Perintis rekaman di Hindia Belanda, Tio Tek Hong, menceritakan kehidupan masyarakat Tionghoa di Batavia pada abad 19-20.
Artikel ini tayang di Majalah Intisari edisi Februari 2022 dengan judul "Peranakan Tionghoa di Batavia dalam Ingatan Tio Tek Hong" | Penulis: Redaksi Intisari
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Bagaimana kehidupan masyarakat di Pecinan Betawi pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke- 20? Tio Tek Hong, yang pernah dikenal sebagai pengusaha piringan hitam lagu-lagu keroncong sampai kartu pos, menceritakannya dalam Riwayat Hidup Saya dan Keadaan di Djakarta dari Tahun 1882 Sampai Sekarang (1959). Berikut cuplikannya.
Saya lahir 7 Januari 1877 di sebuah rumah di Jl. Raya Pasar Baru, Batavia. Ketika itu Jl. Pasar Baru sudah merupakan daerah pertokoan, tetapi keadaannya masih lengang. Kedua tepinya ditumbuhi pohon asam yang rindang. Rumah bertingkat belum ada, begitupun pedagang kaki lima. Ketika umur saya enam tahun, orangtua saya pindah ke rumah yang berdekatan, yaitu rumah no.28 yang kemudian menjadi Restoran Tropic.
Pada umur tujuh tahun saya mulai bersekolah di Le Europese Lagere School di Schoolweg (kini Jl. dr. Soetomo) yang letaknya menghadap ke Kali Pasar Baru. Sebetulnya sekolah dasar itu hanya untuk anak-anak Belanda. Siswa pribumi dan Cina sedikit sekali.
Anak-anak Cina hanya bisa diterima di sekolah itu kalau mendapat surat izin dari residen. Setelah lulus anak-anak Cina itu tidak diperkenankan mengikuti ujian Klein Ambtenaar untuk menjadi karyawan di kantor-kantor gubernemen (pemerintah). Kesempatan untuk bekerja di sana tertutup untuk golongan Cina.
Si Gajah Dungkul
Setiap tahun, menjelang tahun baru Cina yang disebut pula Sincia, nyonya-nyonya Cina sibuk membersihkan tempat tinggal mereka. Pintu dan jendela dicat, dinding dikapur.
Semasa saya masih kecil, bibi-bibi saya tampak repot mengatur-ngatur pembantu untuk menyiapkan bahan-bahan pembuat kue satu. Bahan-bahan itu mesti ditumbuk halus. Kue satu dicetak di cetakan kayu.
Hasil cetakan yang kurang bagus diberikan kepada saya dan adik-adik, sehingga pada saat para bibi sedang mencetak kue, kami selalu berada dekat-dekat mereka. Mereka juga membuat pelbagai macam manisan.
Kami anak-anak, mendapat baju dan celana baru dari sutera yang disebut pangsi. Kakak saya membeli petasan untuk dibakar pada malam dan hari tahun baru. Kami anak-anak sangat senang selama masa tahun baru yang berlangsung lima belas hari.
Tepat pada hari tahun baru, pagi-pagi anak-anak harus bersembahyang di hadapan altar leluhur. Setelah itu kami harus memberi hormat kepada orangtua dan anggota keluarga yang lebih tua. Lalu kami beramai-ramai digiring ke rumah sanak-keluarga yang lebih tua. Kesempatan ini sangat menyenangkan, karena setiap kali kami memberi hormat dengan ber-soja, kami mendapat angpau,yaitu uang yang dibungkus dengan kertas merah.
Kami pun membeli petasan cabai merah (agak besar) dan petasan cabai rawit (yang kecil-kecil). Sementara itu tanjidor mengamen dari rumah ke rumah. Pada malam kesembilan, yaitu saat “sembahyang Tuhan Allah” dan pada malam kelima belas yang disebut capgome, pelbagai tontonan mengadakan pertunjukan keliling di daerah Pecinan.
Ada pertunjukan yang disebut Gajah Dungkul. “Gembala”- nya memukul tambur kecil sambil bernyanyi:
“Gajah saya gajah dungkul/Kasih makan rumput sepikul/Saya beberes belon betul/Yang nonton sudah kumpul/Pepaya mateng dari Kramat/Saya dateng kasih selamet/Panjang umur dan sehat/Banyak rejeki biarlah dapet.”
Perayaan tahun baru ditutup dengan malam capgome. Dengan membawa lampion (lentera kertas) berbentuk burung, kotak, dsb. Kami berkeliling di kampung Cina.
Sebetulnya keramaian sudah dimulai sejak malam ketiga belas dengan pertunjukan wayang cokek. Anak wayangnya empat orang perempuan berbaju kurung yang warnanya berbeda-beda. Rambut mereka dijalin dan jalinan itu dililitkan di kepala. Mereka menandak (menari) dan bernyanyi, diiringi gambang keromong sambil ditimpali lelucon oleh Empeh Sin Siang dan Mak Babu.
Ada pula pertunjukan yang dinamai “wayang Sip-pat-moh”. Kedua perempuan anak wayangnya menari sambil menyanyikan lagu Cina dan memainkan tambur. Memang terdapat bermacam-macam wayang, di samping sandiwara yang disebut komidi bangsawan atau stambul.
Malam keempat belas dan kelima belas merupakan puncak keramaian. Muncullah naga-nagaan besar yang disangga sejumlah galah. Para pemegang galah itu membuat naga-nagaan bisa bergerak melilit-lilit seperti hidup.
Ada pula yang disebut cungge, yaitu panggung tempat duduk atau berdiri sejumlah anak yang didandani dengan pakaian gemerlapan seperti wayang Cina, meniru adegan dalam cerita Si Jin Kui, dll.
Panggung yang diterangi cahaya lilin itu diusung ke rumah-rumah para opsir Cina (pemuka-pemuka golongan Cina yang mendapat gelar tituler dari pemerintah seperti Luitenant, Kapitein, Majoor) serta para sahabat mereka untuk memberi selamat. Setelah itu mereka mengamen ke rumah para hartawan dan menerima hadiah uang. Pembuatan cungge itu memang disponsori para hartawan dan opsir Cina. Orgel putar orang-orang Italia pun ikut mengamen.
Orgelnya besar, diputar dengan tangan. Sebelum ada orkes, orgel seperti ini biasa”ditanggap” untuk memeriahkan pesta pernikahan. Di Tanah Abang, Palmerah, dan Meester Cornelis (Jatinegara), capgome dirayakan pada malam keenam belas.
Rebutan bendera, lomba perahu, dan pesta kue rembulan
Selain tahun baru yang ditutup dengan capgome, ada perayaan-perayaan lain yang diselenggarakan setiap tahun. Perayaan Cioko (rebutan bendera) diadakan untuk menyembahyangi arwah orang-orang yang tidak diberi sesajen oleh keluarganya, umpamanya saja karena terlalu miskin.
Untuk upacara itu masyarakat Cina bergotong-royong memberi sumbangan uang maupun barang, termasuk makanan dan bahkan… candu! Barang-barang itu digelar dalam bakul-bakul yang ditancapi bendera segitiga aneka warna. Dibuat pula boneka-boneka dari tepung, berupa tokoh pahlawan seperti Si Jin Kui, Koan Kong, dll.
Benda-benda ini, termasuk boneka-boneka itu, pada akhir upacara diperebutkan.Tadinya Cioko diselenggarakan di panggung yang didirikan di halaman belakang Gedung Globe di Pasar Baru, kemudian dipindahkan ke belakang kelenteng Jl. Lautze yang ketika itu masih luas.
Setiap tanggal lima bulan lima pada penanggalan Cina, diadakan pesta Pecun. Perahu-perahu berlomba di kali, untuk merebut batang bambu yang berdaun. Pada batang bambu itu diikatkan sapu tangan, cita dan sebungkus... candu seharga 32 sen!
Pecun dirayakan di kali Pasar Baru, Kali Besar, Kali Pasir, Pasar Ikan, dan Kali Angke (Jelakeng). Kita pun bisa pesiar dengan perahu besar, yang membawa pula pemain musik, sementara sampan berhias ikut lalu-lalang.
Di Jembatan Dua (daerah Kota), Kali Pasir (daerah Weltevreden), dan di Kali Parung (Meester Cornelis) banyak orang mandi di kali pada hari itu, dengan harapan bertambah rezeki, panjang umur dan enteng jodoh. Sementara itu di Pejongkoran di Tanjung Priok, beramai- ramai orang mandi di laut. Setiap tanggal 15 bulan delapan menurut kalender Cina, di kelenteng Jl. Lautze diselenggarakan sembahyang Tiongcupia (kue rembulan). Disediakan pula sebuah meja panjang yang besar, tempat para pemuda bisa makan-makan.
Bawa pengawal ke akhirat
Sesungguhnyalah orang Cina banyak mengeluarkan uang untuk upacara pemakaman dan membuat makam. Waktu kakek saya dari pihak ibu meninggal, iring-iringan jenazahnya diawali oleh boneka kertas setinggi kira-kira 6 m.
Wajah boneka itu merah dan penampilannya garang, sebab ia seorang jenderal. Ia bisa bergerak berkat roda di bawahnya. Boneka itu dihela sampai ke makam. Setelah jenazah terkubur, boneka itu dibakar. Tugasnya adalah membuka jalan bagi roh si mati.
Kakek saya menyatakan pernah dua kali melihat komet Halley. Saya sangsi. Mungkin yang satu bukan Halley, tetapi bintang sapu lain. Komet Halley yang memperlihatkan diri 76 tahun sekali itu muncul tahun 1911 ketika saya sedang beristirahat di Bogor.
Memelihara “serabi”
Sejak berumur kira-kira sepuluh tahun, anak laki-laki Cina memelihara “serabi”, yaitu rambut di bagian belakang kepala, sedangkan rambut di atas dahi dicukur licin sampai puncak kepala. Pencukuran dilakukan setiap minggu. Bagian belakang kepala yang ditumbuhi rambut, bentuknya bundar. Karena itulah disebut “serabi”.
Rambut serabi itu dibiarkan panjang supaya bisa dikepang bersama sutera kuncir. Para pemuda memakai sutera kuncir berwarna merah, pria dewasa memakai sutera kuncir hitam, orang yang berkabung berat (berkabung untuk anggota keluarga dekatnya) memakai sutera kuncir putih, sedangkan yang berkabung ringan memakai sutera kuncir biru.
Kepang atau kuncir itu dibiarkan terjuntai ke punggung seperti kepang perempuan dan disebut “tocang”. Tocang dipaksakan oleh orang Mancu sejak mereka menduduki Cina pada 1644. Jika orang Cina meninggal, barulah ia dilepaskan dari tocangnya. Tatkala Kang Yuwei, tokoh reformasi Cina datang ke Hindia Belanda pada 1903, saya membantu mengatur pemotretan bersama. Akibatnya, saya kebagian tempat di ujung kiri dan tidak keburu menyembunyikan tocang saya yang jelas sekali terlihat di foto.
Tiong Hoa Hwee Koan pernah mengirim telegram ke pemerintah Ceng (Qing) di Beijing untuk menanyakan apakah memotong tocang secara resmi diizinkan. Beijing menjawab dengan telegram pula: “Diizinkan secara resmi sebetulnya tidak, tetapi tidak dilarang.”
Berita itu disiarkan di kalangan penduduk Cina. Ternyata mula-mula banyak juga yang bersikeras mempertahankan tocangnya sebab tradisi tiga abad sulit dibuang. Baru sejak tahun 1911 tocang tidak umum lagi terlihat.
Neneknya cerewet
Ketika saya berumur 19 tahun (1896), ibu menikahkan saya dengan seorang gadis dari Sukabumi. Sebenarnya saya jatuh cinta kepada saudara seorang sahabat saya, tetapi ibu tidak setuju. Alasannya: nenek gadis itu amat cerewet! Meskipun saya berusaha sekuat tenaga untuk membantah, akhirnya ibu juga yang menang. Saya tidak diizinkan berkenalan dulu dengan gadis pilihan ibu itu.
Hati saya kecut memikirkan akan berdampingan seumur hidup dengan orang yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sedikitnya, saya ingin melihat dulu rupa bakal istri saya itu. Kebetulan dia membantu ibunya berjualan cita. Jadi, saya pergi ke Sukabumi untuk mencoba melihatnya.
Seorang teman saya menunjukkan calon istri saya itu. Ternyata ibunya tidak pernah meninggalkannya jauh-jauh. Ketika gadis itu mendengar teman saya menyebut nama saya, dia bergegas menghilang ke ruang dalam! Gadis masa itu memang jarang keluar rumah dan tidak berani menemui tamu.
Kalaupun pergi ke pesta pernikahan atau ulang tahun, mereka cuma membantu di dapur, terlindung dari pandangan pria. Setelah menjadi menantu, mereka harus melayani dan mengabdi kepada mertuanya seakan-akan mertuanya itu dewa.
Gara-gara lidah Belanda
Tahun 1905, bersama seorang teman saya berkeliling Jawa.Masa itu, orang Cina harus membawa surat jalan kalau bepergian. Surat jalan untuk Kesultanan Yogya dan Kasunanan Solo harus diminta secara khusus.
Saya memintanya kepada Asisten Residen Ketjen di Jakarta. Saya cuma diberinya surat jalan untuk ke Surabaya, sebab katanya dengan surat itu saya boleh singgah di mana saja.
Kami mempergunakan “Karcis sepur 1.000 km”, sehingga setiap kali akan menyambung perjalanan tidak perlu membeli karcis kereta api lagi. Di Cirebon kami menumpang trem Ned. Ind. Tramway Mij.
Ketika trem memasuki kota, jalannya dilambatkan. Di muka lokomotif berjalan seorang karyawannya sambil membawa bendera merah. Di luar kota barulah trem boleh ngebut.
Surabaya lewat Semarang belum bisa dicapai dalam sehari. Perjalanan harus ditunda dulu di Maos, Cilacap. Di situ ada Hotel Andreas untuk orang Belanda dan Hotel Slamat untuk bumiputera dan lainnya.
Di mana-mana penginapan Belanda tertutup untuk orang bukan kulit putih. Setelah lelah duduk sepanjang hari di kereta, kami mengharapkan bisa beristirahat di hotel yang menyenangkan, tetapi cuma bisa mendapat tempat yang kurang terawat dan kurang menyenangkan.
Di Cilacap ini kami berkunjung ke Kapten Phoa Tjin Thay dan putranya, Phoa Ik Kwan yang mengusahakan sebuah toko. Di Yogya kami menginap di Hotel Mataram yang dikelola orang Belanda. Kami berterus-terang tidak berbekal surat jalan khusus untuk Yogya. “Jangan khawatir,” katanya.
Benar juga, waktu polisi datang, kami selamat berkat perlindungannya. Saya meminta pengurus hotel meneleponkan Kapten Yap Ping Liem di kota itu, memberitahukan bahwa kami akan berkunjung. Alangkah tercengangnya kami ketika disambut dengan permadani di jalan masuk ke rumah kapten.
Opsir itu sendiri mengenakan pakaian kebesaran dan lampu di rumahnya menyala terang benderang. Kami betul-betul tidak menyangka akan menerima kehormatan seperti itu.
Ternyata terjadi kesalahpahaman. Kapten Yap mengira yang akan datang adalah Tio Tek Ho, Mayor Cina di Betawi. Teman saya, Lie Tjoe San, dikira Major Tituler Lie Tjoe Hong. Maklum lidah Belanda repot kalau mengucapkan nama Cina, apalagi di telepon!
Ditunggu polisi
Kami menyatakan kekhawatiran kami karena tidak berbekal surat jalan untuk Yogya. Menurut Kapten Yap, hal itu tidak penting. Putranya akan menguruskan sampai beres.
Esok harinya, ketika kami pulang berkeliling kota, di hotel sudah ada polisi menunggu kedatangan kami. Asisten residen Yogya tersenyum membaca surat jalan dari Asisten Residen Ketjen, tetapi kami tidak luput dari denda, masing-masing Rp5!
Karena tidak mau masuk penjara, terpaksa kami membayarnya. Kami sekalian meminta surat jalan kepadanya. Dia berjanji akan mengurusnya. Ternyata sia-sia saja kami menunggu tiga-empat hari. Jadi, tanpa surat kami nekat pergi ke Solo.
Syukur,kami tidak menemukan kesulitan. Kami mengunjungi Candi Borobudur yang bagian atasnya belum dipugar. Pada salah sebuah lubang, terpahat nama Raja Chulalongkom dari Siam. Dia menghadiahkan patung gajah yang ada di muka museum di Jl. Medan Merdeka Barat sekarang.
Di Semarang kami berkunjung ke kelenteng Sampo-toalang, juga ke rumah Mayor Oei Tiong Ham di Gergaji.
Bedanya Babah Surabaya dengan Babah Betawi
Di Surabaya kami berkenalan dengan pemimpin toko-toko besar dan mengakui Peranakan Betawi kalah jauh dengan Peranakan Surabaya dalam hal menyambut tamu maupun dalam berusaha.
Kalau di Jakarta kaum perempuan Cina mengenakan baju kurung atau kebaya panjang dan sarung, di sini mereka mengenakan baju peki dan kain sarung. Kalau menghadiri pesta, kain sarungnya diganti dengan rok. Perempuan Cina di Betawi baru lama kemudian memakai baju peki. Saat itu nyonya-nyonya di Surabaya sudah berkebaya pendek yang berenda dan bersarung.
Di Surabaya, pada saat kaum pria Cina sudah mengenakan jas terbuka dengan dasi, rekan-rekan mereka di Jakarta masih mengenakan baju “twikim” yang tidak berkerah,kecuali anak-anak opsir Cina yang baju twikim-nya berkerah. Celananya pun masih celana komprang. Baru kemudian celana komprang itu diganti dengan celana model Eropa.
Pada saat kami masih memakai baju twikim dan ber-tocang, ujung tocang biasa kami selipkan ke saku samping baju twikim. Waktu ada gerakan potong tocang, anak-anak Betawi masih memakai jas tutup, sedangkan anak-anak Surabaya sudah mengenakan jas terbuka.
Meminta hak disamakan dengan golongan Eropa
Dari Kediri rencananya kami ingin pergi ke G. Dieng, tetapi akhirnya kami batalkan. Kami sempat melihat G. Merapi yang sedang memuntahkan api terus-menerus.
Keharusan meminta surat jalan yang prosesnya bertele-tele dan menyulitkan menyebabkan sebagian orang Cina mengajukan permohonan agar haknya disamakan dengan orang Eropa (gelijkstelling). Syaratnya, dia mesti mendapat surat rekomendasi dari seorang Belanda yang menyatakan bahwa dia mampu bergaul dengan orang Eropa, menguasai salah satu bahasa Eropa, orang baik-baik, dll.
Surat yang ditujukan kepada Gubernur Jenderal itu akan diedarkan kepada para asisten residen, opsir Cina dan bek, untuk diuji kebenarannya. Kadang-kadang baru setahun kemudian ada keputusan yang menyatakan permintaan itu diterima atau ditolak. Gelijkstelling bukanlah naturalisasi. Ada orang yang meminta gelijkstelling karena alasan praktis, ada pula yang untuk sok aksi. Yang terakhir ini sering bertingkah-laku berlebihan.
Toko pertama dengan harga pasti
Sudah saya ceritakan bahwa saya belajar berniaga dengan membantu di toko yang menjual barang-barang gadaian yang tidak terlelang. Kemudian saya mencoba berdagang sendiri. Karena senang berburu, saya tertarik menjual senjata api dengan mesiunya. Masa itu belum ada larangan membeli alat menembak. Bahkan orang Eropa boleh mengimpor senapan tanpa surat izin khusus.
Mula-mula saya membeli barang dagangan dari pengimpor, tetapi kemudian saya bisa mendatangkan sendiri senjata api berkat bantuan kenalan baik, Tuan J.C. de Senerpont Damis. Izin mendatangkan sendiri senjata api dan peralatannya dari luar negeri saya peroleh setelah membuka toko sendiri di Jl. Pasar Baru no. 95 tahun 1902.
Senapan hanya boleh kami jual kepada orang Eropa. Toko saya, NV Tio Tek Hong, saya dirikan bersama saudara saya, Tio Tek Tjoe. Bentuknya perseroan terbatas. Kemudian kami mengimpor pelbagai macam barang.
Kamilah yang pertama menjual barang dengan harga pas, supaya orang tidak usah membuang-buang waktu untuk tawar-menawar dan tidak usah takut membeli terlalu mahal. Kami menerapkan harga pada barang dagangan kami. Toko kami pula yang memulai kebiasaan untuk tutup pada hari Minggu dan hari-hari raya. Toko-toko Cina lain kemudian meniru.
Rahasia umur panjang
Buku kenang-kenangan ini ditulis saat umur saya menjelang 83 tahun. Saya tidak menderita tekanan darah tinggi maupun diabetes. Telinga dan mata saya masih tajam. Menurut seorang pewawancara, saya masih tegak, pikiran saya tetap jernih, dan rambut saya masih tebal. Apa rahasianya?
Rahasianya mungkin karena saya makan dan hidup sederhana. Saya tidak merokok dan setiap hari saya bangun pagi-pagi. Sejak berumur 30 tahun, setiap pagi saya minum segelas air putih, lalu bersenam. Saya senang berolahraga dan berjalan kaki, berenang dan mengatur pernapasan. Saya cuma makan secukupnya, yaitu makanan-makanan yang berguna.
Biarlah orang mencela saya pelit. Menurut pendapat saya, jika kita sudah berumur 50 tahun, sebaiknya kita lebih banyak makan sayur-mayur, lalapan, buah-buahan, dan jangan terlalu banyak makan daging. Bekerja keras baik, tetapi otak dan badan harus diistirahatkan seminggu sekali. Mesin yang memiliki kekuatan 16 tenaga kuda pun akan lekas rusak kalau digenjot terus.
Selain itu tidur sebaiknya jangan terlalu larut. Ingat saja pepatah Belanda: De morgenstond heeft goud in de mond (orang yang bangun pagi-pagi memiliki emas di mulutnya).
Saya mempunyai syair:
Jika bangun pagi hari,
Rezeki selalu menghampiri,
Segala penyakit akan lari,
Bikin sehat kau punya diri!