SURYA.CO.ID, KEDIRI - Pemkab Kediri terus mengintensifkan pengawasan pembangunan Pasar Ngadiluwih yang hingga pertengahan Januari 2026 belum juga rampung.
Dalam monitoring dan evaluasi (monev) pekan ke-38 ini, Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri mencatat progress fisik proyek tersebut telah mencapai 97,7 persen.
Kepala Disdagin Kediri, Tutik Purwaningsih mengatakan, evaluasi dilakukan setiap Selasa melalui rapat mingguan (weekly meeting) dan dilanjutkan dengan peninjauan langsung ke lapangan.
Dari hasil pemantauan terbaru, progress pekerjaan dinilai belum sesuai dengan rencana kerja atau time schedule yang telah disepakati sebelumnya.
Pantauan di lokasi, beberapa bagian yang saat ini telah digenjot pembangunannya adalah bagian pagar depan pasar. Selain itu juga penambahan fasilitas di los pasar dan juga beberapa finalisasi bangunan.
"Hari ini kami melakukan monitoring di lapangan. Dari laporan konsultan pengawas, progress sudah di angka 97,7 persen. Tetapi kalau dibandingkan action plan yang sudah dibuat sejak awal, itu masih kurang memenuhi," kata Tutik saat ditemui usai meninjau lokasi Pasar Ngadiluwih, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, salah satu persoalan utama yang menghambat percepatan pekerjaan adalah minimnya jumlah tenaga kerja di lapangan.
Dari 13 titik pekerjaan yang masih tersisa, jumlah personel yang terlibat dinilai belum ideal untuk mengejar target penyelesaian.
"Dari evaluasi hari ini, jumlah pekerja masih kurang. Totalnya hanya sekitar 51 orang yang tersebar di 13 titik pekerjaan. Ini jelas tidak cukup kalau mau mengejar percepatan. Idealnya 100 pekerja," ujarnya.
Selain tenaga kerja, ketersediaan material juga menjadi catatan penting. Tutik menyebut, beberapa material sebenarnya sudah siap sejak awal, namun belum terpasang hingga kini sehingga ikut memperlambat laju penyelesaian proyek.
"Material juga masih ada yang kurang dan ada yang sudah siap ettapi belum terpasang, seperti pintu masuk dan beberapa komponen lainnya. Ini semua mempengaruhi progress," jelasnya.
Tutik menambahkan, keterlambatan proyek ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor sejak awal pelaksanaan.
Mulai persoalan perencanaan, kesiapan kontraktor, hingga kinerja konsultan pengawas yang belum optimal dalam mengawal mutu dan kecepatan pekerjaan.
"Ini bukan masalah satu pihak saja. Ada perencanaan, ada kontraktor, ada konsultan pengawas, dan kami selaku direksi. Perubahan di lapangan itu wajar, tetapi bagaimana menyikapinya yang menentukan cepat atau tidaknya pekerjaan," ungkap Tutik.
Sesuai kontrak awal, pembangunan Pasar Ngadiluwih seharusnya selesai pada 23 Desember 2025 lalu.
Namun karena belum rampung, kontrak diperpanjang selama tujuh hari hingga 30 Desember 2025. Pada tanggal tersebut, pekerjaan pun belum sepenuhnya tuntas.
"Kami sudah evaluasi tanggal 30 Desember, tetapi masih ada pekerjaan tambahan yang belum selesai. Karena itu kontraktor mengajukan permohonan kesempatan waktu," katanya.
Setelah melalui analisis konsultan pengawas dan konsultasi dengan berbagai pihak, termasuk Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), pemda akhirnya memberikan kesempatan tambahan selama 30 hari terhitung sejak 31 Desember 2025.
"Kesempatan 30 hari itu diberikan dengan sistem denda. Jumlahnya 1/1000 dari nilai kontrak proyek atau Rp 23 juta per hari. Harapannya, kontraktor bisa menambah pekerja, memperbaiki metode kerja, dan mempercepat progress," ucap Tutik.
Namun hingga pertengahan Januari ini, Disdagin menilai kesempatan tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal oleh kontraktor. Tidak terlihat peningkatan signifikan baik dari sisi jumlah tenaga kerja maupun strategi percepatan.
"Terus terang, sampai hari ini kami belum melihat perubahan berarti. Pekerja tidak bertambah, metode kerja juga belum berubah signifikan. Padahal banyak titik yang seharusnya bisa dikerjakan lebih cepat," tegasnya.
Tutik menyatakan pemerintah daerah berharap proyek Pasar Ngadiluwih bisa benar-benar rampung pada 29 Januari 2026, sesuai dengan masa kesempatan yang diberikan.
Namun jika target tersebut kembali meleset, ada sejumlah opsi yang akan ditempuh sesuai kewenangan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).
"Kami berharap tanggal 29 Januari bisa selesai. Tetapi kalau tidak, tentu ada opsi dan langkah yang sudah kami siapkan sesuai aturan, termasuk penilaian terhadap kinerja kontraktor," pungkasnya.
Sebagai informasi, Pasar Ngadiluwih nantinya akan menampung total 702 pedagang, dengan 47 kios dan 11 area kuliner. Proyek ini menelan anggaran Rp 23,8 miliar dan diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru di Kabupaten Kediri wilayah selatan.
Pasar ini hampir sama konsepnya dengan Pasar Wates dan penyelesaiannya menjadi perhatian serius pemerintah daerah. *****