SURYA.CO.ID, SURABAYA - Bermula dari keisengan sekelompok pecinta gowes (bersepeda) di Surabaya pada 2016, Sub Jersey kini telah menjelma menjadi brand sport apparel ikonik di tanah air.
Bukan hanya merajai pasar domestik, menurut CEO Sub Jersey, Bagus Ramadani, produknya juga sukses menembus pasar premium internasional seperti Jepang dan Korea Selatan.
Seperti pebisnis lain, bisnis Bagus dimulai dari keresahan pribadi.
Baca juga: Rayakan HUT Kemerdekaan RI ke-80, Premier Place Hotel Surabaya Gelar Gowes Merdeka
Komunitas gowesnya merasa bahwa apparel sepeda hanya untuk kaum mentereng.
Pasalnya, kebanyakan brand baju sepeda itu merupakan produk asing yang diimpor ke tanah air.
Hal ini menjadi tantangan bagi komunitas yang ingin menyebarluaskan hobi bersepeda ke semua lapisan masyarakat.
"Kalau dari piramida, pasarnya cuma di puncak yang pasti sedikit. Jadi visi besarnya adalah menciptakan produk yang bisa dinikmati mulai dari kalangan bawah, menengah, sampai atas,’’ kata Bagus saat podcast Cerita Bersama Brand Lokal yang digelar JNE, Minggu (11/1/2026).
Awal konsep bisnis SUB Jersey memang ringan. Salah satu produk apparel pertamanya disebut 05AM.
Nama tersebut karena komunitas sepeda memang sering kali janjian di saat subuh pukul 05.00 untuk memulai olahraga.
Hal itu yang akhirnya melekat menjadi salah satu emblem yang paling dikenal.
Namun, titik balik kesadaran publik terhadap brand ini terjadi pada 2018.
Saat itu, Sub Jersey meluncurkan desain spesial bertema Hari Kemerdekaan Indonesia.
Alih-alih mengangkat motif Jawa yang umum, mereka justru mengeksplorasi kekayaan budaya Tongkonan dari Sulawesi dan Batik Mega Mendung Cirebon. Kini, mereka punya seri archipelago.
’’Desain yang dalam dan penuh makna ini langsung menarik perhatian besar dari komunitas gowes. Ini membuktikan bahwa konsumen menghargai produk dengan cerita dan identitas budaya yang kuat,’’ jelasnya.
Di tengah maraknya brand sport apparel baru, Bagus tak goyah. Dia menyebutkan dua kunci utama yang membuat brand-nya tetap relevan dan dipercaya.
Pertama, komitmen pada kualitas dan riset mendalam. Menurutnya, setiap produk Sub Jersey bukanlah hasil instan.
Dia tak mau hanya sekadar meniru produk yang sedang laris di pasaran.
Setiap lini produk melalui proses riset material dan desain yang panjang.
Bahkan, prosesnya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan.
Tujuannya satu: memastikan kenyamanan dan performa optimal bagi penggunanya di aktivitas spesifiknya.
Meskipun berbasis di Surabaya, omzet terbesar brand ini justru datang dari Jakarta.
Hal ini merupakan dampak dari pola belanja online yang meningkat semenjak pandemi.
Ini juga yang menjadi pertimbangan dari Sub Jersey menjaga kualitas produk sekaligus memilih JNE sebagai ekspedisi.
“Namanya orang belanja dengan harapan dapat produk yang bagus, ini yang kami jaga produknya bagus dan apalagi dikirim JNE selalu tepat waktu," ungkap Bagus.
Bahkan, kini pihaknya berhasil go internasional. Kemajuan itu memang tidak terduga.
Pada masa pandemi, seorang pesepeda asal Korea Selatan yang sedang berada di Indonesia membeli beberapa potong dan membawanya pulang.
Hal tersebut mendorong order dalam jumlah besar, yang kemudian terus berlanjut selama bertahun-tahun.
Jepang pun menyusul. Bahan produk Sub Jersey yang dirancang untuk iklim tropis Indonesia, ternyata sangat cocok dengan musim dingin di Jepang dan Korea Selatan.
’’Bahan kita yang elite itu ternyata di Jepang maupun di Korea Selatan itu lebih cocok daripada orang Indonesia karena di sana kan lebih dingin,’’ pungkas Bagus.