, bahkan menyambutnya dengan senang. Sebelum pesta di kabupaten resmi berakhir dan Tambahsia pulang, pesinden rupawan itu sudah diboyong ke Cirebon, kemudian dibawa lagi ke Betawi oleh para suruhan Tambah. Setibanya di Betawi dia sementara ditempatkan di pesanggrahan Ancol, yang membuat penghuni lama merasa kurang senang.

Seminggu setibanya di Bintang Mas, Gunjing jatuh sakit. Entah karena hawa Ancol yang tak sehat atau akibat sikap para penghuni Bintang Mas yang lain. Oey Tambah ketika melihat koleksi terbarunya sakit, buru-buru memindahkannya ke Tangerang, ke tanah Pasar Baru miliknya. Tambah pribadi yang mengawasi perawatannya sampai sembuh, sehingga dia lebih banyak berada di Tangerang ketimbang di tempat lain.

Bagaimanapun sayangnya Tambahsia terhadap Gunjing, dia tetap tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang tak terpuji. Dia tetap melanjutkan perburuannya terhadap gadis, janda maupun istri orang. Keluarga para kepala masyarakat Cina dan anggota Dewan Cina tidak mampu bertindak untuk menertibkan Oey, apalagi orang biasa, demikian pikir mereka. Dendam mereka pendamkan dalam-dalam, dengan keyakinan bahwa pada suatu ketika Tambahsia akan ketemu batunya dan mendapat pembalasan sepadan dengan perbuatan-perbuatan jahatnya. Sementara itu Tambah sendiri makin takabur, sebab merasa bahwa tidak ada kekuatan yang mampu mengekangnya.

Mata gelap

Sewaktu memenuhi undangan bupati untuk berkunjung ke Pekalongan, Tambah berkenalan dengan seorang pemuda Cina bernama Liem Su King, anak 'letnan' Cina di kota itu. Liem pindah ke Betawi untuk membangun kehidupannya, agaknya ayahnya tidak meninggalkan warisan besar, sehingga dia bisa hidup tanpa bekerja.

Karena terkenal sebagai orang muda yang berkelakuan baik, pandai dan rajin, Liem akhirnya dipungut menantu oleh 'Mayor' Tan Eng Goan, dinikahkan dengan salah seorang putrinya dari selirnya.

Berkat koneksi mertua dia diangkat menjadi kuasa gabungan pemborong (pachter) madat, yang merupakan usaha gabungan dari lima orang pemuka Cina, termasuk Tan Eng Goan. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda memonopoli semua pembuatan dan perdagangan madat (opium) dan penjualannya kepada konsumen diserahkan kepada para pachter itu.

Sekalipun Liem Su King dulu pernah berkenalan dengan Tambahsia di Pekalongan, perkenalan itu tidak dilanjutkan di Betawi, sebab Liem lebih dekat dengan para pemuka Cina yang bermusuhan dengan Tambah, di samping kedudukannya sebagai menantu Tan Eng Goan.

Pada suatu hari Tambahsia mendengar dari kaki tangannya bahwa salah seorang perempuan kerabatnya jatuh hati kepada Liem. Pendekatan yang entah dilakukan dengan cara apa, mengingat situasi masa itu, tidak mendapat tanggapan. Oey Tambah menganggap itu sebagai penghinaan dan aib besar bagi keluarganya. Barangkali kecuali peristiwa itu, sudah lama Oey menaruh dendam kepada Liem Su King, yang dipandang sebagai antek para pejabat Cina dan merasa tidak dipandang sebab si Liem tidak datang melanjutkan perkenalan mereka di Pekalongan.

Boleh jadi juga dendamnya makin dikobarkan oleh para antek dan penjilat yang selalu mengelilinginya, maka Oey bertekad untuk menyingkirkan Liem. Tetapi hal itu tidak semudah dilakukan seperti pada korban-korbannya yang lain. Liem Su King selalu dikawal ke mana juga perginya. Lagi pula dia sudah mendengar tentang ancaman Tambahsia, sehingga dia selalu berhati-hati dan waspada.

Tidak berdayanya anak buahnya untuk melenyapkan Liem, membuat Oey bertambah geram. Pada suatu hari terpikir olehnya untuk melakukan muslihat keji, yakni menyingkirkan musuh dengan meminjam tangan orang lain.

Rencana keji

Setelah rencana itu masak, dia menyuruh kokinya membuat kue yang diisi roomvla. Setelah siap kue-kue itu dihidangkan di atas piring di kamar tidurnya. Oey mengambil racun, lalu mengaduknya dengan saksama ke dalam roomvla itu. Kemudian dia memerintahkan untuk memanggil seorang kaki-tangannya yang bernama Oey Cun Ki (Ceng Ki). Antek yang biasa disuruh mencarikan perempuan itu bergegas ke rumah majikannya. Dia mendapatkan Oey sedang tidur-tiduran sambil mengisap madat. Tambah mempersilakan anteknya ikut mengisap dan tawaran itu diterima dengan senang hati. Sesudah sama-sama mengisap dan mereguk teh panas, Cun Ki merasa lapar dan makan kue-kue yang tersedia di piring tanpa dipersilakan lagi. Majikannya mengamatinya dengan mata setengah terpejam sampai dia menghabiskan dua buah dengan lahapnya.

"Kau makan kue itu, Ki?" Oey pura-pura bertanya.

"Ya, sia. Maafkan, saya sangat lapar..." jawab Cun Ki agak takut-takut kena marah.

"Wah, celaka!" seru Tambahsia. "Kali ini kau mati, sebab kue itu beracun!"

Cun Ki tenang-tenang saja, lega bahwa majikannya tidak memarahinya. "Sia, jangan main-main, ah!"

"Betul!" Tambahsia bangkit, seperti hendak memberikan tekanan pada kata-katanya. "Sungguh kau harus mati. Tetapi jangan khawatir, aku akan mengurus segalanya dan menjamin hidup keluargamu kalau kau mau menuruti kehendakku.".

Fitnah berencana

Cun Ki masih juga mau percaya kata-kata majikannya, barangkali sebab tak percaya majikannya bisa berbuat sekeji itu. Lambat-laun racun itu mulai bekerja. Dia merasakan perutnya mulai sakit. Dia terus-menerus mereguk teh, dengan harapan sakitnya makin berkurang, tetapi sebaliknya, nyeri itu makin parah.

Ketika sakitnya tak tertahan Cun Ki menjerit ketakutan dan melupakan hubungannya dengan majikannya. Dia memaki-maki Tambahsia sebagai manusia kejam dan jahat. Dia menanyakan apa alasannya dia hendak disingkirkan secara kejam itu?

Oey Tambah rrienghiburnya dengan mengatakan bahwa matinya takkan sia-sia, sebab ada tujuannya. Lalu dia membujuk bekas-kaki tangannya itu agar mau memberikan keterangan tertulis bahwa yang memberikan racun ialah ... Liem Su King. Keadaan Cun Ki makin lemah, sehingga rupanya dia tak berdaya melawan kehendak majikannya atau dia memang manusia berjiwa budak yang tak sanggup berpikir lain, sehingga dia setuju saja dibuatkan keterangan tertulis di depan notaris yang dipanggil oleh Tambah, disaksikan juga oleh polisi dan petugas lain. Menurut pengakuan yang didiktekan Tambah itu, Cun Ki disuruh menagih utang pada Liem, tetapi tidak dibayar. Sebaliknya, dia dipersilakan duduk dan diberikan minuman. Ketika perutnya mulai terasa nyeri dia curiga, lalu melapor ke Tambahsia.

Tak lama setelah menandatangani pernyataan itu Cun Ki meninggal. Mayatnya dibawa ke Stadsverband (rumah sakit) di Glodok untuk diperiksa, sementara Tambahsia mengirimkan peti jenazah dan perlengkapan lain ke rumah keluarga mendiang di Jembatan Lima. Setelah polisi membuat proses verbal, mereka segera mencari Liem Su King, yang dituduh sebagai pembunuh. Di rumahnya didapat keterangan bahwa orang itu sudah empat hari tidak pulang, diduga karena sibuk main judi di rumah perkumpulannya.

Tamu dari Pekalongan

Sementara itu sebuah lakon lain berlangsung di tempat lain. Seorang berpakaian seperti priyayi Jawa pada suatu hari berkunjung ke rumah Tambahsia. Dia mengaku bernama Mas Sutejo, datang dari Pekalongan untuk mencari adiknya, Mas Ayu Gunjing. Meskipun agak kurang senang dan curiga kepada lelaki Jawa yang tampan itu, sebab Gunjing tak pernah menyebut-nyebut mempunyai kakak laki-laki, dia menyuruh juga mengantarkan tamu itu ke Pasar Baru, Tangerang.

Karena sudah lama tak bertemu, kedatangan Mas Sutejo di Pasar Baru disambut hangat oleh Mas Ayu Gunjing sebagaimana layaknya saudara yang datang dari jauh.

Pada masa itu perjalanan Pekalongan-Jakarta merupakan perjalanan yang cukup jauh, yang ditempuh beberapa hari dengan kereta pos ditarik kuda. Sebab itu wajar, bahwa Gunjing menawarkan kepada kakaknya agar tinggal lebih lama di Tangerang sebelum menempuh perjalanan kembali. Mas Tejo itu rupanya cukup betah tinggal di rumah besar dikelilingi dengan kebun yang luas, dengan staf pelayan yang setiap waktu memenuhi perintahnya. Sebab itu agaknya dia berdiam lebih lama daripada rencana semula, dan mungkin juga belum cukup dia melepaskan rindunya kepada adiknya yang tercinta itu.

Selain menyanyi dan menari, Gunjing juga pandai membatik. Waktu luangnya dihabiskan untuk membuat kain-kain batik halus. Kepada Sutejo dia juga menghadiahkan sehelai hasil karyanya sebagai kenang-kenangan, yang langsung dikenakan oleh kakaknya itu.

Sementara itu mata-mata di antara staf pelayan Pasar Baru agaknya melaporkan hal-hal negatif yang bukan berdasar pada fakta, tetapi prasangka-prasangka serta kecurigaannya sendiri makin memperkuat rasa cemburu dan menimbulkan amarah di hati Tambahsia, yang sejak semula sudah bersyak-wasangka. Kecurigaan diperkuat dengan hubungan kakak-beradik yang sangat rapat itu, ditambah penampilan Mas Tejo yang gagah dan usianya tak berbeda jauh dengan Gunjing, di samping latar belakang kehidupan bekas penghibur itu yang tentunya mempunyai banyak pacar.

Mas Tejo hilang

Terbakar oleh cemburu buta, Tambahsia menyuruh kedua tukang pukulnya, Piun dan Sura, menyingkirkan laki-laki Pekalongan itu. Kedua jagoan bayaran yang sudah berpengalaman itu melaksanakan perintah tersebut dengan rapi dan cepat, sehingga pada malam yang bersangkutan Mas Tejo tidak pulang ke wisma Pasar Baru dan tak seorang pun memberitahukan kepada adiknya ke mana perginya. Laki-laki malang itu jatuh sebagai korban kekejaman Tambahsia yang kesekian. Hanya si Piun membuat kesalahan fatal. Melihat kain batik tulis yang dikenakan korbannya, timbul sifat tamak untuk memilikinya. Sura mengingatkan agar kain itu dibuang saja, tetapi tak dihiraukannya.

Sementara itu Liem Su King berhasil ditemukan di tempat perjudian di Jatinegara oleh orang-orang suruhan mertuanya. Liem sangat terkejut mendengar tuduhan yang dijatuhkan kepadanya. Dia segera menghadap mertuanya untuk menyatakan bahwa dia tidak tahu-menahu perkara pembunuhan itu. Setelah itu dia langsung melapor ke polisi.

Karena menurut bukti-bukti tertulis Liem terlibat dalam peracunan, polisi terpaksa menahannya, sementara mengumpulkan bukti-bukti dan saksi-saksi lain untuk menyusun berkas perkara.

Sementara itu Tan Eng Goan tidak tinggal diam dalam usaha menyelamatkan menantunya. Dia mempcroleh info bahwa Liem tidak ada di tempat kejadian waktu peristiwa peracunan itu. Dia mempunyai alibi kuat yang disaksikan oleh empat orang. Ternyata kegemaran judinya menyelamatkannya dari perangkap yang dibuat Tambahsia. Empat orang kawan mainnya di rumah judi, di antaranya seorang jaksa dari Bekasi, berusaha membuat pernyataan di bawah sumpah. Karena itu polisi yang memang tidak yakin akan kesalahan Liem, membebaskannya dari tahanan.

Rahasia kue beracun

Di rumah, secara kebetulan Liem mendengar dari salah seorang pembantu rumah tangganya bernama Jiran bahwa kakaknya yang perempuan, yang bekerja pada Oey Tambahsia sebagai koki, katanya, melihat majikannya memasukkan bubuk ke dalam kue, yang disuruh buat secara misterius dan disimpan di kamar tidur. Liem sangat tertarik mendengar kisah itu, yang mungkin akan mengungkapkan rahasia peracunan itu. Dia memerintahkan Jiran agar minta kakaknya datang supaya bisa dimintai keterangan lebih terperinci.

Dari juru masak itu Liem mendapat keterangan bagaimana Tambahsia memasukkan bubuk tertentu ke dalam roomvla yang dibuat secara terpisah, kemudian diisikan sendiri ke kue oleh majikannya di dalam kamar tidurnya.

Liem tak membuang waktu lagi untuk melapor kepada Asisten Residen Keuchenius, yang bertugas menangani perkara-perkara kepolisian, untuk melaporkan penemuannya itu. Keuchenius tidak begitu saja menerima bahan baru ini, tetapi minta buktinya.

"Mudah saja," jawab Liem, "kalau Anda segera melakukan penggeledahan di rumah Tambah, barangkali masih bisa dijumpai barang bukti, seperti sisa racun dan sebagainya."

Keesokan harinya masih pagi sekali asisten residen memimpin sepasukan polisi melakukan penggerebekan di rumah Oey Tambah. Ternyata yang bersangkutan tak ada di rumah. Dalam penggeledahan itu ditemukan sisa kue yang belum termakan dan sebuah mangkuk berisi roomvla di kolong ranjang. Ternyata Tambahsia lalai untuk menyingkirkannya atau dia sudah yakin betul bahwa dia takkan pernah dituduh melakukan peracunan.

Menurut pemeriksaan polisi, racun yang dicampurkan di dalam roomvla itu sama dengan yang ditemukan dalam tubuh korban.

Di arena adu jago

Sementara itu Liem masih terus berusaha mengumpulkan bukti kejahatan Tambahsia. Di Tangerang dia berhasil membujuk M.A. Gunjing untuk bersedia menjadi saksi dalam perkara hilangnya kakak kandungnya. Di depan asisten residen dia mengungkapkan kecurigaannya terhadap Piun, yang secara sembrono mengenakan kain batik tulis milik kakaknya.

Dengan tambahan petunjuk baru itu polisi berhasil mendapat pengakuan Piun bahwa dia bersama Sura membunuh Mas Sutejo dan menguburkan jenazahnya di kebun tebu, masih dalam lingkungan tanah Oey Tambahsia, atas perintah majikannya itu.

Polisi lalu mencari Oey Tambah untuk diminta keterangannya, tetapi dia tak di rumah. Juga di Bintang Mas, Ancol tak terlihat bayangannya. Ternyata pagi-pagi dia sudah pergi mengadu ayam di Pasar Asem (daerah Pecenongan?). Para petugas menjumpai di arena adu ayam. Para petaruh gempar, karena dikira polisi menggerebek tempat bertaruh itu. Petugas menghampiri Oey Tambah. Dia sangat terperanjat, tetapi tetap yakin bahwa uangnya akan menyelamatkan dirinya dari segala. Ketika tangannya diborgol, Tambah baru menyadari bahwa dia terkena tuduhan berat, bukan sekedar sengketanya dengan Tan Eng Goan.

Di tempat tahanan yang dijaga ketat dan langsung di bawah pengawasan schout (pejabat kepolisian) Oey masih berusaha menyuap seorang opas agar menyampaikan pesan kepada adik kandungnya di rumah. Opas itu disuruh membawa tongkatnya yang bertombol emas. Pesuruh itu tertangkap ketika akan memasuki rumah Oey Makau di Patekoan. Ketika diperiksa, ternyata di dalam tombol emas itu terdapat kertas memuat pesan, agar Makau menyuruh Piun dan Sura kabur secepatnya, karena kesaksian mereka bisa memberatkan perkaranya. Surat singkat itu nantinya malah menjadi bukti memberatkan di sidang pengadilan.

Menyangkal terus

Di dalam- sidang Tambahsia tetap tidak mengakui perbuatannya, sekalipun tuduhan jaksa didukung oleh saksi-saksi dan bukti-bukti yang meyakinkan.

Keluarga Oey meminta bantuan seorang pengacara tenar masa itu, Mr. B. Bakker, dengan honor yang tinggi di samping hadiah seratus ribu gulden jika dia berhasil menyelamatkan tertuduh. Betapa pun pandainya Mr. Bakker itu, dia ternyata tidak bisa membantah bukti-bukti yang diajukan penuntut umum.

Akhirnya hakim ketua menjatuhkan hukuman mati di atas tiang gantungan kepada Oey Tambah. Mir. Bakker lalu mengajukan naik banding.

Setelah perkara itu diteliti lagi oleh Mahkamah Agung, ternyata mahkamah membenarkan dan memperkuat keputusan pengadilan sebelumnya. Harapan satu-satunya setelah itu hanya mohon grasi pada gubernur jenderal. Setelah lama menunggu, tibalah surat ketetapannya: pejabat tertinggi itu menolak permohonan pengampunan Oey Tambah.

Pada hari yang ditentukan Oey Tambah menaiki tiang gantungan dengan tenang, berdandan rapi dengan baju cina dan celana putih, wajahnya berseri. Bersama dia juga dihukum mati kedua algojonya, Piun dan Sura. Berlainan dengan majikannya yang menghadapi maut dengan tenang, kedua pembantu dalam kejahatannya itu harus ditopang, karena tidak mampu berdiri akibat tidak makan beberapa hari.

Maka berakhirlah riwayat Oey Tambah yang menggemparkan seluruh lapisan masyarakat Betawi dan sampai lama menjadi buah bibir orang dan kisahnya ditulis menjadi buku atau syair. Waktu menemui ajalnya di tiang gantungan umurnya baru 31 tahun.

Sumber:

Anon., Tambasia (Soewatoe tjerita yang betoel soedah kejadian di Betawi antara tahoen 1851-1856), Jakarta: tanpa tahun.
Phoa Kian Sioe, Sedjarah Oey Tamba Sia, Jakarta: 1956.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.