Di tengah kepungan banjir dan longsor, Sri Rahayu, seorang bidan desa, dihadapkan pada situasi yang nyaris tak terbayangkan. Kalau itu, ia harus membantu proses persalinan seorang ibu hamil dengan kondisi bayi sungsang, saat akses rujukan ke fasilitas kesehatan sudah terputus total.
"Sebetulnya pasien itu harus dirujuk karena posisi bayinya kalau keluar bokong-nya lebih dulu," beber Sri Rahayu saat ditemui di posko pemeriksaan kesehatan Desa Lubuk Sidup, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (13/1/2026).
Kondisi sungsang membuat persalinan berisiko tinggi. Namun, rencana rujukan urung dilakukan karena banjir sudah meninggi dan longsor menutup seluruh akses keluar desa.
Air terus naik, hujan tak berhenti. "Pas mau dirujuk itu sudah nggak bisa lagi. Air sudah banyak, habis itu longsor, jadi memang nggak bisa keluar," tuturnya.
Sekitar pukul 22:00 malam waktu setempat, warga mulai dievakuasi. Sri Rahayu mendapat panggilan darurat. Tanda-tanda persalinan sudah jelas, sementara keluarganya sendiri belum sempat dievakuasi.
"Ya dilema lah. Tapi setelah diperiksa, saya tetap dampingi," katanya.
Dengan kondisi seadanya, tanpa alat medis lengkap, Sri Rahayu bersama seorang perawat berusaha semaksimal mungkin. Persalinan berlangsung berjam-jam hingga akhirnya, sekitar pukul 02.30 dini hari, bayi lahir secara normal meski dalam posisi sungsang.
"Alhamdulillah setengah tiga lahir," ucapnya lirih.
Tak lama setelah persalinan, situasi semakin memburuk. Air terus meninggi, dan sekitar pukul 04.30 pagi, rumah-rumah warga mulai hanyut terbawa arus banjir. Proses persalinan dilakukan di rumah warga yang posisinya relatif lebih tinggi sehingga tidak terendam air.
Keterbatasan alat menjadi tantangan tersendiri. Sri Rahayu mengaku tidak membawa perlengkapan medis lengkap saat itu. "Alat-alat nggak kebawa. Perawat cuma bawa gunting kecil sama klem," katanya. Bahkan, tali pusar bayi terpaksa diikat menggunakan tali goni.
"Dengan kondisi seperti itu ya pasrah, tapi tetap berusaha yang terbaik," ujarnya.
Usai persalinan, evakuasi pun dilakukan. Sang ibu yang baru melahirkan harus dievakuasi sambil menggendong bayinya. "Di pabrik itu dievakuasi, bayinya dibopong, ibunya kondisi baru melahirkan," tutur Sri.
Perasaan cemas masih menyelimuti pikirannya kala itu, terutama karena belum mengetahui kondisi keluarganya sendiri. Namun di tengah ketakutan dan keterbatasan, ia memilih bertahan menjalankan tugasnya sebagai bidan desa.
Sudah 13 tahun Sri menjadi bidan desa di wilayah tersebut. Pengalaman malam itu menjadi salah satu momen paling berat sepanjang pengabdiannya, sekaligus pengingat akan peran vital tenaga kesehatan di garis terdepan, terutama saat bencana datang tanpa mengetahui peringatan sebelumnya.







