TRIBUNJABAR.ID - Berikut inilah foto-foto korban banjir Sukabumi terjadi sudah setahun, rumah hancur tak kunjung dapat bantuan.
Sudah setahun sejak tragedi banjir bandang terjadi di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Desember 2024 lalu, puluhan keluarga tak kunjung mendapat bantuan dari pemerintah.
Sejumlah ibu-ibu menangis saat mereka terpaksa kembali ke rumah yang sudah hancur diterjang banjir bandang dan longsor, Kamis (8/1/2026).
Pasca bencana banjir, mereka mengungsi SDN Kawungluwuk, namun kini terpaksa meninggalkan lokasi pengungsian tersebut karena akan kembali dipakai aktivitas belajar pada Senin (12/1/2026) nanti.
Di tengah kesedihannya itu, sejumlah warga pun meluapkan keluhan yang menagih janji bantuan Rp 10 juta dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Baca juga: Kisruh Bantuan Rp10 Juta ke Korban Banjir Cidadap Sukabumi, Pemdes Ungkap Alasan Ketidakmerataan
Secara serentak, warga Kampung Babakan Cisarua itu meminta keadilan kepada Dedi Mulyadi agar mereka juga terdata untuk mendapatkan bantuan uang kontrakan dan juga kepastian relokasi.
Mereka mengeluh karena korban yang mendapatkan bantuan uang sewa kontrakan Rp 10 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat hanya sebanyak 23 KK (Kepala Keluarga) yang terletak di Kampung Sawah Tengah.
Sementara itu, masih ada 70 hingga 80 KK di Kedusunan Kawungluwuk yang belum menerima bantuan tersebut.
Sejumlah warga pun mengungkap keluh kesah yang rumahnya hancur hingga tak mendapatkan bantuan sepeser pun.
Foto 1
Ini adalah Uloh, seorang kakek berusia lebih dari 70 tahun asal Kampung Babakan, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Rumah Uloh tertimbun longsor sudah sekitar 9 bulan pada Desember 2024 lalu.
Tak hanya kehilangan rumahnya, Uloh juga kehilangan istrinya yang meninggal dunia tertimbun longsor saat itu.
Kini Uloh hidup sebatang kara. Mirisnya, Uloh malah menghuni gubuk alias saung reyot di kebun tengah hutan.
Ia bertahan hidup dengan mengandalkan mencari makanan yang ada di hutan. Ubi hingga tebu telur alias turubuk menjadi makanan sehari-hari Uloh untuk mengganjal perut agar tidak kelaparan.
Tubuhnya yang kecil dan sudah renta itu setiap hari selama 9 bulan ini harus melawan rasa dingin, terlebih saat malam hari. Diterpa hujan angin, Uloh bertahan di gubuk itu hanya dengan berlapiskan sarung sebagai selimut.
Foto 2
Seorang pria berjalan di depan rumah warga yang rusak terdampak banjir bandang yang terjadi pada Desember 2024 lalu.
Tampak bangunan rumah warga bercat hijau itu masih kokoh, namun sebagian telah rusak dikotori lumpur yang sudah mengering.
Di sekitar rumah warga tersebut juga tampak puing dan sampah banjir belum dibersihkan.
Foto 3
Berikut ini foto ketika sejumlah warga banjir bandang di Kampung Babakan Cisarua, Kabupaten Sukabumi terpaksa meninggalkan pengungsian SDN Kawungluwuk.
Terlihat rumah-rumah warga yang masih diselimuti lumpur yang sudah menjadi tanah menutupi teras.
Baca juga: Pemprov Jabar Kucurkan Rp10 Juta per KK untuk Biaya Kontrak Korban Banjir Cidadap Sukabumi
Foto 4
Seorang warga memperlihatkan dampak banjir bandang yang terjadi Desember 2024 lalu menimbun rumah, lumpur banjir mengeras menjadi tanah.
Tragedi banjir bandang di Sukabumi dalam setahun terjadi 3 kali, pertama terjadi di bulan Desember 2024, Maret dan Desember 2025.
Seorang warga, Wulan, menuturkan bahwa bencana pertama mereka alami pada Desember 2024.
Peristiwa tersebut kemudian berlanjut dengan banjir bandang pada Maret 2025 hingga bencana terparah pada Desember 2025 yang menghanyutkan rumah warga dan membuat satu kampung terasa seperti “mati”.
Respons Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi memberikan respons soal janjinya bantuan Rp 10 juta dikeluhkan korban banjir di Sukabumi belum merata.
Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi juga mengungkap fakta alasan sejumlah warga belum menerima bantuan tersebut.
Mereka mengeluh lantaran sudah setahun sejak tragedi banjir bandang terjadi pada Desember 2024 lalu, bantuan yang dijanjikan tak merata.
Diketahui, korban banjir bandang dan longsor Cidadap ini hampir mencapai seratusan Kepala Keluarga (KK).
Melalui instagram pribadinya, Gubernur Jawa Barat itu mulanya membeberkan bahwa tragedi banjir di Sukabumi tersebut sudah sering terjadi.
Dedi pun menyoroti bagaimana berbagai masalah timbul di Sukabumi itu sebagian besar berasal dari kerusakan alam.
“Sukabumi itu menjadi daerah yang secara terus menerus mengalami berbagai problem, kuncinya satu alamnya rusak,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi menjelaskan bahwa di Sukabumi banyak titik penembangan ilegal maupun legal, alih fungsi lahan dan menyusutnya areal hijau dan hutan.
Lantas, Dedi mengungkap fakta bahwa Sukabumi menjadi wilayah yang memiliki area kebun sawit terbesar di Jawa Barat.
Ia menegaskan fakta tersebut berdasarkan data yang didapatnya.
Akibat penambangan dan kebun sawit itu, kata Dedi, juga berdampak pada alam dan jalan rusak, sehingga masalah terus akan terjadi.
Dedi mengatakan problem tersebut juga terkait pada banyaknya warga yang masih belum mendapatkan uang kompensasi.
Gubernur Jabar itu mengungkap fakta bahwa sebagian rumah warga terdampak banjir Desember 2024 diusulkan mendapat bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Termasuk masalah video tadi, rumah-rumah belum diberi kompensasi. Itu saya sudah cek data bahwa Pemerintah Kabupaten Sukabumi beri usulan terhadap 50 rumah yang terdampak bencana Desember 2024 itu diusulkannya ke BNPB,” papar Dedi Mulyadi.
Karena hal itu bantuan Rp 10 juta yang dijanjikannya tak turun menyeluruh.
Meski begitu, Dedi Mulyadi menegaskan pihaknya akan meminta Bupati Sukabumi untuk mengajukan usulan bantuan ke Pemerintah Priovinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar).
“Jadi di Jawa Barat ini, kalau berbagai hal pasti larinya ke Gubernur. Ya jadi kita akan segera selesaikan masalah itu, dan saya minta Bupati Sukabumi untuk mengajukan usulan ke Pemprov Jabar agar ada tindak lanjut dari 500 rumah yang rusak akibat banjir dan longsor pada Desember 2024,” jelasnya.
Kemudian Dedi Mulyadi berpesan agar masyarakat Jawa Barat menjaga lingkungan jika tak ingin masalah seperti banjir dan longsor terjadi.
Ia mengajak agar masyarakat berbenah untuk menjaga alam termasuk menenam pohon bukan menanam keributan.