TRIBUNJOGJA.COM - Kalau diperhatikan, banyak foto yang terlihat “mahal” dan estetik di Instagram sebenarnya tidak selalu diambil dengan kamera super canggih.
Salah satu kunci besarnya justru ada pada cahaya alami.
Cahaya matahari bisa membuat warna terlihat lebih hidup, kulit tampak segar, dan suasana foto terasa hangat.
Sebaliknya, kalau salah memanfaatkan cahaya, hasil foto bisa jadi terlalu gelap, terlalu terang, atau malah flat tanpa dimensi.
Berikut 6 cara sederhana untuk memaksimalkan cahaya alami supaya fotomu terlihat lebih estetik:
Golden hour itu waktu favorit banyak fotografer, bahkan yang profesional.
Biasanya terjadi dua kali sehari, setelah matahari terbit dan sebelum matahari terbenam.
Pada jam-jam ini, cahaya cenderung lembut, warnanya hangat, dan bayangannya tidak terlalu keras.
Hasilnya, foto potret jadi lebih glowing dan foto lanskap terlihat lebih dramatis.
Kalau kamu suka foto outdoor, cobalah bangun sedikit lebih pagi atau tunggu sampai menjelang magrib.
Kamu akan merasakan perbedaan hasil yang cukup jauh dibanding memotret di siang hari.
Baca juga: 7 Ide dan Teknik Fotografi Hujan: Panduan Cahaya, Refleksi, dan Komposisi
Memotret jam 12 siang memang membuat warna langit jadi biru dan cerah, tapi konsekuensinya bayangan jadi sangat kuat.
Area bawah mata, hidung, dan dagu biasanya jadi gelap, sehingga wajah tampak kurang enak dilihat.
Kalau terpaksa harus memotret di jam ini, jangan langsung berdiri di bawah matahari.
Cari tempat yang teduh seperti teras, bawah pohon, atau sisi bangunan.
Cahaya yang masuk ke area teduh biasanya sudah “terdifusi”, jadi lebih lembut dan merata di wajah.
Kalau kamu lebih sering foto di dalam kamar atau kos, jendela adalah sahabat terbaik.
Letakkan objek atau diri kamu di dekat jendela, lalu arahkan sedikit menyamping dari sumber cahaya.
Teknik ini bisa memberi efek dimensi di wajah, jadi tidak datar.
Kalau cahaya terlalu terang, kamu bisa akali dengan tirai tipis agar cahaya yang masuk lebih lembut.
Ini sudah mirip seperti softbox alami tanpa harus beli peralatan studio.
Backlight adalah ketika cahaya datang dari belakang objek.
Banyak orang mengira cara ini salah, padahal justru bisa menghasilkan foto yang artistik.
Kamu bisa mendapatkan siluet saat matahari terbenam, atau efek garis cahaya di sekitar rambut saat matahari berada sedikit di atas kepala.
Teknik ini cocok banget buat foto outdoor dengan dedaunan, rumput, atau rambut panjang yang tertiup angin.
Hasilnya akan terlihat lebih dreamy dan sedikit cinematic.
Cahaya depan membuat warna foto terlihat rata, cocok untuk foto produk atau makanan.
Sedangkan cahaya samping memberi efek tekstur dan kedalaman, misalnya pada foto wajah atau benda dengan permukaan tidak rata.
Kamu bisa coba berbagai arah cahaya: depan, samping, atas, atau belakang, lalu bandingkan hasilnya.
Dari situ lama-lama kamu akan tahu posisi mana yang paling cocok dengan gaya fotomu.
Fotografi itu sebenarnya soal kebiasaan melihat.
Semakin sering kamu memperhatikan perubahan cahaya dari pagi sampai sore, semakin peka juga instingmu saat memotret.
Coba pindah tempat, ubah sudut, jongkok sedikit, atau naik ke tempat lebih tinggi.
Kamu juga bisa memanfaatkan tembok putih sebagai reflektor alami untuk memantulkan cahaya ke wajah.
Baca juga: 5 Tips Fotografi untuk Pemula: Hasil Maksimal Tanpa Perlu Kamera Mahal
Singkatnya, kunci memaksimalkan cahaya alami bukan terletak pada teori yang rumit, melainkan pada keberanian untuk mencoba dan kepekaan membaca situasi.
Setiap tempat punya karakter cahaya yang berbeda, dan setiap momen menghadirkan nuansa yang unik.
Semakin sering kamu bereksperimen, semakin terlatih pula matamu menentukan waktu dan posisi terbaik untuk memotret.
Jadi, jangan terpaku pada kamera mahal atau preset editing, mulailah dengan memperhatikan sinar matahari di sekelilingmu.
Dari situ, foto yang estetik, hangat, dan “bernyawa” akan mengikuti dengan sendirinya. (MG Daffa Aisha Ramadhani)