SRIPOKU.COM - Krisis finansial yang melanda Sriwijaya FC kini mencapai titik nadir. Klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan itu terancam bubar setelah gelombang eksodus pemain terus berlanjut, bahkan pelatih kepala Budi Sudarsono mengancam akan mundur jika gaji tak kunjung dibayarkan.
“Rencananya kalau tidak dibayar, saya juga mundur,” tegas Budi Sudarsono kepada Sripoku.com menanggapi kepergian para penggawa Sriwijaya FC, Selasa (13/1/2026).
Satu persatu pemain meninggalkan Sriwijaya FC jelang laga ke-16 Pegadaian Championship 2025/26, membuat pelatih kepala Budi Sudarsono ikut bereaksi.
Hengkangnya para pemain Sriwijaya FC ini dipicu krisis finansial yang tak berkesudahan membuat tekendalanya gaji pemain, pelatih yang sudah hampir memasuki bulan keempat.
Pasca laga ke-15 menghadapi Persekat Tegal, Sabtu (10/1/2026), 3 pemain serentak meninggalakan Sriwijaya FC.
Mereka itu Muhammad Farhan Rahman, Sutan Zico, Reza Pahlevi. Terakahir gelandang kiri Sriwijaya FC Fajri Ardiansyah, Senin (12/1/2026) ikut angkat kaki dari Elang Andalas pulang ke kampung halamnnya Polewali Mandar, Sulawesi Selatan.
Belum lagi, disusul pula oleh gelandang kiri Sriwijaya FC Fajri Ardiansyah dikabarkan meninggalakan skuat Sriiwjaya FC yang tengah bersiap menghadapi FC Bekasi City yang akan bertandingan di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jumat (16/1/2026) pukul 19.00 mendatang.
Fajri Ardiansyah yang coba dikonfirmasi Sripoku.com membenarkan dirinya pulang ke tanah kelahirannya Polewali Mandar, Sulawesi Selatan.
"Ya," jawabnya singkat ketika dihubungi ponselnya, Selasa (13/1/2026).
Namun sayangnya Fajri Ardiansyah enggan memberikan jawaban ketika ditanya lebih lanjut tentang alasan kepergiannya dari tim Sriwijaya FC yang saat ini mengalami krisis pemain dan krisis finansial serta terancam degradasi ke Liga 3 ini.
Fajri Ardiansyah pemilik jersey Sriwijaya FC nomor punggung 2 dikabarkan saat kepulangnnya ke Polewali tidak banyak bercerita dengan rekan-rekannya yang lain.
Seperti diketahui Fajri Ardiansyah kelahiran Polewali Mandar (Sulawesi Selatan), 9 Agustus 1999 sebelumnya diganjar kartu merah saat Sriwijaya FC dibantai PSPS Pekanbaru skor 2-5 pada laga ke-14 Pegadaian Championship 2025/26 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Minggu (4/1/2026) sore.
Seharusnya pada laga menghadapi FC Bekasi City yang akan bertandingan di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jumat (16/1/2026) pukul 19.00 mendatang, Fajri Ardiasnyah sudah bisa tampil kembali setelah sanksi kartu merahnya tidak bisa bermain pada laga menghadapi Persekat Tegal, Sabtu (10/1/2026) lalu.
Manajer Tim Sriwijaya FC, Eko Saputro ketika dikonfirmas terkait kepergian Fajri Ardiansyah, hingga kini masih belum memberikan penjelasan.
Hingga laga ke-15, tim Sriwijaya FC masih betah di peringkat 10 alias juru kunci klasemen sementara grup wilayah barat dengan raihan 2 poin. Terpaut 15 poin dengan Persekat Tegal (17 poin) di peringkat 9.
Krisis finansial yang melanda Sriwijaya FC terus berdampak serius terhadap keberlangsungan tim.
Satu per satu pemain eksodus meninggalkan Palembang, menyusul sebelumnya sejumlah nama seperti Rendi Juliansyah, Eros Dermawan, Jechson Felix Tiwu, Vieri Donny, Rafif, Ibnu Yazid, Al Muzanny, Ganjar Mukti, Reza Pahlevi, Sandhya Wiratama, hingga Sahbandi yang lebih dahulu meninggalkan SFC.
Kondisi tersebut kian diperparah dengan hengkangnya dua pilar utama Laskar Wong Kito, yakni Sutan Zico dan Farhan Rahman.
Sriwijaya FC, klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan yang pernah berjaya sebagai raksasa sepak bola nasional, kini berada di ambang kehancuran. Pengumuman resmi manajemen pada Rabu (7/1/2026) menjadi pukulan telak bagi pemain, pelatih, dan suporter setia Laskar Wong Kito.
Manajer tim Sriwijaya FC Fidesia Noor menyampaikan bahwa investor yang sebelumnya dijanjikan terpaksa menghentikan seluruh proses pendanaan akibat tekanan eksternal. Lebih mengejutkan lagi, Alexander Rusli, Komisaris Utama PT SOM sekaligus pemilik PT Digi Sport Asia, resmi menarik dukungan finansial per 31 Desember 2025.
Pengumuman resmi ini yang disampaikan Manajer Tim Sriwijaya FC saat ituFidesia Noor sempat diposting oleh salah satu pentolan kelompok suporter militan dalam status whatsappnya.
Dalam penjelasannya, antara lain menyebutkan untuk statu status pendanaan dan investor. Investor yang sebelumnya dijanjikan dan telah melalui proses komunikasi intensif terpaksa menghentikan seluruh proses pendanaan akibat adanya tekanan dari pihak eksternal.
Saat ini, manajemen Sriwijaya FC masih berupaya melakukan renegosiasi untuk mencari kemungkinan solusi, namun belum terdapat perkembangan yang signifikan.
Kemudian keputusan pendanaan oleh PT Digi Sport Asia miliknya Alexander Rusli yang juga menjabat Komisaris Utama PT SOM (Sriwijaya Optimis Mandiri) selaku manajemen pengelola Sriwijaya FC.
Usai mengumumkan ini, Fidesia Noor mengundurkan diri dari jabatan Manajer Tim Sriwijaya FC dan digantikan Eko Saputro, bos Ereight Apparel.
Kini pengusaha kelahiran Bogor, 27 November 1987 mempersiapkan diri merogoh kocek untuk menangani tim Sriwijaya FC kedepannya.
"Jadi untuk masalah gaji ini kalau dibilang sangat-sangat minim sekali. Mudah-mudahan saya bisa membantu Sriwijaya FC ini dari segi operasional gaji tim, dan sedikit-sedikit saya untuk membantu operasional tim. Kayak laga away," kata Eko Saputro lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan.
Baca juga: Tak Mau Sriwijaya FC Bubar, Kiper Rangga: Semoga Ada Kabar Baik!
Eko Saputro yang hobi olahraga basket dan sepakbola juga tercatat sebagai pendiri sejumlah perusahaan lain, di antaranya PT Eco Multi Sinergi, PT Eco Metalindo Indonesia, CV Eco Karya Solusi, Fiberco, serta 8Essentials. Aktivitas bisnis tersebut menjadikannya figur entrepreneur yang cukup berpengaruh di Sumatera Selatan.
Eko Saputro mengaku masih belum memastikan kisaran budget yang disiapkan baik itu belanja pemain baru, operasional Sriwijaya FC hingga akhir menjalani kompetisi Pegadaian Championship 2025/26 nanti.
"Kayaknya itu belum, masih dibedah lagi dengan Pak Anggoro. Sekarang kita ngalir dulu aja supaya tidak WO aja," ucap Eko Saputro yangj uga Manajer Tim PSB Bogor.