TRIBUNTRENDS.COM - Aksi Khairun Nisya mendadak menyedot perhatian publik setelah sebuah video memperlihatkan dirinya terciduk menyamar sebagai pramugari Batik Air beredar luas di media sosial.
Penyamaran yang semula dilakukan diam-diam itu berubah menjadi sorotan nasional ketika rekaman klarifikasinya viral dan memantik berbagai reaksi warganet.
Di balik seragam rapi dan koper maskapai, tersembunyi kisah seorang perempuan muda yang terhimpit rasa malu dan harapan yang tak terwujud.
Baca juga: Detik-detik Penyamaran Nisya Jadi Pramugari Terbongkar, Gagal Jawab Pertanyaan: Malah Ngang-Ngong
Untuk melancarkan aksinya, Nisya mengenakan seragam lengkap beserta atribut pramugari agar terlihat meyakinkan sebagai kru kabin.
Ia membawa koper maskapai, mengenakan pakaian khas awak pesawat, bahkan berhasil ikut terbang dalam penerbangan salah satu maskapai nasional.
Ia juga diduga sengaja membuat kartu identitas palsu dengan nama “Nisya” agar tampil sebagai pramugari resmi.
Namun penyamaran itu akhirnya terbongkar setelah dilakukan pengecekan oleh pihak maskapai dan otoritas terkait.
Nisya kemudian menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari awak kabin resmi maskapai mana pun.
Nisya, sapaan akrabnya, nekat mengenakan seragam pramugari palsu bukan tanpa alasan.
Ia mengaku melakukan penyamaran itu karena tidak sanggup mengakui kepada keluarganya bahwa dirinya gagal lolos seleksi pramugari Batik Air.
Untuk menutupi kegagalan tersebut, Nisya membeli seragam pramugari melalui toko daring agar terlihat seolah telah resmi bekerja sebagai awak kabin.
Padahal, berdasarkan data identitas pribadinya, ia masih berstatus sebagai seorang mahasiswa.
Kebenaran itu akhirnya diungkap sendiri oleh Nisya melalui sebuah video klarifikasi yang diunggah akun Instagram @sumsel.terciduk pada Kamis (8/1/2026).
Dalam video singkat tersebut, ia mengakui keterlibatannya dalam penerbangan Batik Air rute Palembang–Jakarta dengan nomor ID 70-508 pada 6 Januari 2026.
Dengan nada suara bergetar, Nisya menyampaikan pengakuannya secara terbuka.
"Saya Nisya, umur 23 tahun, asal saya dari Palembang. Dengan ini saya mengatakan memang benar saya melakukan penerbangan Batik Air rute Palembang-Jakarta ID 70-508 tanggal 6 Januari 2026 menggunakan atribut pramugari dan seragamnya," ujarnya.
Baca juga: Sosok Nisya Pramugari Gadungan, Pakai Atribut Batik Air Demi Konten TikTok, Diamankan saat Mendarat
Tak hanya mengakui perbuatannya, Nisya juga menyampaikan permohonan maaf kepada pihak maskapai dan grup perusahaan penerbangan terkait.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut dibuat atas kesadarannya sendiri.
"Dengan ini saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada pihak maskapai Batik Air maupun Lion Group.
Video ini saya buat dengan sesungguhnya tanpa paksaan dari pihak manapun," pungkasnya.
Meski telah menyampaikan permintaan maaf, Nisya tidak secara gamblang mengungkap motif emosional di balik penyamarannya dalam video tersebut.
Kasus ini kemudian ditangani oleh kepolisian. Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta, Kompol Yandri Mono, mengungkap hasil interogasi terhadap Nisya.
Menurut Yandri, perempuan tersebut mengaku pernah mengikuti seleksi pramugari Batik Air, namun tidak berhasil lolos.
Karena merasa malu kepada keluarga di Palembang, Nisya berpura-pura telah diterima bekerja dan nekat terbang ke Jakarta menggunakan seragam pramugari palsu.
"Yang bersangkutan mengenakan baju maskapai dalam rangka supaya keluarganya percaya," ujar Yandri Mono saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (7/1/2026).
Baju pramugari yang dikenakan Nisya diketahui dibeli melalui online shop dan dipakai sejak berangkat dari rumah menuju bandara di Palembang. Kepada polisi, Nisya mengaku sebenarnya berniat mengganti pakaian setelah tiba di bandara.
Namun rencana tersebut gagal terlaksana karena keterbatasan waktu.
"Jadi kalau pengakuannya dia sebenarnya setelah sampai Bandara di Palembang itu dia mau ganti.
Namun, karena waktunya mepet sehingga dia naik pakai seragam itu ke pesawat sampai ke Bandara Soekarno-Hatta," kata Yandri.
Baca juga: Pembelaan Pramugari Gadungan yang Bikin Geleng Kepala saat Diamankan, Kru Pesawat Curiga dari Awal
Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, polisi memastikan tidak ditemukan unsur tindak pidana dalam aksi penyamaran tersebut. Tidak ada indikasi kejahatan maupun pelanggaran hukum lain yang menyertainya.
Atas dasar itu, pihak Batik Air memutuskan tidak melanjutkan proses hukum dan memilih penyelesaian secara damai.
“Batik Air tidak melakukan penuntutan. Namun bersangkutan membuat surat pernyataan tidak mengulangi perbuatannya dan menyita semua atribut Batik Air yang dipakai,” ucap Yandri.
Kisah Nisya bukan sekadar cerita tentang penyamaran. Ia mencerminkan tekanan sosial, rasa malu, dan impian yang belum tercapai.
Seragam pramugari yang ia kenakan menjadi simbol dari harapan yang terlalu jauh untuk digapai, hingga akhirnya justru menyeretnya ke pusaran perhatian publik.
Di balik viralnya video dan riuhnya komentar, tersisa satu pelajaran: mimpi yang tak tercapai seharusnya tak perlu ditutupi dengan kebohongan.
***