Menkes Curhat, Relawan Masuk Aceh Lewat Malaysia Karena Mahalnya Tiket Penerbangan
January 11, 2026 11:19 AM

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan kementeriannya sempat mengirim relawan untuk masuk ke Aceh melalui Malaysia karena harga tiket yang lebih terjangkau.

Pernyataan itu Budi sampaikan saat rapat koordinasi Satgas Pemulihan Bencana DPR dengan pemerintah pada hari ini, Sabtu (9/1). Ia mengatakan per dua pekan, kementerian mengirim 700-800 relawan kesehatan ke Sumatra.

"Karena kita, yang penting jalan kan, kita kirim lewat Malaysia, karena murah tuh kirim lewat Malaysia. Tiketnya bisa Rp 2 juta, Rp 3juta," ujar Budi dalam rapat itu yang disiarkan kanal YouTube DPR RI.

Budi lanjut bercerita bahwa sempat ada momen 400 relawan Kemenkes yang masuk ke Aceh melalui Malaysia dengan menggunakan baju biru. Kejadian itu terekam dalam video dan beredar di media sosial. Banyak netizen menyangka mereka adalah relawan asal Negeri Jiran.

"Masuk tuh relawan Kemenkes tuh 400 dari Malaysia dengan baju biru-biru kayak gini keluar di IG 'Alhamdullilah relawan kesehatan Malaysia datang'," ujar Budi.

Di kesempatan terpisah, Budi sempat menyampaikan harga tiket Jakarta-Medan lebih mahal ketimbang melalui Malaysia. Dia lalu meminta Kepala Satgas untuk mempertimbangkan memberi harga khusus bagi relawan kesehatan yang akan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra sehingga Kemenkes bisa lebih mudah mengirim relawan.

Menurut Budi, daerah terpencil dan posko bencana perlu banyak relawan kesehatan agar percepatan pemulihan juga bisa terwujud. "Mudah mudahan kalau bisa dibantu, diatur, agar untuk relawan relawan ini tiketnya harga ini lah harga apa harga khusus. Apalagi kan mereka bawa bawa banyak perbekalan segala macem," ucap dia.

Total 3.719 Relawan

Sebelumnya, Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin mengungkapkan bahwa sejak awal bencana, sebanyak 3.719 relawan dikerahkan guna mendukung pelayanan kesehatan di wilayah terdampak di Provinsi Aceh melalui berbagai fasilitas pelayanan, termasuk 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pengungsian.

“Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan (nakes) yang ada dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhannya,” ujar Agus, Selasa (6/1/2026).

Agus menjelaskan seluruh relawan dimobilisasi dan dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) sesuai dengan prosedur penanganan bencana Kemenkes. Adapun HEOC, dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga bencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini berperan menganalisis kebutuhan nakes sekaligus mengatur lalu lintas, alokasi, dan pergerakan relawan, agar pelayanan kesehatan berjalan efektif dan merata.

Mengutip laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan, relawan tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi. Konsentrasi relawan terbesar berada di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 1.065 orang dan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.

"Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan. Saat ini layanan kesehatan diberikan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 RS pemerintah (RSUD dan RS TNI/Polri), dan 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian," ujarnya.

Agus menyoroti tantangan utama dalam langkah ini yakni memastikan rotasi relawan berjalan lancar tanpa mengganggu kontinuitas layanan di fasilitas kesehatan. “Dengan rata-rata masa tugas relawan 10–12 hari, penugasan diatur agar setiap fasilitas tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat,” ucapnya.

Dari sisi komposisi profesi, lanjutnya, relawan didominasi tenaga medis lapangan. Perawat menjadi profesi terbanyak dengan 923 orang, disusul nakes lainnya sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, dan dokter spesialis 264 orang. Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, serta 350 tenaga non kesehatan yang mendukung operasional layanan. Sejumlah profesi pendukung juga diterjunkan, antara lain tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan.

Berdasarkan asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah dengan jumlah 2.399 orang. Dukungan juga diberikan oleh kalangan akademisi sebanyak 780 orang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebanyak 307 orang, serta organisasi profesi sebanyak 233 orang.(cnnindonesia)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.