TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Relawan menceritakan detik-detik penemuan jasad Syafiq Ridhan Ali Razan alias Syafiq Ali (18), siswa kelas 12 SMAN 5 Kota Magelang, yang hilang selama 17 hari di Gunung Slamet. Ia ditemukan di jurang berbatu kawasan Pos 9 Watu Langgar, jalur Gunung Malang, Pemalang, Jawa Tengah, Rabu (14/1/2026).
Gunung Slamet menjulang setinggi 3.432 mdpl, menjadi puncak tertinggi di Jawa Tengah sekaligus salah satu yang paling menantang di Pulau Jawa.
Berada di perbatasan Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes, gunung berapi aktif ini kini berstatus Level II (Waspada) menurut PVMBG. Meski berbahaya, Slamet tetap menjadi favorit para pendaki.
Di balik kabut tebal dan medan terjal Gunung Slamet, penemuan Syafiq Ali usai 17 hari hilang menyimpan detail mengejutkan, termasuk hadirnya anak dengan kemampuan indera keenam atau indigo.
Kabut pekat menyelimuti lereng Gunung Slamet ketika tim relawan independen menyisir jalur punggungan.
Udara dingin menusuk, langkah terasa berat, dan hanya suara ranting serta hembusan angin yang menemani perjalanan sunyi itu.
Sekitar pukul 10.22 WIB, perjalanan panjang menemukan ujungnya.
Di antara bebatuan jurang, tubuh Syafiq tampak terbaring tengkurap.
Hening seketika menyelimuti tim, sebelum akhirnya kabar itu disampaikan melalui handy talkie dan terekam kamera ponsel.
“Alhamdulillah .., ya Allah,” teriak seorang relawan, menandai momen penuh haru yang tak terlupakan.
Informasi resmi segera dibagikan lewat akun @slametviabambangan:
“Alhamdulillah, survivor atas nama Syafiq Ridhan Ali Razan ditemukan. Ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di daerah lereng puncak sebelah selatan antara jalur Gunung Malang dan Baturraden. Saat ini masih dalam proses evakuasi.”
Evakuasi berlangsung dramatis.
Medan terjal membuat perjalanan menuju titik penemuan memakan waktu enam jam, sementara proses membawa jenazah turun diperkirakan mencapai 12–15 jam.
Lokasi penemuan ternyata tak jauh dari titik ditemukannya Himawan (18), rekannya yang sebelumnya berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Baca juga: Guru SMK di Jambi Tampar Siswa Berujung Dikeroyok, Korban Mengaku 2 Tahun Dibully Siswa
Kabar penemuan segera diteruskan.
Tim Basarnas Jawa Tengah bersama relawan bergegas menuju lokasi lewat jalur Gunung Malang yang terjal dan berkabut. Jenazah dibawa turun menuju Dukuh Gunung Malang, diperkirakan tiba sore hari sebelum akhirnya dibawa ke RSUD Goeteng Purbalingga untuk pemeriksaan.
Di Magelang, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Catur Budi Fajar Sumarmo, menyebut evakuasi dari titik penemuan ke Basecamp Dipajaya butuh waktu sekitar 15 jam. Setelah itu, jenazah Syafiq akan dibawa ke RSUD dr M Ashari Pemalang untuk dimandikan.
Komandan Basarnas Jawa Tengah, Andika, menegaskan Syafiq ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Ia menduga korban mengalami hipotermia, kedinginan ekstrem di ketinggian.
“Kondisi celana korban sudah terlepas dari badan pendaki saat ditemukan,” ujarnya.
Di tengah kabut dan dingin yang membekukan, pencarian panjang Syafiq akhirnya berakhir.
Sebuah perjalanan yang menutup dengan duka, sekaligus pengingat betapa ganasnya alam Gunung Slamet bagi siapa pun yang menantangnya.
Syafiq dan Himawan memulai pendakian Gunung Slamet melalui jalur Dipajaya pada Sabtu (27/12/2025).
Keduanya sempat beristirahat di Pos 5. Saat itu, Himawan mengalami kram pada kakinya sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan. Ia meminta Himawan menunggu di Pos 5.
Namun, setelah berpisah, Syafiq tak pernah kembali.
Himawan akhirnya bergerak naik menuju Pos 9, bertahan di ketinggian sekitar 3.183 meter di atas permukaan laut (mdpl), sebelum ditemukan selamat oleh tim relawan pada 30 Desember 2025.
Sementara itu, pencarian terhadap Syafiq terus dilakukan hingga akhirnya ia ditemukan meninggal dunia di kawasan yang tidak jauh dari lokasi Himawan bertahan.
Ketua Operasi SAR Wanadri, Arie Affandi, memperkuat dugaan bahwa Syafiq meninggal akibat hipotermia.
Ia menjelaskan korban kemungkinan baru meninggal empat hingga lima hari sebelum ditemukan.
“Korban sepertinya baru saja meninggal dunia. Perkiraan kami sekitar empat sampai lima hari. Kondisi tubuh korban masih cukup baik,” jelasnya.
Di sekitar lokasi penemuan juga ditemukan perlengkapan pendakian milik Syafiq, seperti dompet, tracking pole, senter, emergency blanket, dan perlengkapan lainnya.
Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa Syafiq berusaha bertahan, namun tidak mampu melawan suhu ekstrem di ketinggian Gunung Slamet.
Meski operasi pencarian resmi ditutup pada 7 Januari 2026, sejumlah relawan tetap bergerak secara mandiri. Mereka melakukan pencarian bergilir dengan sistem shifting, menyisir jalur-jalur yang sulit dijangkau.
Pada Sabtu (10/1/2026), pencarian sempat melibatkan Rival Altaf, seorang anak indigo yang sebelumnya viral karena membantu tim SAR menemukan korban longsor di Cilacap dan Banjarnegara.
Kehadiran Rival kembali memicu perdebatan publik tentang penggunaan intuisi supranatural dalam operasi pencarian darurat.
Rival bersama delapan relawan bergerak menuju Pos 5 sekitar pukul 16.30 WIB.
Mereka mencoba menembus kabut tebal dan medan terjal untuk melanjutkan pencarian.
Meski hasil pencarian saat itu belum membuahkan hasil, keterlibatan Rival menjadi sorotan tersendiri di tengah upaya menemukan Syafiq.
Relawan lain menuturkan, lokasi penemuan Syafiq Ali sebenarnya sudah pernah disisir sebelumnya.
Namun, cuaca buruk dan jarak pandang terbatas membuat pencarian nihil.
Baru pada Rabu (14/1/2026), titik terang muncul ketika tim relawan independen akhirnya menemukan Syafiq di jurang berbatu kawasan Pos 9, Watu Langgar.
Penemuan jenazah Syafiq Ali menutup pencarian panjang penuh harap.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa pendakian menuntut persiapan matang dan disiplin keselamatan.
Komunitas pendaki menekankan pentingnya prosedur resmi, sementara pemerintah daerah mengingatkan perlengkapan standar wajib dipenuhi. (Tribunnews.com/TribunJateng.com/Tribunbanyumas.com/Kompas.com)