Pernahkah merasa tubuh baik-baik saja, tetapi pikirannya dipenuhi dengan ketakutan akan penyakit yang serius? Kondisi ini mungkin bukanlah hal yang receh.
Kondisi ini kerap disebut sebagai health anxiety atau kecemasan berlebihan terkait kesehatan. Ini muncul saat seseorang yang secara medis sehat, tetapi merasa sakit meski tidak menunjukkan gejala yang signifikan.
Rasa cemas ini dapat muncul dari sensasi tubuh ringan, seperti pusing sesaat, nyeri kecil, atau perubahan fisik yang sebenarnya wajar. Psikolog menjelaskan rasa cemas pada dasarnya merupakan respons alami tubuh untuk melindungi diri.
Namun, saat kecemasan muncul terus-menerus, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diwaspadai.
Hal yang Jadi Pemicu
Di era digital, kecemasan kesehatan semakin mudah dipicu. Akses informasi medis yang luas membuat banyak orang terbiasa melakukan diagnosis mandiri melalui internet.
Fenomena ini dikenal sebagai cyberchondria, yakni kebiasaan mencari informasi kesehatan secara berlebihan hingga memicu kepanikan. Bukannya menenangkan, informasi yang tidak terkurasi justru memperkuat asumsi terburuk.
Seseorang bisa dengan mudah mengaitkan gejala ringan dengan penyakit serius, lalu terjebak dalam lingkaran cemas yang berulang.
Psikolog menilai, semakin sering seseorang mencari kepastian lewat internet, semakin sulit pula rasa cemas itu mereda. Akibatnya kualitas hidup menurun, mulai dari sulit fokus, mudah lelah secara mental, hingga terganggunya hubungan sosial.
Health Anxiety, Bukan Khawatir Biasa
Health anxiety dapat diklasifikasikan sebagai illness anxiety disorder, Somatidia symptom disorder, atau berkaitan dengan obsession compulsive disorder (OCD). Orang yang mengalaminya kerap memeriksa tubuh berulang kali, mencari validasi dari orang lain, atau bolak-balik melakukan pemeriksaan medis meski hasilnya normal.
Salah satu pendekatan yang banyak digunakan untuk menangani kondisi ini adalah terapi perilaku kognitif, khususnya metode exposure response prevention (ERP). Terapi ini membantu pasien belajar menerima ketidakpastian kesehatan, tanpa menuruti dorongan kompulsif.
"Keterampilan perilaku kognitif mengajarkanmu bagaimana memiliki pikiran (mengganggu) tersebut, tidak melakukan tindakan apapun, dan menerima bahwa kamu tidak tahu apakah kamu sakit atau tidak," terang psikolog Kata Moritz, PhD.
"Kamu akan membangun kekuatan ini, semacam otot mental, sehingga saat pikiran itu muncul lagi, ia tidak akan menyakitimu lagi," sambungnya, dikutip dari
Lantas, bagaimana caranya agar terhindar dari health anxiety?
1. Batasi Waktu Mencari Informasi Kesehatan di Internet
Tetapkan durasi khusus saat mencari informasi medis dan hindari pencarian berulang yang tidak perlu.
2. Sadari Rasa Cemas yang Muncul Tidak Membuat Tubuh Lebih Sehat
Kekhawatiran berlebihan tidak mencegah penyakit, malah dapat memperburuk kondisi mental.
3. Kenali Pemicu Kecemasan
Hal tentang kesehatan di internet, cerita orang lain, atau sensasi tubuh tertentu bisa memicu kepanikan. Maka dari itu, perlu mengenali pemicunya untuk membantu memutus siklus cemas.
4. Jangan Selalu Menuruti Dorongan untuk Mengecek Tubuh
Terlalu sering memeriksa kondisi fisik malah bisa jadi pemicu yang memperkuat kecemasan.
5. Pertimbangkan Bantuan Profesional
Jika kecemasan sudah mengganggu pekerjaan, hubungan, atau aktivitas sehari-hari, berkonsultasi dengan psikolog atau terapis juga sangat disarankan.







