47 Hari Terisolasi, Warga Ketol Bertahan dengan Tali Sling untuk Menyambung Hidup
January 12, 2026 12:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TribunGayo.com, TAKENGON - Akses transportasi di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah hingga kini masih terputus total pascabanjir bandang dan tanah longsor yang terjadi akhir November 2025.

Sudah 47 hari lamanya warga di sejumlah desa hidup dalam kondisi terisolasi akibat jembatan Berawang Gajah yang rusak dan belum kunjung diperbaiki.

Pantauan wartawan TribunGayo.com di lokasi, Minggu (11/1/2026) tampak warga harus menggunakan tali sling yang dibentangkan di atas aliran sungai sebagai satu-satunya akses keluar masuk desa. 

Dengan membawa hasil pertanian maupun kebutuhan pokok, warga satu per satu menyeberang secara bergantian. 

Cara ini sangat berisiko, namun terpaksa dilakukan demi bertahan hidup.

warga ketol gunakan tali sling 2
WARGA MENYEBRANGI SUNGAI - Seorang warga menyebrangi sungai mengangkut hasil panen di Berawang Gajah, Ketol, Kabupaten Aceh Tengah menggunakan tali sling, Minggu (11/1/2026). TribunGayo.com/Alga Mahate Ara

Desa-desa yang terdampak langsung antara lain Bergang, Karang Ampar, Pantan Reduk, Bintang Pepara, Buge Ara, Kekuyang, dan Burlah. 

Sedikitnya 3.844 jiwa saat ini masih berada dalam kondisi serba terbatas, baik untuk mobilitas, distribusi logistik, hingga akses layanan kesehatan.

“Kalau tidak pakai sling ini, kami tidak bisa ke mana-mana. Mau jual hasil kebun, belanja, bahkan berobat pun harus lewat sini,” ujar Rahmat salah seorang warga yang ditemui di lokasi.

Angkut Hasil Pertanian dengan Tali Sling

Tidak hanya digunakan untuk aktivitas warga, tali sling juga dimanfaatkan untuk mengangkut hasil pertanian seperti cabai, durian, dan kopi. 

Setiap hari, warga mempertaruhkan keselamatan demi membawa hasil panen keluar desa.

Kondisi ini semakin memukul perekonomian masyarakat. Kecamatan Ketol diketahui merupakan salah satu sentra penghasil cabai terbesar di Aceh Tengah. 

Namun, akibat terputusnya akses distribusi serta harga cabai yang saat ini masih berada dikisaran Rp18.000 per kilogram, pendapatan petani menurun drastis. 

Sebagian hasil panen bahkan terpaksa dijual murah atau tidak terserap pasar.

Listrik Masih Padam

Selain persoalan akses, pantauan di lapangan juga menunjukkan pemadaman listrik masih terjadi di sembilan desa.

Yakni Bah, Bintang Pepara, Burlah, Gelumpang Payung, Karang Ampar, Kekuyang, Pantan Reduk, Serempah, Bergang, dan Buge Ara. 

Pada malam hari, desa-desa tersebut gelap gulita dan aktivitas warga sangat terbatas.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait segera turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang mereka alami. 

Mereka mendesak agar jembatan segera dibangun kembali dan pasokan listrik dipulihkan, sehingga kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat Ketol dapat kembali berjalan normal. (*)

Baca juga: Setelah Sebulan Tanpa Air, TNI Pulihkan Akses Air Bersih Masyarakat Bur Lah Kecamatan Ketol

Baca juga: Sebulan Pascabencana, Warga Ketol Aceh Tengah Masih Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Darurat

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.