TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Krama Banjar Adat Ngenjung Sari, di Desa Bakbakan, Kecamatan Gianyar, Bali, kini tidak hanya menjadi penonton hingar bingar pariwisata Bali.
Sebab mereka saat ini menerima manfaat langsung dari objek pariwisata air terjun bernama Taman Sari Waterfall.
Dari hasil pendapatan objek wisata yang dikelola BUMDes itu, krama mendapatkan insentif atau upah setiap mengikuti kegiatan gotong-royong, tergantung jumlah pendapatan.
Baca juga: Kunjungi Bali, Nicholas Saputra Ajak Desa Wisata Fokus Pada Kualitas, Tak Sekadar Angka Kunjungan
Terakhir, krama mendapatkan insentif sebesar Rp 51 ribu per orang. Hal ini pun sangat disambut positif masyarakat.
Berdasarkan data dihimpun, Jumat 9 Januari 2026, insentif ini dibagikan setiap enam bulan sekali, menyesuaikan dengan pendapatan Taman Sari Waterfall.
Dalam enam bulan tersebut, krama banjar biasanya menggelar kegiatan gotong royong sebanyak 14 kali.
Besaran insentif yang diterima krama pun bervariasi, tergantung tingkat kehadiran.
Baca juga: ASITA Bali Mesadu ke Kemenpar, Keluhkan Online Travel Agent Promosikan Produk Wisata Tak Berlisensi
Ada krama yang menerima hingga Rp689 ribu karena hadir 13 kali, ada pula yang menerima Rp510.000 karena hanya bisa hadir 10 kali, karena suatu halangan.
Sistem ini dinilai adil karena berbasis partisipasi aktif.
Menariknya, hal ini tentunya berbeda dengan aturan banjar adat pada umumnya di Bali yang mengenai denda untuk krama yang tidak hadir gotong royong.
Baca juga: Sempat Ditutup, Objek Wisata Sangeh Bali Kembali Dibuka, Wisatawan Dapat Perlindungan Asuransi
Marketing Taman Sari Waterfall, I Nyoman Padma Mandala membenarkan hal tersebut.
Ia menegaskan, tujuan dari adanya objek wisata ini memang sepenuhnya untuk kebaikan krama adat.
“Ini bukan semata-mata soal wisata, tapi bagaimana pariwisata bisa kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Baca juga: Libur Nataru, Penumpang Dokar Wisata di Denpasar Bali Masih Sepi
Selain menerima insentif gotong royong, krama Banjar Adat Ngenjung Sari juga dibebaskan dari iuran atau peturunan odalan di empat pura yang diempon bersama oleh sekitar 130 kepala keluarga.
Sebelum adanya objek wisata ini, biasanya krama mengeluarkan iuran sekitar Rp200 ribu per orang setiap odalan, yang datang enam bulan sekali.
"Kini pengeluaran tersebut ditutupi dari keuntungan pengelolaan wisata. Tak hanya itu, sebagian keuntungan Taman Sari Waterfall juga dialokasikan untuk pembangunan dan pemeliharaan pura, sehingga krama benar-benar merasakan manfaat langsung dari pariwisata yang berkembang di wilayahnya," ujar Padma.
Baca juga: Bertahun-tahun Rusak, Jalan Subak Selat Bali Kini Jadi Jalan Desa Wisata
Dipaparkan bahwa saat ini, Taman Sari Waterfall telah dikenal luas oleh wisatawan.
Baik mancanegara, domestik maupun lokal Bali. Rata-rata kunjungan mencapai 200 hingga 300 wisatawan per hari.
Tak hanya menyajikan wisata air terjun, objek ini juga memiliki akses yang sangat mudah.
Dimana dari area parkir menuju air terjun hanya butuh waktu 2 sampai 3 menit berjalan kaki dengan jalur landai. Di pusat objek juga terdapat kolam alami yang bisa digunakan wisatawan untuk berenang, termasuk kolam khusus anak-anak.
"Airnya berasal langsung dari mata air Pura Beji, sehingga kolamnya jernih," ujarnya.
Tak hanya itu, objek ini juga relatif dekat dengan Ubud. Dan, dari objek ini, wisatawan juga bisa menuju ke Kintamani, Bangli, sehingga keberadaan objek wisata Taman Sari Waterfall cukup strategis. (*)