Korban Pandemi Covid-19, Pasar Rakyat Modern Butu Gorontalo Hanya Bertahan Dua Bulan
January 11, 2026 04:47 PM

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sejak awal 2020 meninggalkan jejak panjang di berbagai sektor, termasuk ekonomi rakyat.

Salah satu yang merasakan dampak paling nyata adalah Pasar Rakyat Modern Butu di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.

Pasar yang diresmikan dengan penuh harapan pada tahun 2019 itu hanya mampu bertahan dua bulan sebelum aktivitas perdagangan terhenti total akibat pandemi.

Kini, enam tahun setelah peresmian, bangunan megah yang sempat digadang-gadang menjadi pusat ekonomi warga Desa Butu terlihat lengang, bahkan nyaris terbengkalai.

Pada masa peresmian, antusiasme pedagang begitu tinggi. Lapak-lapak di bagian dalam hingga area depan pasar terisi penuh oleh warga yang menjajakan kebutuhan pokok.

Masri, salah seorang warga setempat, masih mengingat jelas suasana kala itu. “Saat diresmikan banyak yang isi, sampai di dalam, sedangkan di depan juga penuh,” kenangnya.

Sebagian besar pedagang berasal dari Desa Butu sendiri. Mereka menjual beras, sayuran, dan kebutuhan harian lain yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar.

Pandemi Menghentikan Segalanya

Namun, harapan itu sirna ketika pandemi Covid-19 datang. Dua bulan setelah pasar beroperasi, seluruh aktivitas perdagangan mendadak berhenti.

“Setelah dua bulan dibuka, baru Corona datang. Sejak itu sudah tidak ada aktivitas lagi,” kata Masri, Minggu (11/1/2026).

Pandemi membuat masyarakat takut berkerumun. Pedagang kehilangan pembeli, sementara aturan pembatasan sosial semakin memperparah kondisi.

Pantauan TribunGorontalo.com, Minggu (11/1/2026), menunjukkan semak-semak mulai tumbuh liar di sekitar pasar. Kondisi ini menjadi tanda minimnya aktivitas perdagangan.

Meski dari luar bangunan pasar masih tampak kokoh, beberapa plafon terlihat jebol. Pintu utama tertutup rapat sehingga kondisi di dalam tidak bisa dipantau.

Bangunan yang seharusnya menjadi pusat ekonomi desa kini lebih mirip monumen bisu dari sebuah harapan yang kandas.

Masri menuturkan, pada awalnya pasar menjadi tempat berkumpul warga. Pedagang dan pembeli saling berinteraksi, menciptakan denyut ekonomi baru di Desa Butu.

Namun, pandemi memutus rantai itu. “Corona datang, semua berhenti. Tidak ada lagi yang jualan,” ujarnya.

Bagi warga, pasar Butu adalah korban nyata dari krisis kesehatan global yang berubah menjadi krisis ekonomi lokal.

Meski pasar kini sepi, warga sekitar masih menaruh harapan besar agar pasar bisa kembali difungsikan.

Menurut Masri, semangat masyarakat untuk berdagang akan muncul kembali jika pemerintah mengaktifkan pasar.

“Berbagai macam cara sudah dilakukan agar pasar kembali ramai, tapi tetap tidak berhasil,” katanya.

Pemerintah Pernah Meninjau
Masri menyebutkan, Pemerintah Kabupaten Bone Bolango sempat turun langsung melihat kondisi pasar. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.

Upaya revitalisasi atau program penghidupan kembali pasar belum membuahkan hasil.

Warga berharap pemerintah tidak melupakan investasi besar yang sudah ditanamkan untuk membangun pasar tersebut.

Baca juga: Kisah Agung Febri Ramadhan, Pemuda Gorontalo Jualan Laptop di Pasar Sepi Pengunjung

Satu Pedagang Bertahan

HUMAN INTEREST -- Foto Agung Febri Ramadhan. Agung berdagang di Pasar Rakyat Modern Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo.
HUMAN INTEREST -- Foto Agung Febri Ramadhan. Agung berdagang di Pasar Rakyat Modern Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. (TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Di tengah sepinya aktivitas, hanya satu pedagang yang masih bertahan. Ia adalah Agung Febri Ramadhan, yang membuka usaha penjualan dan servis laptop.

Febri mengaku baru sekitar satu tahun menempati lapak di pasar itu. Saat mulai berjualan, kondisi pasar memang sudah lama sunyi.

“Kalau saya baru satu tahun di sini,” katanya.

Febri mengungkapkan, ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana ramainya pasar sebelum pandemi.

“Saya datang memang sudah sepi. Soal kondisi sebelum itu, saya kurang tahu,” pungkasnya.

Pasar Rakyat Modern Butu kini menjadi simbol nyata bagaimana pandemi Covid-19 menghentikan denyut ekonomi rakyat.

Bangunan yang sempat menjadi kebanggaan desa berubah menjadi ruang kosong tanpa aktivitas.

Harapan besar yang dititipkan pada pasar itu kandas hanya dalam hitungan bulan.

Sebagian warga menilai kondisi pasar sebagai kegagalan. Namun ada juga yang melihatnya sebagai peluang jika pemerintah mau turun tangan.

Pasar masih berdiri kokoh, meski beberapa bagian rusak. Dengan perbaikan dan program yang tepat, pasar bisa kembali hidup.

Hingga kini, masyarakat Desa Butu masih menunggu kebijakan baru dari pemerintah daerah.

Mereka berharap ada langkah konkret untuk menghidupkan kembali pasar yang menjadi korban pandemi.

Pasar Rakyat Modern Butu adalah cerita tentang harapan yang pupus oleh pandemi.

Ia menjadi saksi bagaimana krisis kesehatan global mampu melumpuhkan ekonomi lokal dalam waktu singkat. Namun, di balik kesunyian itu, masih ada harapan. Warga percaya, jika pasar diaktifkan kembali, semangat berdagang akan bangkit.

Pasar Butu bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol perjuangan masyarakat desa menghadapi badai pandemi. Dan hingga kini, mereka masih menunggu saat pasar itu kembali hidup.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.