Awali 2026 dengan Retret Kabinet, Apa Saja Capaian 2025 & Target Tahun 2026 Pemerintahan Prabowo?
January 09, 2026 08:16 AM


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mengawali tahun 2026 dengan menggelar retret Kabinet Merah Putih di Hambalang.

Dalam kesempatan itu, sejumlah program prioritas Presiden Prabowo dipaparkan perkembangan dan capaiannya di tahun pertama pemerintahan.

Baca juga: Retret Hambalang, Pakar: Menteri Harus Berani Beri Masukan Prabowo, Jangan Hanya Asal Bapak Senang

Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari, mengungkapkan keberhasilan signifikan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan swasembada beras yang dicapai dalam waktu singkat.

Menurut Qodari, MBG yang diluncurkan pada 6 Januari 2025 telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa.

Hal itu disampaikan Qodari saat sesi wawancara khusus dengan Tribunnnews di Studio Tribun, Palmerah, Jakarta, Rabu (7/1/2026).

 

 

"Dalam waktu satu tahun, program MBG telah mencapai 55 juta penerima manfaat. Suatu prestasi yang sangat luar biasa karena negara-negara lain membutuhkan waktu jauh lebih lama. Brasil, misalnya, butuh sekitar 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima," kata Qodari.

Saat ini, telah berdiri sekitar 20 ribu Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) atau dapur MBG di seluruh Indonesia. Program ini, kata Qodari, memberikan dampak ekonomi yang sangat konkret.

"Setiap hari, perputaran uang dari MBG ini mencapai sekitar Rp 885 miliar. Ini melibatkan pelaku ekonomi di tingkat akar rumput: supplier sayur, beras, buah-buahan, ikan, ayam, dan daging. Ekonomi benar-benar bergerak di lapangan," ungkapnya.

Tak hanya itu, dampak penyerapan tenaga kerja pun sangat nyata. Satu SPPG membutuhkan sekitar 50 pekerja. Dengan 20 ribu SPPG, tercipta sekitar 1 juta lapangan kerja langsung.

"Belum kalau kita hitung dari sisi supplier. Jika satu SPPG dilayani 10 supplier, dan satu supplier mempekerjakan 5 orang, itu berarti tambahan 1 juta lapangan kerja lagi. Jadi, lewat MBG saja, tercipta sekitar 2 juta lapangan kerja," jelas Qodari.

Lebih lanjut, dia menyebut mayoritas penerima manfaat MBG adalah anak sekolah, disusul ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. 

Perputaran uang harian dari program ini kini mendekati Rp 1 triliun, yang terdistribusi merata ke seluruh Indonesia.

Capaian lain yang dipaparkan dalam retret kabinet adalah keberhasilan swasembada beras. 

Menteri Pertanian (Mentan) dilaporkan berhasil mencapai target tersebut hanya dalam satu tahun, padahal rencana awalnya empat tahun.

"Kebutuhan beras kita sekitar 30 juta ton per tahun untuk memberi makan 285 juta jiwa penduduk. Produksi kita tahun 2025 mencapai 34,7 juta ton, sudah melebihi kebutuhan," jelas Qodari.

Bahkan, cadangan beras di gudang Bulog sebagai yang tertinggi dalam sejarah Republik Indonesia, lebih dari 3 juta ton. 

Belum termasuk yang tersebar di rumah tangga, restoran, dan lainnya yang diperkirakan mencapai 12 juta ton.

Qodari menyebutkan, Menteri Pertanian meregulasi lebih dari 500 aturan terkait produksi beras dan 150 aturan terkait pupuk.

"Yang menarik, karena Indonesia tidak impor beras, harga beras dunia turun. Awal 2024, harga beras dunia pernah mencapai 660 USD per ton. Sekarang tinggal 360 USD per ton. Swasembada beras di Indonesia turut membantu masyarakat di negara-negara lain yang konsumsi berasnya tinggi," ungkapnya.

Lebih lanjut, Retret Kabinet Merah Putih ini menjadi momentum evaluasi dan penyusunan strategi untuk mempercepat pelaksanaan program-program prioritas di tahun 2026.

Qodari menegaskan, banyak capaian signifikan telah diraih di tahun pertama pemerintahan, yang akan menjadi fondasi untuk kerja-kerja pembangunan ke depan.

Berikut petikan wawancara khusus dengan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari dengan Tribunnews:

Tanya: Presiden Prabowo itu menekankan seperti apa untuk kabinet tahun ini? Apakah ada fokus utama yang diutarakan?

Jawab: Melanjutkan program-program prioritas. Karena memang program prioritas Presiden ini, pertama kan sebagian baru, kemudian skalanya besar seperti MBG. Bagaimana mencapai ini secepatnya sesuai dengan target, yaitu 83 juta penerima dan sekitar 30 ribu SPPG. 

Kemudian kalau bicara pertanian misalnya, setelah kita beras, maka kemudian kita juga mau kejar jagung. Kalau jagung buat pakan, pakan hewan, ternak, segala macam itu alhamdulillah tahun kemarin sudah terpenuhi, bahkan agak berlebih sekitar setengah juta ton.

Tetapi untuk jagung konsumsi misalnya, harus ditingkatkan. Belum lagi nanti kita bicara PR-PR yang lain ke depan, misalnya kedelai. Tapi ini kan harus pelan-pelan satu-satu.

Presiden dan Pemerintah sudah punya daftar sebetulnya program-program yang harus dikerjakan, terutama yang katakanlah kemarin saya ingat juga dalam kaitan dengan Danantara, itu soal hilirisasi.

Ada sekian belas program-program hilirisasi yang harus dikerjakan. Misalnya bagaimana kita mau bangun hilirisasi kelapa. Jadi kelapa itu ternyata kebutuhan di dunia itu sangat besar dan kemudian kalau dibuat hilirisasi--tidak hanya kelapa sebagai kelapa ya--tetapi dengan olahan, dengan segala bentuknya, mulai dari Nata de Coco sampai ke VCO (Virgin Coconut Oil), itu akan meningkatkan nilai tambah dengan sangat signifikan, sangat besar. Itu sudah ada rutenya.

Yang jadi kepedulian atau jadi concern sekarang adalah bagaimana itu dilaksanakan dengan secepat-cepatnya.

Bagaimana misalnya biodiesel untuk bisa meningkatkan swasembada atau mencapai swasembada energi Indonesia, itu juga secepat-cepatnya bisa dilaksanakan.

Bahkan mungkin sebagian cerita itu adalah hal-hal yang kita gak terlalu tahu. Gambir, saya juga baru tahu tuh bahwa gambir itu, dulu kan tahunya kalau nenek itu nyirih ya, tapi ternyata gambir itu produk yang punya turunan sangat panjang dan bisa sangat mahal karena dia dibutuhkan untuk produk-produk kosmetik. Itu juga jadi salah satu program yang harus dikerjakan oleh pemerintah ke depan.

Jadi intinya sebetulnya, karena ini baru mau tahun kedua, masih melanjutkan apa-apa yang sudah direncanakan. Tentu dengan sistem yang lebih baik, kualitas yang lebih baik, dan mudah-mudahan dengan kecepatan yang juga lebih baik. 

Kesehatan misalnya, kita kan pengen 285 juta semua CKG, Cek Kesehatan Gratis. Sekarang 70 juta, artinya udah selesai belum? Belum, masih banyak.

Masih banyak ke depan pembangunan RSUD, peningkatan kualitas Rumah Sakit Umum Daerah dari tipe D menjadi tipe C, direncanakan sekian puluh yang belum selesai itu harus dikejar.

Kemudian untuk bisa melengkapi fasilitas-fasilitas kesehatan terkait dengan penyakit-penyakit yang krusial. Misalnya, bagaimana supaya identifikasi dan pelayanan-pelayanan pasang ring terhadap penyakit jantung itu bisa semakin luas di berbagai wilayah di Indonesia. Karena sebelumnya atau selama ini, dia terbatas di daerah-daerah tertentu.

Dokter spesialis, bagaimana supaya kebutuhan dokter spesialis bisa dipercepat, baik lewat pendidikan di kampus maupun dengan berbasis rumah sakit. Jadi masih banyak sekali. Yang penting adalah, di tahun pertama pemerintahan, tahun 2025 kita sudah membuktikan bahwa program-program itu bisa berjalan. Kita juga kemudian bisa membuat agar program-program itu punya fondasi yang kuat untuk bisa diselesaikan tapi cepat-cepat. (Tribun Network/Yuda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.