Laporan Wartawan TribunGayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Di usia 64 tahun, Aji Mude, seorang Ceh Didong, masih duduk tegak ketika bercerita. Suaranya pelan, tetapi kokoh seperti orang yang telah kehilangan segalanya, namun tidak kehilangan dirinya sendiri.
Baca juga: Seniman Didong Linge Aseli, Mahdi dan Kisah 105 Liter BBM untuk Kampung Linge
Ia adalah Ceh Didong dari Grup Arbika (Ari Bintang Kalasegi). Seorang penjaga syair, perawat ingatan kolektif orang Gayo.
Namun, pada Rabu (26/11/2025) malam, alam datang dengan cara yang paling kejam. Banjir bandang dan lumpur melanda Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, dan Aji Mude menjadi salah satu korban langsungnya.
Rumahnya hancur, lenyap disapu air dan lumpur. Tak ada yang tersisa.
“Rumah habis. Buku syair didong habis dibawa banjir. Semua habis. Baju hanya tinggal di badan,” kata Aji Mude, saat berbincang bersama TriubunGayo.com, di Java Takengon Merodot, Kamis 98/1/2026).
Yang hilang bukan hanya bangunan. Bersamaan dengan rumah itu, Aji Mude juga kehilangan dokumen budaya berisi 422 judul syair didong catatan tangan, arsip batin, hasil puluhan tahun menyusun kata, makna, dan petuah hidup.
Bagi seorang Ceh Didong, itu sama artinya dengan hilangnya sebuah perpustakaan tak tergantikan.
Air datang tiba-tiba. Tak ada waktu menyelamatkan apa pun.
“Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Saya hanya berserah diri dan berzikir,” ujarnya.
Dalam kepasrahan itu, Aji Mude merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan nalar.
“Air seolah menjauh dari kami.”
Di tengah kekacauan, satu keputusan naluriah menyelamatkan nyawa.
Baca juga: Syair Didong Linge Aseli: Dengan Didong Kami Memulihkan Diri
Ketika istrinya sudah terperosok dan terbenam lumpur, Aji Mude menarik lengan istrinya sekuat tenaga. Mereka berhasil keluar. Istrinya selamat, meski lengan harus diurut karena cedera akibat tarikan keras dari lumpur yang menahan.
Bagi Aji Mude, keselamatan istri adalah anugerah terbesar di antara puing-puing kehilangan.
Hari-hari setelah bencana diisi dengan keheningan yang berat. Namun dari keheningan itulah, didong kembali menemukan jalannya.
Mengenang peristiwa tragis itu, Aji Mude menuliskannya dalam bentuk syair didong.
Kata-kata tentang air, lumpur, zikir, dan keselamatan lahir kembali bukan di atas buku yang telah hanyut, tetapi dari ingatan dan rasa.
Syair itu kemudian didendangkan oleh anak-anak Kalasegi. Suara generasi muda menyuarakan luka kampung mereka sendiri.
Didong menjadi ruang pemulihan, cara orang Gayo mengingat tanpa tenggelam dalam duka.
“Kata-katanya datang begitu saja. Mengalir,” kata Aji Mude, menutup pembicaraan.
Rumah boleh hilang. Buku boleh hanyut. Namun selama didong masih hidup di dada seorang Ceh, sejarah tak pernah benar-benar musnah. (*)
Baca juga: Warga Gayo Jakarta Bergerak Cepat, Salurkan Lebih 20 Ton Beras