Kaca Rumah Warga Pecah Saat Tawuran Remaja Bersajam di Jalan Cemara Kayu Tangi Banjarmasin Kalsel
January 11, 2026 04:52 PM

 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Beredar video perlihatkan sejumlah remaja diduga tawuran di Jalan Cemara Kompleks Cemara 1 Perumnas Kayutangi, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Para remaja tersebut tampak membawa senjata senjata tajam (sajam) pada kejadian Minggu dini hari (11/1/2026) sekitar pukul 04.45 Wita itu.

Dilansir melalui unggahan akun Instagram @info_banjarmasin, ulah  pada remaja itu pun meresahkan warga yang tinggal di sekitar lokasi kejadian.

Apalagi wilayah tersebut termasuk kawasan padat penduduk.

Baca juga: Tawuran Remaja Pakai Senjata Tajam di Banjarmasin Terjadi Lagi, 20 Orang Terekam Saling Serang

Dalam video yang beredar, terlihat segerombolan remaja menggunakan sepeda motor beramai-beramai mendatangi kawasan tersebut.

Terdengar teriakan saling beradu tantangan sembari membunyikan klakson sepeda motor mereka.

Selain itu, para remaja tersebut juga membawa berbagai senjata tajam mulai dari parang, pisau dan lainnya.

“Beredar rekaman warga Sekelompok remaja menggunakan motor diduga tawvran Subuh tadi, Minggu 11-2-2026 sktr pukul 04.45-04.00 d Jln. Cemara-masuk Komplek Cemara 1 Perumnas Kayutangi,” terang unggahan tersebut.

Tak hanya saling berkelahi dengan menggunakan sepeda motor.

Seorang remaja juga tampak berkeliling komplek berjalan kaki sembari membawa sebilah tiang yang digeretnya ke aspal jalanan.

Akibat kejadian tersebut, satu rumah warga ikut terdampak.

Diduga terkena lemparan batu, bagian pintu kaca rumah warga tersebut pecah.

Tampak beling bertebaran di lantai rumah beton itu.

Warga berharap ada tindakan tegas bagi para remaja tersebut.

Agar tak kembali melakukan aksi yang membahayakan tersebut.

Tiga Faktor Penyebab

Mengutip Kompas.com, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Koentjoro Soeprapto mengatakan, ada banyak faktor yang melatarbelakangi tawuran. 

"Ada tiga faktor yang menjadi penyebab tawuran. Faktor karena memang diadu, faktor kepentingan, dan dendam lama," sebut Koentjoro saat dihubungi Kompas.com, Kamis (5/9/2019). 

Menurut dia, alasan warga ataupun pelajar melakukan tawuran adalah untuk mendapat pengakuan dari orang lain. 

"Karena pada dasarnya, manusia memiliki sifat kebinatangan. Dari situ akan timbul rasa ingin diakui atau ingin terlihat wah," ujar Koentjoro.

Lebih jauh dia memaparkan, motivasi seseorang untuk melakukan tawuran juga dapat muncul dari sejak keluarga. 

Misalnya saja saat pembagian warisan. 

Dalam pembagian warisan tersebut salah satunya adalah membagikan tanah. 

Bila tanah yang didapat dipermasalahkan, maka akan dibela mati-matian atau dalam bahasa jawa disebut sakdumuk batuk, sanyari bumi. 

Hal tersebut sudah menggambarkan salah satu bibit tawuran.

Selain itu, Koentjoro mencontohkan kasus yang terjadi di Papua beberapa waktu adalah karena masalah ketersinggungan yang telah terjadi sejak lama. 

"Penyebabnya karena mereka sangat tersinggung, tentu tersinggungnya bukan hanya kemarin dan masuknya kepentingan lain, tetapi sudah menumpuk hingga akhirnya meledak," paparnya. 

Dia menambahkan, tawuran di desa dan di kota penyebabnya berbeda.

"Kalau di desa tawuran terjadi karena nilai dan masalahnya sepele, misalnya perebutan tanah dan saat nonton dangdut lalu bersenggolan akhirnya menimbulkan tawuran antar geng. Bila di kota, terjadi karena mobilisasi massa, artinya menyewa preman," jelas Koentjoro.

(Banjarmasinpost.co.id/danti ayu)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.